Santri vs Era Post-Truth: Mengapa Seni Debat Pesantren Justru Jadi Perisai Ideologi

Dunia hari ini tidak lagi kekurangan informasi, melainkan kekurangan kepastian. Di era pasca-kebenaran atau post-truth, batas antara fakta dan opini semakin kabur. Emosi, sentimen identitas, dan keyakinan pribadi sering kali lebih persuasif daripada kebenaran objektif. Viralitas mengalahkan validitas.

Namun bagi santri, situasi ini bukanlah sesuatu yang benar-benar asing. Jauh sebelum metodologi debat modern berkembang, pesantren telah memiliki tradisi dialektika yang mapan melalui disiplin Adab al-Bahts wa al-Munazarah dan Ilmu Manthiq.

Di tengah kekacauan informasi global, tradisi ini justru menemukan relevansinya kembali.

Manthiq: Filter Epistemologis di Tengah Banjir Hoaks

Ketika hoaks dan disinformasi beredar lebih cepat daripada klarifikasi, logika formal menjadi kebutuhan mendesak. Dalam tradisi pesantren, kitab seperti Sullam al-Munawaraq mengajarkan bahwa berpikir bukan sekadar merangkai kata, melainkan menjaga akal dari kesalahan berpikir, khatha’ fi al-fikr.

Logika santri bertumpu pada dua fondasi utama:

  • Tasawwur: memahami dan mendefinisikan objek pembahasan secara jernih.

  • Tasdiq: membuktikan kebenaran melalui argumentasi yang sahih.

Tanpa tasawwur yang jelas, seseorang mudah terjebak dalam perdebatan kusir. Tanpa tasdiq yang kuat, kesimpulan hanya menjadi opini yang dibungkus retorika.

Inilah perisai pertama santri: kemampuan membedah substansi persoalan sebelum bereaksi secara emosional.

Munazarah, Bukan Mujadalah

Pesantren membedakan secara tegas antara:

  • Munazarah: diskusi untuk mencari kebenaran.

  • Mujadalah: debat untuk menjatuhkan lawan.

Sayangnya, ruang publik digital hari ini lebih sering diwarnai mujadalah. Perdebatan dilakukan demi menang, bukan demi terang. Media sosial menjadi arena saling potong argumen tanpa kesediaan mendengar secara utuh.

Dalam tradisi Bahtsul Masail, santri dilatih berpikir dialektis. Mereka mengajukan tesis, menghadapi antitesis berupa i’tiradh atau sanggahan, lalu merumuskan sintesis atau natijah yang mempertimbangkan kemaslahatan umat.

Tradisi ini memaksa santri untuk keluar dari ego intelektualnya. Ia harus memahami argumen lawan dengan adil sebelum menyanggahnya. Inilah bentuk adab ilmiah yang semakin langka di era algoritma.

Dalil dan Hujjah: Fondasi Dialektika yang Presisi

Dalam konteks dialektika pesantren, istilah yang lebih tepat untuk menyebut bukti adalah:

  • Dalil (دليل): petunjuk atau argumentasi yang menunjukkan kebenaran.

  • Hujjah (حجة): argumen yang kuat dan dapat dipertanggungjawabkan.

  • Burhan (برهان): pembuktian demonstratif yang meyakinkan.

  • Istidlal (استدلال): proses penalaran dalam mengambil dalil.

Era pasca-kebenaran sering menyerang ideologi melalui sentimen agama yang dangkal dan potongan informasi manipulatif. Di sinilah tradisi dalil dan hujjah menjadi perisai ideologi.

Santri tidak puas dengan potongan video 15 detik atau kutipan tanpa konteks. Mereka membuka teks asli, memeriksa sanad, dan memastikan validitas referensi.

Di saat semua orang bisa mengaku ahli di internet, tradisi pesantren tetap menekankan kesinambungan keilmuan yang bersambung, muttasil. Ilmu tidak lahir dari ruang hampa.

Fikih juga mengajarkan adanya ikhtilaf, perbedaan pendapat yang sah. Tradisi ini membentuk mentalitas yang tidak mudah menghakimi dan tidak mudah terprovokasi.

Krisis Kepercayaan Global dan Urgensi Santri

Urgensi nalar kritis santri semakin nyata jika melihat Edelman Trust Barometer 2026. Laporan tersebut menunjukkan krisis kepercayaan global yang serius. Sekitar 65% responden khawatir adanya penyisipan kebohongan ke media nasional, sementara hanya 39% yang mengakses berita dari sumber ideologis berbeda. Sebanyak 70% masyarakat cenderung bersikap insular terhadap informasi luar.

Artinya, dunia semakin terkurung dalam gelembung informasi.

Dalam kondisi seperti ini, dialektika santri bukan lagi sekadar kurikulum pesantren. Ia menjadi alat pertahanan intelektual. Ketika publik menutup diri dari perspektif berbeda, tradisi Bahtsul Masail justru melatih santri untuk mendengar argumen lawan secara jujur, melakukan tashih, lalu merumuskan kesimpulan berbasis dalil yang kuat.

Santri sebagai Penjaga Nalar Publik

Dialektika santri bukan sekadar kemampuan retorika untuk memenangkan debat. Ia adalah seni berpikir merdeka yang berakar pada wahyu dan akal sehat.

Di era pasca-kebenaran, santri memiliki peran strategis sebagai penjaga nalar publik. Mereka tidak hanya melindungi ideologinya sendiri, tetapi juga menjadi kompas bagi masyarakat yang tersesat dalam rimba informasi.

Tugas santri hari ini bukan sekadar menjawab persoalan fikih, melainkan memastikan bahwa kebenaran tetap berdiri di atas fondasi ilmu dan dalil yang sahih, bukan di atas angka engagement atau viralitas.

Karena peradaban tidak runtuh karena perbedaan pendapat, melainkan karena hilangnya adab dan logika dalam menyikapi perbedaan tersebut.

Referensi

  1. PR Newswire. 2026. “2026 Edelman Trust Barometer Reveals Trust is In Peril As Society Slides from Grievance into Insularity”. Diperoleh dari https://www.prnewswire.com/news-releases/2026-edelman-trust-barometer-reveals-trust-is-in-peril-as-society-slides-from-grievance-into-insularity-302664064.html

Leave a Reply