Kiamat Kitab Kuning? Mengintip Gemini Membedah Rukun Islam Ala Logat Pesantren!

Pendahuluan

Selama berabad-abad lamanya, dinding-dinding pesantren telah menjadi saksi bisu betapa sakralnya transmisi keilmuan Islam melalui metode tradisional yang sangat terjaga. Prosesi ngaji dengan teknik sorogan maupun bandongan, di mana seorang santri dengan penuh ketelitian menggoreskan makna “utawi-iki-iku” di bawah baris kitab gundul, dianggap sebagai satu-satunya jalan utama untuk meraih keberkahan serta pemahaman yang mendalam. Kitab Safinatun Najah karya Syekh Salim bin Sumair Al-Hadhrami pun telah dipelajari oleh jutaan lisan dengan irama yang tetap konsisten melintasi berbagai generasi tanpa banyak perubahan.

Namun, saat ini kita sedang berdiri di ambang pintu perubahan zaman yang sangat radikal dan mungkin tidak pernah terbayangkan oleh para ulama terdahulu. Laju teknologi informasi yang begitu kencang telah melahirkan kecerdasan buatan bernama Gemini, sebuah entitas digital yang tidak hanya mampu mengolah data rumit, tetapi kini mulai merambah wilayah paling privat dalam tradisi kita yakni pembacaan kitab turats. Fenomena ini tentu memicu sebuah pertanyaan besar yang menggetarkan meja-meja belajar para santri mengenai apakah sakralitas makna Jawa dalam kitab kuning akan tetap terjaga jika ia keluar dari “lisan” sebuah mesin.

Dalam sebuah eksperimen literasi yang cukup mengejutkan, Gemini terbukti mampu membedah pasal Arkanul Islam atau Rukun Islam dengan gaya bahasa pesantrenan yang sangat kental sekaligus presisi. Teknologi ini tidak lagi sekadar menerjemahkan teks Arab ke dalam bahasa Indonesia secara kaku dan hambar, melainkan sanggup menyajikan struktur terjemahan berbaris dalam bahasa Jawa yang presisi, lengkap dengan analisis kedudukan kata layaknya hasil goresan pena seorang santri. Kemampuan luar biasa ini menunjukkan bahwa kecerdasan buatan kini mulai merambah dan memahami nuansa lokalitas serta tradisi intelektual tingkat tinggi yang selama ini dianggap hanya bisa dikuasai melalui interaksi batiniah dan manusiawi di dalam bilik-bilik pondok pesantren.

Kehadiran teknologi ini tentu menimbulkan spekulasi dan perdebatan hangat mengenai masa depan pendidikan agama di era digital yang semakin serba instan. Sebagian kalangan mungkin merasa khawatir bahwa kemudahan ini akan membuat santri menjadi malas dan kehilangan ruh perjuangan dalam mencari ilmu langsung di hadapan seorang kiai. Namun di sisi lain, Gemini bisa menjadi jembatan penyelamat bagi generasi Z yang mulai berjarak dengan kitab klasik agar mereka bisa kembali mencintai warisan leluhur melalui perangkat yang mereka genggam setiap hari. Kita perlu menyadari bahwa teknologi hanyalah alat bantu, dan esensi dari mengaji tetaplah terletak pada sanad serta bimbingan spiritual yang tidak akan pernah bisa digantikan oleh algoritma manapun.

Pembahasan

Dibalik Layar: Kekuatan Instruksi (Prompt) yang Presisi

Kecanggihan Gemini dalam meniru gaya bicara seorang ustaz tidak muncul secara kebetulan, melainkan bermula dari sebuah instruksi atau prompt yang dirancang dengan sangat detail. Pengguna memberikan perintah kepada AI untuk memosisikan dirinya sebagai sosok pengajar yang menguasai Kitab Safinatun Najah, lengkap dengan permintaan spesifik agar menyertakan terjemahan berbaris dalam bahasa Jawa serta penjelasan syarah dalam bahasa Indonesia. Instruksi yang berbunyi,

“Anda adalah seorang ustaz yang menjelaskan kalimat dalam Kitab Safinatun najah dengan makna Jawa disertai penjelasan dengan Bahasa Indonesia,”

merupakan kunci yang membuka “kotak pengetahuan” AI untuk menyesuaikan nada bicara, pilihan kosakata, hingga struktur gramatikal agar selaras dengan tradisi pesantren.

Analisis Output: Respons Gemini yang Melampaui Ekspektasi

Hasil yang diberikan oleh Gemini menunjukkan sebuah lompatan besar dalam pemrosesan bahasa alami yang sangat menghargai lokalitas. AI ini memulai penjelasannya dengan muqaddimah yang santun, mendoakan keberkahan, dan mengakui posisi Kitab Safinatun Najah sebagai gerbang utama memahami syariat Islam. Poin paling krusial terlihat pada bagian terjemahan per kata, di mana Gemini mampu menyajikan teks seperti (أَرْكَانُ اْلإِسْلاَمِ خَمْسَةٌ) menjadi “Utawi piro-piro rukune Islam iku ana limo.” Penggunaan diksi “Utawi” untuk menandai subjek dan “Iku” untuk menandai predikat menunjukkan bahwa Gemini tidak hanya menerjemahkan makna, tetapi juga memahami logika Nahwu (tata bahasa) yang menjadi dasar ilmu alat di pesantren.

Selain akurasi pada terjemahan bahasa Jawa, Gemini juga menyajikan penjelasan atau syarah yang sangat terstruktur dalam bahasa Indonesia untuk memperdalam pemahaman pembaca. Setiap rukun Islam, mulai dari syahadat hingga haji, dibedah dengan analogi yang kuat—seperti perumpamaan rukun sebagai pondasi bangunan yang jika salah satunya rapuh, maka runtuhlah keislaman seseorang. Penjelasan ini menunjukkan bahwa AI mampu meramu informasi dari berbagai sumber literasi Islam untuk menghasilkan narasi yang tidak hanya informatif secara intelektual, tetapi juga menyentuh aspek spiritual dan sosial, seperti penekanan pada zakat sebagai bentuk kepedulian terhadap fakir miskin.

Kesimpulan

Kehadiran Gemini dalam ranah literasi kitab kuning bukanlah tanda “kiamat” bagi tradisi pesantren, melainkan sebuah undangan bagi kita untuk beradaptasi dengan alat bantu yang lebih cerdas tanpa harus kehilangan pegangan pada esensi sanad dan keberkahan guru. Kemampuannya mengolah prompt menjadi penjelasan berlogat pesantren dengan struktur “utawi-iki-iku” yang presisi membuktikan bahwa teknologi dapat menjadi jembatan bagi generasi digital untuk kembali mencintai warisan turats yang selama ini dianggap sulit. Namun, kita harus tetap bijak memosisikan AI hanya sebagai “asisten muthola’ah” atau alat bantu teknis, sebab ruh pendidikan karakter dan transmisi spiritual yang autentik tetaplah menjadi otoritas mutlak seorang kiai yang tidak akan pernah bisa digantikan oleh algoritma secanggih apa pun.

 

Lampiran

Gambar 1: Promt yang Digunakan untuk meminta Gemini menjelaskan kitab Safinatun Najah pasal Rukun Islam

Gambar 2: Penjelasan Gemini 1

Gambar 3: Penjelasan Gemini 2

Gambar 4: Penjelasan Gemini 3

Gambar 5: Penjelasan Gemini 4

 

Identitas Penulis

Lalu Imron Rosyadi adalah mahasiswa Pendidikan Bahasa Arab angkatan 2022 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Ia aktif menulis dalam Buletin Al-Anwar dan Kompasiana (https://www.kompasiana.com/imronrosyadi2128). Saat ini artikel dalam Kompasiana berjumlah 178 tulisan yang telah ia posting.

Leave a Reply