TGKH Lalu Zainal Abidin Ali merupakan salah satu tuan guru yang memiliki peran penting dalam perjalanan Islam di Gumi Sasak. Kontribusinya tidak hanya dirasakan dalam bidang keilmuan, tetapi juga dalam pembangunan pendidikan dan pembinaan masyarakat. Ia lahir di Sakra sekitar tahun 1927 dan wafat pada 11 Februari 2006. Sepanjang hidupnya, Sakra menjadi pusat pengabdian, dakwah, dan aktivitas keilmuannya.
Lahir dari Keluarga Religius
TGKH Lalu Zainal Abidin Ali lahir dari keluarga yang kuat dalam tradisi keagamaan. Ayahnya bernama H. Lalu Muhammad Ali, sementara ibunya bernama Hj. Zainab. Lingkungan keluarga inilah yang membentuk dasar pendidikan dan karakter keagamaannya sejak usia dini.
Dalam kehidupan rumah tangga, beliau menikah dua kali. Istri pertamanya bernama Hj. Zakiyah dan istri keduanya Hj. Baiq Kalsum. Dari pernikahan tersebut, ia dikaruniai tujuh orang anak, enam dari istri pertama dan satu dari istri kedua. Anak-anaknya antara lain Dr. Lalu Fathurrahman, M.S.C., Hj. Baiq Hidayati, S.Pd., Hj. Baiq Rahmatullah, S.Sos., Dra. Hj. Baiq Rauhun Hayati, Hj. Baiq Hasnayati, S.H., Lalu Nadi Abidin Ali, S.P., M.M., serta H. Lalu Muhammad Amin.
Hafal Al-Qur’an Sejak Usia Tujuh Tahun
Pendidikan agama TGKH Lalu Zainal Abidin Ali dimulai dari rumah. Ayahnya secara langsung mengajarkan dasar-dasar keislaman. Bahkan sebelum memasuki usia remaja, ia telah menghafal Al-Qur’an. Pada usia tujuh tahun, hafalan Al-Qur’annya telah sempurna.
Ia menempuh pendidikan madrasah ibtidaiah di Sakra, kemudian melanjutkan pendidikan sanawiah di Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah (NWDI) Pancor. Di lembaga ini, ia tercatat sebagai santri angkatan kelima, satu angkatan dengan sejumlah nama besar yang kelak menjadi tokoh penting pesantren di Lombok.
Menimba Ilmu ke Makkah
Setelah menyelesaikan pendidikan di NWDI, TGKH Lalu Zainal Abidin Ali berangkat ke Makkah sekitar tahun 1947. Ia pergi bersama TGH Lalu Kamaruddin, TGH Zainuddin Mansur, M.A., dan H. Nuruddin, S.H. Di tanah suci, ia menimba ilmu di Darul Ulum Ad-Diniyah selama kurang lebih tujuh tahun.
Kesungguhannya dalam belajar membuahkan hasil. Ia berhasil meraih juara satu di Darul Ulum Ad-Diniyah, sebuah capaian yang menegaskan kapasitas intelektual dan kedalaman ilmunya. Dalam hal mazhab, ia berpegang pada mazhab Imam Asy-Syafi’i dengan sanad keilmuan yang tersambung kepada Syekh Muhammad Yasin bin Muhammad Isa Al-Fadani.
Di tengah keseriusannya menuntut ilmu, ia mendapat perintah dari orang tuanya untuk pulang ke tanah air. Perintah tersebut langsung ia laksanakan, menandai dimulainya fase pengabdian di kampung halaman.
Ulama Pembaca Kitab dan Teladan Akhlak
Sekembalinya dari Makkah, TGKH Lalu Zainal Abidin Ali dikenal sebagai ulama yang gemar membaca. Hampir setiap malam ia mengisi waktunya dengan membaca kitab setelah melaksanakan salat sunah. Kebiasaan ini membuatnya menjadi rujukan masyarakat Sasak dalam berbagai persoalan agama.
Dalam kehidupan sehari-hari, ia dikenal tegas dalam menjaga adab dan kejujuran. Salah satu kisah yang sering diceritakan adalah ketika ia menegur keras seseorang yang memetik buah tanpa izin pemiliknya, meskipun buah tersebut berasal dari keluarga sendiri. Sikap ini menunjukkan konsistensinya dalam menjaga prinsip hukum syariat.
Ia juga dikenal sebagai pendidik yang disiplin dan ikhlas. Ia kerap datang lebih awal ke mahad, bahkan sebelum para pelajar hadir. Para murid angkatan lama mengenangnya sebagai sosok yang aktif, tekun, dan total dalam mengabdikan diri pada pendidikan.
Dakwah Melalui Pendidikan Nahdlatul Wathan
Dalam medan dakwah, TGKH Lalu Zainal Abidin Ali memilih jalur pendidikan. Ia berafiliasi dengan Nahdlatul Wathan dan menjadi pengajar di lingkungan organisasi tersebut. Beragam disiplin ilmu ia ajarkan, terutama fikih dan ilmu falak.
Ia juga dipercaya menjadi amidul Ma’had Darul Qur’an Wal Hadits Al-Majidiyyah Asy-Syafi’iyyah Nahdlatul Wathan Pancor sejak tahun 1966 hingga 1981. Dalam posisi ini, ia bertanggung jawab atas proses belajar mengajar dan pembinaan santri. Keilmuan falaknya bahkan membuatnya menjadi satu-satunya rujukan ketika tidak ada pengajar lain yang mampu menggantikan pelajaran tersebut.
Selain itu, ia pernah menjabat sebagai Ketua Dewan Mustasyar Nahdlatul Wathan periode 1972–1978. Peran ini menunjukkan kepercayaan besar yang diberikan kepadanya dalam struktur organisasi.
Rujukan Fikih dan Ahli Ilmu Falak
Keahlian TGKH Lalu Zainal Abidin Ali dalam bidang fikih diakui luas. TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Majid bahkan secara terbuka menyebutnya sebagai rujukan utama dalam persoalan fikih. Dalam praktiknya, masyarakat sering diarahkan langsung untuk bertanya kepadanya ketika menghadapi persoalan hukum Islam.
Di bidang ilmu falak, kontribusinya sangat nyata. Ia kerap diminta menentukan arah kiblat dalam pembangunan masjid. Metode yang digunakan sederhana namun presisi, cukup dengan menggunakan benang lurus menghadap kiblat, sesuai kebutuhan masyarakat saat itu.
Mendirikan Lembaga Pendidikan di Sakra
Selain berdakwah di Nahdlatul Wathan, TGKH Lalu Zainal Abidin Ali mendirikan Pondok Pesantren Darul Abidin pada tahun 1957 di Sakra. Beberapa tahun kemudian, pesantren ini bertransformasi menjadi Yayasan Pondok Pesantren Manbaul Bayan.
Yayasan ini menaungi Madrasah Tsanawiyah Manbaul Bayan Sakra dan Madrasah Aliyah Manbaul Bayan Sakra. Sejak 20 Mei 1981, kedua lembaga tersebut berada di bawah Kementerian Agama. Melalui lembaga inilah, pendidikan dan dakwah Islam terus berjalan secara sistematis hingga kini.
Model pengajaran yang diterapkan adalah khataman kitab, di mana pembelajaran berlangsung secara berkesinambungan dan menuntut keistikamahan murid. Selain syariat, kepada sebagian jemaahnya ia juga mengajarkan ilmu tasawuf sebagai kelanjutan dari pendidikan agama.
Warisan Keilmuan di Gumi Sasak
TGKH Lalu Zainal Abidin Ali menjadikan Sakra sebagai orientasi utama dakwahnya, meskipun ia juga berdakwah ke berbagai wilayah di Lombok Timur dan daerah kunjungan TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Majid. Jalur pendidikan menjadi ciri utama dakwahnya, dengan materi yang berfokus pada syariat dan pendalaman ilmu agama.
Warisan terbesarnya bukan hanya pada lembaga yang ia dirikan, tetapi juga pada tradisi keilmuan dan keteladanan yang terus hidup di tengah masyarakat. Riwayat hidup TGKH Lalu Zainal Abidin Ali menjadi bagian penting dari sejarah Islam di Gumi Sasak, sekaligus bukti bahwa pendidikan adalah jalan dakwah yang berumur panjang.
Referensi
Rosyadi, L.I. 2023. “TGKH. Lalu Zainal Abidin Ali Sakra Ulama Penyebar Agama Islam di Gumi Sasak” (Laporan Tugas Kuliah Sejarah Peradaban Islam). UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.
TGH Lalu Zainal Abidin Ali (6) (1)
Identitas Penulis
Lalu Imron Rosyadi adalah mahasiswa Pendidikan Bahasa Arab angkatan 2022 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Ia aktif menulis dalam Buletin Al-Anwar dan Kompasiana (https://www.kompasiana.com/imronrosyadi2128). Saat ini artikel dalam Kompasiana berjumlah 178 tulisan yang telah ia posting.
