I’robnya Sang Penuntut Ilmu

Published by Buletin Al Anwar on

Oleh: Mohammad Sofi Anwar

Ketika menuntut ilmu jadilah kasrah, kasara artinya menghancurkan dirimu. Lalu jadilah dhommah, dhommah artinya mendekap semua ilmu berusaha mempelajari semuanya. Kemudian jadilah sukun, artinya tenang. Tenangkanlah jiwamu. Maka pada akhirnya kamu akan mendapatkan fathah. Fataha artinya dibukakan jalanmu dan kelapanganmu oleh Allah SWT.

(Habib Umar Muthahar)

Ketika kita mendengar kata i’rob, pasti yang terlintas di pikiran kita adalah rofa’, nashob, khofadh dan tetek bengeknya. I’rob merupakan salah satu obyek pembahasan dalam ilmu nahwu, suatu ilmu yang menjadi momok bagi sebagian pembelajar bahasa Arab. Namun pada tulisan ini, penulis tidak membahas kajian nahwu maupun i’rob. Tulisan ini membahas sisi lain yang bisa diambil pelajaran dari sekelumit kaidah i’rob.

Tulisan ini berawal ketika penulis menjelajahi akun instagram dan melihat beberapa postingan dari teman-teman. Di antara postingan yang penulis lihat ada satu postingan yang menarik, yaitu postingan dari salah seorang teman yang mengutip perkataan Habib Umar Mutahar. Kurang lebih seperti ini perkataan beliau “Ketika menuntut ilmu, jadilah kasrah, kasara artinya mengahancurkan dirimu!. Lalu dhommah, dhomma artinya mendekap semua ilmu berusaha mempelajari semuanya. Lalu sukuun, artinya tenang. Tenangkanlah jiwamu. Maka pada akhirnya kamu akan mendapatkan fathah. Fataha artinya dibukakan jalanmu dan kelapanganmu oleh Allah SWT”.

Berawal dari postingan tersebut, penulis ingin menjabarkan kutipan Habib Umar tersebut ke dalam beberapa kalimat. Media sosial seperti intagram, whatsApp, facebook, dan lain sebagainya memang menjadi sarana dakwah yang bagus di era revolusi industri seperti sekarang ini. Semoga bermanfaat

  • Jadilah kasroh

Kasrah adalah salah satu tanda i’rob khofad. Secara bahasa, kasrah berasal dari kata kasara yang bermakna pecah atau perpecahan. Sedangkan kata khofadh bermakna kerendahan atau kehinaan. Artinya dalam menuntut ilmu, hendaknya berniat untuk menggapai ridho Allah, menghilangkan kebodohan, dan menghidupkan agama Islam. Tidak dibenarkan menuntut ilmu dengan niat kesombongan, mengalahkan teman, atau agar disebut orang ‘alim. Seorang penuntut ilmu tidak boleh merasa lebih baik dari orang lain atas bidang ilmu yang dikuasainya. Oleh karenanya seorang penuntut ilmu hendaknya memiliki sifat Tawadhu’. Dalam Syarah Ta’lim Muta’alim disebutkan bahwa وَالتَّوَضُعُ يَيْنَ التَّكَبُّرْ وَالمُذَلَّةِ , artinya tawadhu’ adalah memposisikan diri antara sifat sombong dan hina. Jika kita memiliki sifat sombong dalam menuntut ilmu, menandakan bahwa kita telah merobohkan agama kita sendiri dan tanpa disadari kita telah menjual agama dengan dunia. Padahal tidak seimbang kehidupan akhirat yang begitu indah, agung, dan mahal ditukar dengan kehidupan dunia yang rendah. Segala sesuatu yang kita kumpulkan atas nama dunia pada akhirnya ditinggal mati (KH. Baidowi Muslich, 2018).

Muhammad Abdurrouf Al Munawi dalam kita Faid Al Qodir yang merupakan syarah Al Jami’ Al Soghir menerangkan bahwa:

تَعَلَّمُوْا العِلْمَ، وَتَعَلَّمُوْا لِلْعِلْمِ السَّكِيْنَةَ وَالوَقَارَ، وَتَوَاضَعُوْا لِمَنْ تَعَلَّمُوْنَ مِنْهُ (وَتَوَاضَعُوْا لِمَنْ تَعَلَّمُوْنَ مِنْهُ)

            Belajarlah kalian semua, dan belajarlah kalian semua dengan tenang dan khidmah, serta rendahkan diri kalian terhadap orang yang mengajari kalian.

Seorang penuntut ilmu tidak boleh meremehkan gurunya walaupun guru tersebut seusia atau lebih muda. Jika meremehkan guru yang lebih muda saja tidak boleh, apalagi meremehkan guru yang lebih sepuh. Oleh karenanya seorang murid tidak akan mendapat ilmu serta manfaat dari apa yang dikajinya kecuali jika dibarengi dengan rasa hormat terhadap ilmu yang sedang dikaji, juga guru yang telah mengajarnya. Hal ini sebagaimana dikisahkan dalam QS. Al Baqarah ayat 34 yang menyatakan bahwa iblis adalah makhluk yang alim. Tapi kealimannya tidak bermanfaat karena tidak mau mengagungkan nabi Adam atas perintah Allah.

  • Jadilah dhommah

Dhommah merupakan salah satu tanda dari i’rob rofa’. Dhommah artinya berkumpul, bersatu. Artinya seorang penuntut ilmu harus memiliki keinginan untuk mempelajari semua ilmu, dalam hal ini ilmu yang baik bukan ilmu semacam ilmu hitam. Dalam kitab ta’lim muta’allim, kita diwajibkan mempelajari ilmu tauhid, fikih, dan tasawuf. Ilmu tauhid berkenaan dengan bagaimana cara kita mengenal Allah dan bagaimana cara mengimaninya. Sedangkan ilmu fikih mengajarkan kita tentang tata cara ibadah yang baik dan benar sehingga diterima oleh Allah. Adapun ilmu tasawuf mengajarkan kita bagaimana mendekatkan diri kepada Allah.

Dalam sumber yang lain disebutkan bahwa seorang penuntut ilmu hendaknya mempelajari ilmu dunia dan akhirat secara seimbang. Orang yang hanya mempelajari ilmu dunia tanpa mempelajari ilmu akhirat seperti orang buta, sedangkan orang yang mempelajari ilmu akhirat tanpa ilmu dunia seperti orang yang pincang. Ilmu dunia adalah ilmu yang berkaitan dengan dunia. Dengan ilmu dunia seseorang dapat menjaga kelangsungan hidupnya di dunia. Seperti kita mempelajari matematika, IPA, IPS, dan bahasa Inggris. Matematika mengajarkan kita berhitung sehingga kita bisa menentukan jarak antara kota A dan kota B misalnya. Sedangkan IPA mengajarkan kepada kita bagaimana pergerakan matahari dan bumi sehingga kita bisa menyaksikan fenomena pergantian siang dan malam. Selain itu ilmu berorientasi pada dunia juga berguna untuk menjaga kelangsungan hidup manusia. Misalnya seorang pedagang pasti memiliki ilmu perdagangan baik ilmu itu didapat secara formal maupun nonformal. Dengan memiliki ilmu perdagangan seseorang bisa bekerja sebagai pedagang. Selain untuk memenuhi kehidupan dirinya dan keluarga juga membantu orang lain memenuhi kehidupan sehari-hari melalui barang dagangannya

Sedangkan ilmu akhirat berorientasi dengan akhirat atau agama seperti Al Quran Hadits, akidah akhlak, bahasa Arab, dan lain sebagainya. Seseorang perlu belajar Al Quran karena Al Quran adalah sumber hukum pertama dalam Islam. memelajari Al Quran seperti bagaimana cara membacanya, cara memahami isinya, dan bagaimana cara mengajarkannya. Untuk memahami Al Quran kita juga harus mempelajari bahasa Arab karena Al Quran ditulis dalam bahasa Arab. Tanpa mempelajari bahasa Arab, kita tidak akan mampu memahami perintah dan larangan Allah yang termaktub dalam Al Quran, hadis-hadis nabi, serta qoul para sahabat, tabi’in, dan para ulama’ yang sebagian besar tertulis dalam bahasa Arab.

  • Jadilah Sukun

Sukun merupakan tanda dari i’rob jazm. Secara bahasa sukun artinya ketenangan, kediaman, kesunyian, kedamaian, keheningan, dan lain sebagainya. Artinya dalam menuntut ilmu seorang pelajar harus sabar, tenang, tidak panik dan tidak terburu-buru. Untuk memahami ilmu secara sempurna, seseorang perlu belajar dengan sungguh-sungguh. Seorang pelajar harus menyadari bahwa tidak mungkin ilmu bisa didapat secara instan tanpa melalui proses belajar.

Berkaitan dengan proses belajar, penulis teringat sebuah ayat yang menyatakan bahwa Allah SWT menciptakan alam semesta dalam waktu enam masa. Kemudian muncul pertanyaan, mengapa Allah SWT menciptakan alam semesta dalam waktu masa ? apakah Allah tidak mampu menciptakan alam semesta dalam waktu sekejap mata ?. Tentu saja Allah mampu menciptakan alam semesta dalam waktu sekejap mata bahkan lebih cepat dari itu. Allah ingin memberi pelajaran kepada manusia bahwa tidak ada sesuatu yang instan, semuanya butuh proses. Termasuk belajar.

Setiap orang memiliki kemampuan yang berbeda dalam menerima dan memahami ilmu. Ada yang tidak membutuhkan waktu lama untuk paham, tetapi ada pula yang harus membaca dan mengulang beberapa kali baru bisa paham. Untuk itu seorang pelajar harus sabar, telaten, dan ulet dalam belajar sebagaimana kata mahfudzat مَنْ جَدَّ وَجَدَ yang artinya barang siapa yang bersungguh-sungguh pasti berhasil.

Adakalanya seseorang sangat sulit memahami ilmu, oleh karenanya setiap orang (termasuk kita) harus menjauhkan diri dari makanan haram. Karena makanan haram yang masuk ke tubuh menjadi penghalang untuk memahami ilmu. Selain itu hendaknya seorang penuntut ilmu menjunjung tinggi rasa hormat di samping rasa hormat kepada guru.

  • Mendapat fathah

Setelah seorang penuntut ilmu melewati tahapan kasrah (tawadhu’), dhommah (semangat tinggi mempelajari semua ilmu), dan sukun (sabar dalam belajar), maka seseorang tersebut akan mendapat fathah. Fathah merupakan salah satu tanda dari i’rob nashob. Fathah berasal dari kata fataha- yaftahu- fathan yang artinya terbuka. Seorang penuntut ilmu yang mau berusaha dan bersusah payah dalam belajar akan dibukakan oleh Allah pintu pemahaman. Sesulit apa pun suatu ilmu, jika dibarengi dengan kesungguhan insya Allah akan menemukan jalan menuju paham.

Fathah merupakan salah satu asmaul husna, yaitu al Fattah. Menurut Ibnu Atsir, Al Fattah artinya Yang Membuka pintu-pintu rezeki dan rahmat bagi hamba-hamba-Nya. Di antara rezeki Allah adalah ilmu. Oleh karenanya kita pasti tidak asing dengan ungkapan

يَا فَتَّاحْ يَا عَلِيْمْ اِفْتَحْ عَلَيْنَا فُتُوْحَ العَارِفِيْن وَارْزُقْنَا فَهْمً النَبِيِّيْنَ وَحِفْظَا المرْسَلِيْنَ وَإِيمَان المُتَّقيْن يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْن

Ya Allah yang Maha Pembuka… Ya Allah yang Maha Mengetahui… bukakanlah bagi kami sebagaimana dibukanya ahli-ahli Ma’rifat dan berilah kami rezeki berupa pemahaman para nabi dan hafalan para rasul dan imannya orang-orang yang bertakwa Ya Allah yang Maha mengasihani daripada segala yang Mengasihani.

Semoga Allah SWT selalu memberi kita kemudahan untuk menerima dan memahami ilmu yang disampaikan guru-guru kita, dan semoga Allah membukakan futuh yang ada pada diri kita sehingga kita mendapat pemahaman apa yang kita pelajari. Aamiin….

Wallahua’lam bisshowaab….


0 Comments

Leave a Reply