Oasis Intelektual: Saat Pesantren Menjadi Benteng Terakhir di Tengah Badai “Syahwat Viral”

Di tengah dunia yang bergerak serba cepat, ancaman terbesar kita hari ini bukan sekadar hoaks. Yang lebih berbahaya adalah pendangkalan nalar. Informasi dipadatkan dalam hitungan detik, persoalan rumit diringkas menjadi potongan video singkat, dan kebenaran kerap diukur dari seberapa banyak jempol menekan tombol suka. Kita hidup dalam pusaran “syahwat viral”, sebuah dorongan untuk tampil, bereaksi, dan menjadi ramai, meski sering kali mengorbankan kedalaman dan etika.

Dalam situasi seperti ini, pesantren hadir sebagai oasis intelektual. Ia bukan sekadar institusi pendidikan keagamaan, tetapi ruang teduh tempat akal dilatih untuk tidak tergesa, dan hati dididik untuk tidak silau oleh popularitas.

Penjara Algoritma dan Menyusutnya Nalar

Budaya digital hari ini digerakkan oleh apa yang disebut sebagai attention economy, ekonomi perhatian. Siapa yang paling mampu mencuri perhatian, dialah yang menang. Akibatnya, kualitas sering kalah oleh kuantitas, dan kedalaman tersingkir oleh kecepatan.

Digital 2024 Global Overview Report menunjukkan betapa dominannya konsumsi video berdurasi pendek. Informasi harus diringkas secara ekstrem agar sesuai dengan ritme gulir layar. Kompleksitas dianggap beban, nuansa dianggap tidak penting. Yang penting cepat, padat, dan memancing emosi.

Dampaknya terasa nyata. Riset Gloria Mark yang dikutip CNN menyebutkan bahwa rentang perhatian manusia di depan layar menyusut drastis, dari sekitar 150 detik pada tahun 2004 menjadi hanya 47 detik saat ini. Kita menjadi masyarakat yang sangat cepat bereaksi, tetapi lambat memahami. Kita mudah tersulut, tetapi jarang menelusuri.

Algoritma media sosial pada akhirnya bekerja seperti penjara halus. Ia menyajikan apa yang kita sukai, memperkuat keyakinan yang sudah kita miliki, dan perlahan membatasi cakrawala berpikir kita. Tanpa sadar, nalar kita menyusut dalam ruang gema yang nyaman namun sempit.

Tahqiq: Antitesis Budaya Instan

Di tengah arus instan tersebut, tradisi pesantren menawarkan jalan sebaliknya. Jalan itu bernama tahqiq, verifikasi mendalam hingga ke akar persoalan.

Tahqiq melatih santri untuk tidak menjadi makmum tren. Ketika dunia digital menuntut respons cepat, pesantren justru mengajarkan ketahanan intelektual. Seorang santri dapat duduk berjam-jam membedah satu baris dalam kitab Fathul Mu’in, bukan demi sensasi, tetapi demi memastikan substansi hukum yang paling akurat.

Tradisi ini ditopang oleh beberapa pilar penting.

Pertama, tabayyun atau klarifikasi. Dalam budaya media sosial yang menuntut reaksi spontan, tabayyun menjadi rem yang menyelamatkan. Ia mengajarkan bahwa tidak semua yang viral layak dipercaya, dan tidak semua yang ramai harus segera ditanggapi.

Kedua, maraji’, rujukan otoritatif. Pendapat tidak lahir dari ruang hampa, melainkan bersandar pada sanad keilmuan yang jelas. Ada mata rantai tradisi yang dijaga, ada disiplin ilmiah yang dihormati.

Ketiga, adab al-alim. Ilmu tidak dijadikan panggung untuk memuaskan hubbud jah, cinta pada popularitas. Ilmu diarahkan untuk kemaslahatan, bukan untuk memperbanyak pengikut atau membangun citra diri di ruang siber.

Di sinilah pesantren berbeda secara mendasar dari budaya viral. Jika viralitas mengejar sorak, pesantren mengejar kebenaran. Jika algoritma memuja kecepatan, pesantren memuliakan ketelitian.

Melawan Insularitas Digital

Laporan Edelman Trust Barometer 2026 menunjukkan kecenderungan masyarakat global menuju insularity, sikap menutup diri dalam kelompok kecil yang hanya mau mendengar apa yang mereka sukai. Media sosial memudahkan kita untuk hanya berinteraksi dengan orang yang sepemikiran. Perbedaan dianggap ancaman, bukan kekayaan.

Tradisi pesantren justru dibangun di atas perjumpaan gagasan. Diskusi lintas madzhab, perdebatan argumentatif dalam Bahtsul Masail, serta penghormatan terhadap ragam pandangan, melatih santri untuk keluar dari zona nyaman intelektualnya. Perbedaan tidak dihindari, melainkan diolah dengan hujjah dan manthiq.

Pesantren, dengan demikian, bukan hanya tempat mengaji. Ia adalah benteng pertahanan terhadap pendangkalan nalar publik. Di dalamnya, kebenaran tidak ditentukan oleh algoritma atau jumlah pengikut, melainkan oleh kekuatan argumentasi dan kejernihan logika.

Ilmu tanpa kedalaman hanya menjadi sampah informasi. Ilmu tanpa adab hanya melahirkan kesombongan baru di ruang siber.

Menghidupkan Kembali Kedalaman

Melawan syahwat viral bukan berarti anti-teknologi. Pesantren tidak harus memusuhi media sosial atau menolak dunia digital. Yang perlu ditolak adalah kedangkalan yang merusak nalar dan mengikis adab.

Tantangan santri masa kini bukan sekadar menjaga tradisi di dalam tembok pesantren, tetapi membawanya ke ruang publik. Tradisi tahqiq, tabayyun, dan adab harus hadir dalam konten-konten yang beredar luas. Konten keagamaan perlu menarik secara visual, tetapi juga kokoh secara logika. Ramah secara bahasa, tetapi tetap dalam secara substansi.

Pesantren harus tetap menjadi oasis. Tempat orang datang untuk menjernihkan pikiran di tengah polusi informasi. Tempat di mana kebenaran diuji dengan argumentasi, bukan dengan jumlah tayangan.

Ketika masyarakat mulai lelah dengan kepalsuan dunia yang serba instan, nalar pesantren dapat menjadi penawar dahaga intelektual. Di situlah harapan itu bertumbuh: bahwa di tengah riuhnya sorak viral, masih ada ruang sunyi yang merawat kedalaman.

Referensi

  1. Datareportal. 2024. “Digital 2024: Global Overview Report”. Diperoleh dari https://datareportal.com/reports/digital-2024-global-overview-report.
  2. PRNewswire. 2026. “2026 Edelman Trust Barometer Reveals Trust is In Peril As Society Slides from Grievance into Insularity”. Diperoleh dari https://www.prnewswire.com/news-releases/2026-edelman-trust-barometer-reveals-trust-is-in-peril-as-society-slides-from-grievance-into-insularity-302664064.html.
  3. Sandee Lamotte. 2024. “If You Think You can’t Focus for Long, You’re Right”. Diperoleh dari https://edition.cnn.com/2023/01/11/health/short-attention-span-wellness/index.html

Leave a Reply