Iman, Ilmu, dan Amal

Published by Buletin Al Anwar on

KH. M. Baidhowi Muslich

Orang yang benar-benar  bertaqwa kepada Allah akan mendapat jaminan isti-mewa dari Allah yaitu tidak akan takut dan khawatir dalam menghadapi kehidupan yang akan dating di negeri akhirat, dan tidak akan susah atau perihatin untuk mening-galkan kehidupan duniawi ini. Mereka selalu gembira dan optimis, tidak susah dan pesi-mis walaupun menghadapi situasi seperti apapun. Allah menyatakan dalam Al-Qur’an:

“Ingatlah, Sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati {62}. (yaitu) orang-orang yang ber-iman dan mereka selalu bertakwa {63}. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehi-dupan} di akhirat. tidak ada perobahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. yang demikian itu adalah kemenangan yang besar {64}”. (Qs Yunus: 62-64)

                Didalam meningkatkan taqwa kepada Allah, seseorang tidak bisa melepaskan diri daripada tiga hal yang tidak bisa dipisah-pisahkan antara satu dengan yang lain, tiga hal dimaksud yaitu: Iman, Ilmu, dan Amal. Ibarat sebatang pohon yang baik dan sempurna adalah pohon yang bisa berbuah dan buah itu bermanfaat. Iman adalah ibarat pohon atau batangnya, dan amal adalahbuahnya, sedangkan ilmu adalah bagaikan situasi atau keadaan yang menyebabkan pohon itu bisa subur dan berbuah.

                Buah selamanya tidak akan ada tanpa adanya pohon, sedang pohon tidak akan sempurna manakala tidak berbuah. Selanjutnya pohon itu tidak akan subur dan berbuah tanpa adanya situasi yang memung-kinkannya seperti: tanah yang subur, air dan udara yang cukup, serta sinar matahari yang memadai. Demikian pulalah dengan Iman, Amal, dan Ilmu. Hanya dengan iman atau keyakinan saja belum cukup dan kurang manfaat tanpa adanya amal perbuatan yang baik. Perbuatan yang baik tidak aka nada artinya kalau tidak didasari dengan iman. Selan-jutnya iman bisa menjadi subur dan kuat, amal bisa menjadi sah dan diterima jika ditunjang dengan ilmu.

                Sebagai contoh konkrit yaitu: sese-orang mau menegakkan shalat lima waktu, sebab orang itu iman dan percaya shalat itu akan  dihisab dan akan ditanyakan pertama kali nanti pada waktu hari kiamat. Orang mau berpuasa karena ia percaya bahwa puasa akan membuahkan disiplin dan taqwa. Orang mau jujur sebab ia yakin bahwa jujur itu bisa membawa keselamatan di dunia maupun di akhirat. Semua itu dikerjakannya sebab adanya ilmu yang dimiliki oleh seseorang tersebut. Perumpamaan Allah dalam Al-Qur’an surat Ibrahim ayat 24-25 adalah sebagai berikut:

“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kali-mat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit {24}. Pohon itu memberikan buahnya pada Setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat {25}”. (QS Ibrahim: 24-25)

                Diantara tiga hal tersebut yang akan kita tekankan disini adalah Ilmu, dan terlebih lagi adalah amal, sebab dengan bertambahnya ilmu dan meningkatnya amal ibadah, maka iman yang terkandung di dalam hati akan menjadi subur dan ko-koh. Tentang pentingnya ilmu, Allah memerintahkan kepada Nabi agar Nabi suka berdo’a: rabbi zidni ilma (“Ya Tuhanku, tambahlah aku ilmu”)

                Memang ilmu adalah Roh daripada islam. Jangan harap orang menjadi muslim yang baik jika tidak mengerti tentang agama-nya. Jangan harap suatu masyarakat menjadi menjadi masyarakat yang baik, jika di tempat itu tidak ada pengkajian tentang agama.

                Kemudian tentang pentingnya ilmu amal, islam adalah agama yang sangat meng-utamakan amal bahkan menganjurkan sema-ngat beramal. Islam melarang ummatnya me-nganggur dan bermalas-malasan. Namun seba-liknya, islam memerintahakan agar ummatnya beramal menurut cara dan kemampuannya masing-masing. Allah berfirman:

“Dan apabila Kami berikan kesenangan kepada manusia niscaya berpalinglah dia; dan membelakang dengan sikap yang som-bong; dan apabila Dia ditimpa kesusahan niscaya Dia berputus asa.”(QS Al-Israa: 83)

                Yang punya harta bisa beramal dengan hartanya, yang punya ilmu bisa beramal dengan ilmunya, yang pandai menulis dengan tulis-annya, dan yang punya kekuasaan dengan kekuasaannya, demikianlah seterusnya. Perlu kita ketahui bahwa Nabi kita Muhammad SAW adalah penganjur sekaligus pelopor untuk ber-amal nomor wahid. Beliau telah beramal dan berjuang untuk kepentingan agama, kepen-tingan kemanusiaan, kesucian, serta keadilan dikalangan ummat manusia. Allah SWT menyatakan dalam kitab sucinya:

Katakanlah: “Hai kaumku, berbuatlah sepe-nuh kemampuanmu, Sesungguhnya akupun berbuat (pula). kelak kamu akan menge-tahui, siapakah (di antara kita) yang akan memperoleh hasil yang baik di dunia ini. Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu tidak akan mendapatkan keberuntung-an.(QS. Al-An’am: 135)

                Semangat beramal inilah yang menyebabkan ummat islam di zaman Nabi dan zaman keemasan islam mengalami kemajuan dan kejayaan. Hanya dengan semangat beramallah kebenaran dan keindahan ajaran islam benar-benar dapat dibuktikan, seperti: roda kehidupan masya-rakat berjalan lancar, tempat-tempat ibadah tampak rapi dan terpelihara, lambing kelu-huran islam berdiri dengan tegak dan megah. Sebaliknya, jika sema-ngat beramal menjadi melempem, maka jiwapun juga menjadi melempem, dan ummat islam niscaya akan menjadi mundur dan diting-galkan oleh zaman.

                Akhirnya, berbahagialah orang yang beriman dan banyak amal, dan celakalah orang yang ingkar dan tidak punya amal. Firman Allah SWT:

“Dan Adapun orang-orang yang berat tim-bangan (kebaikan)nya {6}. Maka Dia ber-ada dalam kehidupan yang memuas-kan {7} Dan Adapun orang-orang yang ringan timbangan (kebaikan)nya {8}. Maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah {9}”. (QS Al Qari’ah: 6-9)

                Semoga Allah menjadikan kita termasuk golongan orang-orang yang kuat imannya, banyak dan manfaat ilmunya, serta berat timbangan amalnya kelak dihadapan Allah SWT. Amin yaa mujibassailin.


0 Comments

Leave a Reply