Bersyukurlah di Setiap Keadaan

Published by Buletin Al Anwar on

Oleh : Amal Nur ilmiawan

Setiap manusia pasti pernah bahkan sering mengalami titik berat dalam hidupnya. Tidak memandang mereka itu yang biasa hidup dalam kemewahan ataupun mereka yang hidup dalam keadaan kurang mampu. Kendati demikian, kita sebagai hamba Allah itu jangan hanya bisa mengeluh di setiap keadaan yang kita alami. Semua yang kita lalui hakikatnya sudah diatur oleh Allah. Segala cobaan yang kita alami ini merupakan ujian yang diberikan Allah agar kita sadar bahwa kita itu merupakan makhluk yang lemah.

Bersyukur sendiri sebenarnya mudah untuk dilakukan, namun juga berat untuk dipraktikkan. Mengapa demikian? Karena sebagian dari kita itu ketika sedang mendapatkan rezeki yang banyak, kita hanya ingat kepada rezeki tersebut tanpa mengingat siapa yang memberi rezeki. Berbeda ketika kita mengalami musibah, pertama yang diingat yaitu Allah yang hakikatnya yang memberi musibah. Itulah perbuatan yang harus kita buang jauh-jauh. 

Mayoritas ‘Ulama membagi kategori syukur menjadi tiga. Pertama yaitu syukur bil lisan yang artinya bersyukur dengan perkataan. Maksud dari kategori ini yaitu ketika seseorang mendapatkan rezeki, orang tersebut seketika itu langsung bersyukur dengan memanjatkan puji syukur kepada Ilahi Rabbi dengan mengatakan Alhamdulillahi Rabbil ‘Aalamiin. Kategori ini bisa dikatakan kategori paling mudah karena tinggal mengucapkan tahmid saja sudah cukup, namun tidak banyak orang yang mengamalkan perbuatan tersebut. Mungkin karena merasa kebutuhannya sudah terpenuhi akhirnya lupa.

Kedua yaitu syukur bil arkan yang artinya bersyukur dengan perbuatan. Jadi ketika seseorang itu mendapatkan rezeki yang banyak, kita boleh meluapkannya dengan tindakan. Kita pasti pernah melihat beberapa orang ketika baru saja mendapatkan rezeki, mereka melakukan sujud syukur. Nah itu juga termasuk syukur bil arkan. Namun, tidak hanya itu. Syukur bil arkan itu bisa dilakukan dengan bersedekah, karena hakikatnya rezeki yang kita miliki itu bukan sepenuhnya milik kita, namun ada bagian yang dimiliki orang lain.

Ketiga yaitu syukur bil qalb. Inilah kategori yang sulit. Karena bisa jadi mulut berkata syukur kepada Yang Maha Pemberi Rezeki, namun hati tidak sependapat dengan demikian. Maka dari itu, ilmu tasawuf itu harus ditanamkan kepada diri kita agar hati kita senantiasa bersih dari pemikiran semacam itu. Karena apa pun perbuatannya, itu tergantung dari niat di dalam hatinya.

Allah SWT berfirman dalam QS Ibrahim ayat 7

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

Artinya: Dan (ingatlah juga) tatkala Tuhan kalian memaklumatkan, “Sesungguhnya jika kalian bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepada kalian; dan jika kalian mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”

Dari ayat di atas kita sebenarnya tahu jika kita bersyukur setalah mendapatkan rezeki, Allah akan menambah rezeki untuk kita  apabila kita selalu bersyukur. Begitu juga sebaliknya, apabila kita kufur atas nikmat-Nya, nanti akan disiksa oleh Allah. Disiksa di sini konteksnya menjadikan hidup kita tidak sesuai yang kita inginkan karena sudah mengkufuri nikmat yang diberikan oleh Allah. 

Imam Ibnu Hibban meriwayatkan kisah dalam kitabnya yang bernama “Ats Tsiqaat”, pada suatu hari Abu Ibrahim sedang menyusuri padang pasir. Dari kejauhan, ia melihat sebuah tenda yang sudah lusuh. Ketika ia menghampiri tenda tersebut, ia kaget karena di dalam tenda tersebut ada orang yang sudah tua renta yang sudah tidak mempunyai kedua tangan, buta matanya, dan hidup sebatang kara. Semua orang menelantarkannya. Orang tua renta itu pun sudah tidak memiliki keluarga. Anehnya, orang tua tersebut senantiasa mengucapkan tahmid. Lantas Abu Ibrahim bertanya kepada orang tua tersebut. “mengapa Anda senantiasa mengucapkan tahmid?”

Kemudian orang tua itu menjawab, “Allah masih memberiku akal sehat, meskipun aku tidak punya tangan, mataku buta, namun Allah masih melebihkanku atas banyak hal”. “mereka bahkan banyak yang gila karena dengan keterbatasan yang mereka miliki, sedangkan aku masih diberi akal sehat. Bukankah aku harus bersyukur kepada Allah?”. Mendengar jawaban tersebut, Abu Ibrahim pun takjub dengan kekuatan imannya. Kemudian orang tua tersebut meminta permintaan kepada Abu Ibrahim. Ia meminta untuk mencari anaknya yang masih umur belasan tahun. Karena merasa kasihan, Abu Ibrahim pun langsung mencari anaknya yang sedang keluar untuk mencari makanan untuk Bapaknya. Kejadian tak terduga pun terjadi, Abu Ibrahim melihat anak laki-laki tergeletak di tengah padang pasir. Banyak burung gagak yang mengerumuni tubuh si anak laki-laki tersebut. Ternyata anak tersebut yaitu anak laki-laki dari orang tua yang Abu Ibrahim temui di padang pasir. 

Abu Ibrahim pun kembali ke orang tua tersebut. Orang tua itu menanyakan kepada Abu Ibrahim, “dimana anakku?”. Abu Ibrahim pun tidak langsung menjawab. Dikarenakan Abu Ibrahim memiliki sifat cerdik, ia berbalik tanya kepada orang tua tersebut. “Sebelum itu, aku bertanya. Siapa di antara dirimu dengan Nabi Ayyub AS yang paling menderita”. Tanpa ragu orang tua tersebut menjawab, “tentu saja Nabi Ayyub AS”. Kemudian Abu Ibrahim berkata, “Kalau begitu, Aku akan memberi tahumu. Aku menemukan anak laki-laki di tengah padang pasir tewas diterkam serigala. Aku yakin itu anakmu”. Setelah mendengar perkataan Abu Ibrahim, orang tua tersebut menangis sembari mengucapkan tahlil. Orang tua tersebut menangis sampai terdesak, sampai-sampai orang tua tersebut meninggal dunia. Kemudian Abu Ibrahim panik, dan meminta bantuan kepada para musafir. Para Musafir tersebut tiba berseru, “Abu Qilabah… Abu Qilabah..”. Rupanya orang tua tersebut yaitu Abu Qilabah. Seorang Ulama yang sedang menyendiri karena musibah sakit yang menimpanya.

Beberapa hari kemudian Abu Ibrahim bermimpi bertemu dengan Abu Qilabah. Abu Qilabah di dalam mimpi tersebut berpenampilan sangat sempurna. Kemudian Abu Qilabah berkata kepada Abu Ibrahim, “Aku telah dimasukkan ke surga oleh Allah”. Seperti itulah gambaran ketika kita semua selalu bersyukur terhadap apa yang telah dialami oleh kita. Jika kita bersyukur dengan apa yang telah Allah berikan kepada kita, niscaya Allah akan menambahkan kenikmatan kepada kita semua. 

Muhammad Quraish Shihab, atau biasa disapa dengan Abi Quraish Shihab menuturkan dalam bukunya yang berjudul “Wawasan al-Qur`an : Tafsir Tematik atas Pelbagai Persoalan”, bahwa beliau menemukan sebanyak 64 kali berbagai konteks kata syukur dalam al-Qur`an. Beliau juga menegaskan bahwa dalam bersyukur kita harus mengucapkan kalimat tahmid “Alhamdulillah” yang bermakna segala puji hanya bagi Allah SWT. Mengapa kita harus bersyukur?. Tidak banyak yang sadar bahwa syukur ini mempunyai kedahsyatan yang luar bisa di hadapan manusia dan juga di hadapan Allah SWT. Bahkan, seorang iblis akan selalu senantiasa menggoda para makhluk Allah yang bersyukur kepada Allah SWT, karena iblis tidak suka dengan hamba yang seperti itu. 

Teknik menggodanya seorang iblis terhadap para hamba Allah SWT yaitu melalui dua sisi. Yang pertama yaitu sisi depan, yang kedua yaitu sisi belakang. Adapun yang dimaksud dengan sisi depan yaitu iblis menggoda hamba Allah dengan mengganggu untuk tidak berbuat amal kebaikan, supaya tidak ada bekal di akhirat. Harapannya seorang iblis ini yaitu mendorong para hamba Allah untuk menjauh dari Allah SWT. Sedangkan, yang dimaksud dengan menggoda dari sisi belakang yaitu iblis menuntun para hamba Allah untuk mengerjakan sesuatu yang bersifat duniawi saja, tanpa mementingkan urusan akhiratnya. Sudah jelas motif dari iblis ini memang menjerumuskan para hamba Allah ke neraka bersamanya. Selain ada godaan sisi depan dan belakang, ada juga godaan dari sisi kanan dan kiri. Adapun yang dimaksud godaan dari sisi kanan yaitu iblis menggoda para hamba Allah untuk tidak meyakini kebenaran yang diajarkan oleh agama Islam, baik itu adanya para Rasul dan juga kebenaran tentang al-Qur`an. Sedangkan yang dimaksud dengan godaan dari sisi kiri yaitu mendorong manusia untuk berbuat keji, maksiat, dan tidak patuh pada perintah Allah SWT. 

Oleh karena itulah, kita dianjurkan bersujud syukur ketika menerima kenikmatan yang diberikan oleh Allah SWT kepada kita. Nabi Muhammad SAW mengajak umatnya untuk senantiasa bersyukur dalam setiap keadaan, baik itu susah maupun senang. Nabi Muhammad SAW juga mengajarkan doa kepada kita agar kita bisa dikategorikan hamba yang bersyukur kepada Allah SWT. Doanya yaitu sebagai berikut :

اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

Artinya: “Ya Allah, bantulah aku untuk berdzikir dan bersyukur kepada-Mu serta beribadah kepada-Mu dengan baik”(HR. Abu Dawud).

Menjadi hamba bersyukur sebenarnya bukan perkara yang sulit. Tergantung dari sikap kita mau atau tidaknya menjadi hamba yang bersyukur. Minimal, ketika kita mendapatkan sesuatu yang lebih dari Allah SWT, kita mengucapkan kalimat tahmid. Sedangkan, ketika kita tertimpa musibah, hendaknya kita juga bersyukur karena Allah sendiri tidak memberikan musibah kepada hamba-Nya kecuali hamba tersebut mampu mengatasi musibah atau cobaan tersebut.

 

Sumber Rujukan:

Mahfud, Choirul. (2014). “THE POWER OF SYUKUR: Tafsir Kontekstual Konsep Syukur dalam al-Qur’an” dalam Jurnal Episteme : Jurnal Pengembangan Ilmu Keislaman, No. 9. Vol. 2, Desember 2014, Hal. 377-400, https://doi.org/10.21274/epis.2014.9.2.377-400. 

https://islam.nu.or.id/khutbah/tiga-cara-mengungkapkan-syukur-kepada-allah-9mblD

https://www.republika.co.id/berita/pfaley313/nikmat-di-tengah-keterbatasan


0 Comments

Leave a Reply