Mengajarkan Anak tentang Hari Kebangkitan

Published by Buletin Al Anwar on

(Fandi Achmad Ramadhani)

Akhir-akhir ini banyak orang tua yang kurang memperhatikan pendidikan bagi anak, terutama pada anak usia dini. Padahal pendidikan merupakan hal yang sangat penting dan mendasar bagi anak untuk masa depannya. Dalam era globalisasi yang sangat cepat berkembang dan informasi yang cepat menyebar ini, seharusnya para orang tua lebih memperhatikan dan harus lebih pandai dan tepat dalam memilih pendidikan yang baik untuk anak. Salah satu pendidikan yang paling penting ditanamkan pada anak adalah pendidikan agama Islam karena sangat berperan penting dalam pembentukan karakter dan kepribadian yang baik bagi anak. Pendidikan agama Islam ada baiknya ditanamkan dan diajarkan pada anak sejak usia dini. Ini karena mengingat banyaknya kasus yang terjadi pada anak karena kemerosotan moral dan akhlak yang tidak baik. Anak diibaratkan seperti kertas putih yang masih bersih, yang bisa ditulis dengan apa saja. Orang tua dalam hal ini memiliki peran yang sangat penting karena Orang tua merupakan pendidik awal dan mendasar terbentuknya karakter seorang anak. Baik dan buruknya ditentukan bagaimana orang tua dalam mengajarkan nilai-nilai agama Islam kepada anaknya.

Maka dari itu, salah satu bentuk pendidikan agama Islam yang perlu diberikan kepada anak adalah menjelaskan pemahaman dan keyakinan tentang hari kebangkitan. Selain itu juga memberikan pemahaman kepada anak akan datang adanya hari akhir. Seperti apa yang telah tertulis dalam Al Quran berikut:

وَنُفِخَ فِي الصُّورِ فَصَعِقَ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ إِلَّا مَنْ شَاءَ اللَّهُ ۖ ثُمَّ نُفِخَ فِيهِ أُخْرَىٰ فَإِذَا هُمْ قِيَامٌ يَنْظُرُونَ

ArtiDan ditiuplah sangkakala, maka matilah siapa yang di langit dan di bumi kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Kemudian ditiup sangkakala itu sekali lagi, maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu (putusannya masing-masing). (Az Zumar 39 : 68).

Dengan dasar ayat ini, anak akan memiliki keyakinan di dalam hatinya bahwa setelah kehidupan ini berakhir akan ada sebuah kehidupan baru, setelah dunia ada alam akhirat, setelah awal akan ada akhir, dan setelah alam ini akan ada sebuah kehidupan kekal di akhirat. Ilmu pengetahuan, kebijaksanaan, dan kenyataan menunjukkan bahwa Allah menciptakan alam semesta ini dan Dia memeliharanya. Dialah satu-satunya yang menunjukkan dan menetapkan “waktu”. Al Quran menyinggung fakta ini dengan ayat berikut: 

قُلْ سِيرُوا۟ فِى ٱلْأَرْضِ فَٱنظُرُوا۟ كَيْفَ بَدَأَ ٱلْخَلْقَ ۚ ثُمَّ ٱللَّهُ يُنشِئُ ٱلنَّشْأَةَ ٱلْءَاخِرَةَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ

 Arti: Katakanlah: “Berjalanlah di (muka) bumi, maka perhatikanlah bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya, kemudian Allah menjadikannya sekali lagi. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. Al-Ankabut 29:20).

Maksud dari ayat ini adalah kita harus melihat dan menapaki, berkeliling di permukaan bumi ini untuk menelaah semua ayat-ayat kauniyah (alam semesta), lembar demi lembar, langkah demi langkah; kita harus melihat segala sesuatu dan merenungkan bagaimana kehidupan dimulai di bumi ini, bagaimana alam semesta ini terjadi dari ketiadaan, bagaimana manusia muncul, bagaimana berbagai bentuk kehidupan diciptakan sebagai spesies yang berbeda-beda, dan bagaimana kesempurnaan terpenuhi dengan adanya manusia.

Allah Subhânahu wa ta’âla yang menciptakan alam semesta dari ketiadaan ini, pasti juga akan membangkitkannya kelak. Apakah mungkin Dia, Dzat yang telah membangun semua keteraturan di bumi ini tak mampu membangun hal yang sama di alam lain? Apakah Dia yang telah menciptakan bumi ini dengan luar biasa tidak mampu menciptakannya lagi di bagian yang lain? Apakah Dia yang telah menyebutkan dunia ini sebagai ‘kehidupan duniawi’, tak bisa menyebut dunia sesudahnya sebagai ‘kehidupan akhirat’? Apakah Dia yang telah membawa kita ke dunia ini tidak bisa membawa kita ke tempat tinggal yang kekal? Penjelasan seperti ini saya rasa akan dapat disesuaikan dengan tingkatan pemahaman seorang anak, tanpa harus masuk pada penjelasan filsafat yang rumit.

Allah Subhânahu wa ta’âla menciptakan bumi ini secara luar biasa. Sebagaimana ikan-ikan berenang di lautan, burung-burung terbang di angkasa, semua mahluk berada dalam sebuah sistem yang besar, pada semua nebula yang melayang lembut dalam harmoni yang menakjubkan melintasi alam semesta, tidak ada kekacauan, ketidakteraturan atau ketiadaan tujuan pada kesemuanya itu jika dilihat oleh mereka yang mengamatinya dengan mata kebijaksanaan dan penuh hikmah. Terlebih lagi, semua keharmonian atau keselarasan ini amat mudah dilihat oleh siapapun, bahkan oleh pikiran yang paling sederhana sekalipun. Al Quran yang mulia menyoroti semua ini dan terlepas dari penciptaan langit dan bumi menunjukkan pula pada makna khusus penciptaan manusia.

ٱللَّهُ ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِى سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ ٱسْتَوَىٰ عَلَى ٱلْعَرْشِ ۖ مَا لَكُم مِّن دُونِهِۦ مِن وَلِىٍّ وَلَا شَفِيعٍ ۚ أَفَلَا تَتَذَكَّرُونَ

Arti: Allah lah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Tidak ada bagi kamu selain dari pada-Nya seorang penolongpun dan tidak (pula) seorang pemberi syafa’at. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?  (As-Sajdah 32: 4).

ٱلَّذِىٓ أَحْسَنَ كُلَّ شَىْءٍ خَلَقَهُۥ ۖ وَبَدَأَ خَلْقَ ٱلْإِنسَٰنِ مِن طِينٍ

Arti: Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah. (QS. As-Sajdah 32: 7).

Al Quran yang mulia mengatakan bahwa Allah menciptakan dan mengatur sistem yang megah ini. Dia pulalah yang akan menciptakan alam semesta yang lain setelah semua sistem itu hancur. Sehingga jika manusia menyangkal fakta ini maka sebenarnya manusia tersebut telah berada dalam pernyataan yang tidak masuk akal. Saya rasa jika hal ini disampaikan secara benar baik kepada anak-anak maupun orang dewasa adalah merupakan sebuah fakta yang tak terbantahkan. Di dalam Al Quran terdapat banyak pernyataan yang sangat jelas tentang hal ini.

Dalam ayat berikut, Al Qur’an mengacu kepada mereka yang menyangkal adanya kebangkitan:

قُلْ يُحْيِيهَا ٱلَّذِىٓ أَنشَأَهَآ أَوَّلَ مَرَّةٍ ۖ وَهُوَ بِكُلِّ خَلْقٍ عَلِيمٌ

Arti: Katakanlah: “Ia akan dihidupkan oleh Tuhan yang menciptakannya kali yang pertama. Dan Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk. (QS. Yasin 36 : 79)

Ayat yang lain menyatakan:

فَٱنظُرْ إِلَىٰٓ ءَاثَٰرِ رَحْمَتِ ٱللَّهِ كَيْفَ يُحْىِ ٱلْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَآ ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ لَمُحْىِ ٱلْمَوْتَىٰ ۖ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ

Arti: Maka perhatikanlah bekas-bekas rahmat Allah, bagaimana Allah menghidupkan bumi yang sudah mati. Sesungguhnya (Tuhan yang berkuasa seperti) demikian benar-benar (berkuasa) menghidupkan orang-orang yang telah mati. Dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. Ar-Rum 30: 50).

Gaya pengungkapan Al Quran yang lugas dan jelas serta jauh dari pemborosan kata-kata menjelaskan dengan sangat jernih apa yang perlu disampaikan kepada setiap manusia dari semua tahapan usia.

Penjelasan tentang Malaikat dan konsep takdir juga merupakan pembahasan yang harus diperhatikan secara khusus. Dengan berbagai cara dan metode yang bervariasi, kita harus mampu menjelaskan secara jelas kepada generasi muda bahwa sebagaimana  segala sesuatu di dunia ini harus memiliki program, proyek, dan rencana sebelum dilaksanakan; maka demikian pula halnya dengan alam semesta ini. Program atau rencana besar atas alam inilah  yang disebut “takdir”, yang berada dalam pengetahuan Ilahi dan meliputi segala sesuatu yang belum terjadi.

Sebagai kesimpulannya, kita hanya akan mampu menunjukkan Sirat al-Mustaqim (jalan yang lurus) kepada anak-anak dengan mengajarkan semua hal tersebut kepada mereka. Katakanlah: “Tunjukkanlah kami jalan yang lurus” (QS. Al-Fatihah 1: 6), baik dengan kata-kata maupun melalui tindakan kita. Dengan doa melalui lisan dan tindakan inilah, InsyaAllah dengan rahmat-Nya Yang Maha Esa upaya tarbiyah kita tak kan sia-sia. Di sisi lain ibadah-ibadah yang menunjukkan ketaatan kita atas perintah-perintah-Nya seperti salat, puasa, haji dan zakat sebaiknya diajarkan pada anak-anak melalui karya-karya orang-orang saleh sehingga kalbu anak-anak kita akan selalu diarahkan pada Sang Maha Agung pada semua keadaannya, baik dari yang bersifat keyakinan hingga semua amalannya agar tidak ada tempat atau kesempatan bagi mati dan kotornya jiwa, hati dan pikiran mereka.

Misalnya, anak harus benar-benar diberikan pemahaman tentang betapa buruknya melakukan syirik dan betapa berat siksanya kelak di Jahannam. Mereka juga harus mengerti betapa buruknya dosa berzina sehingga mereka takut bahkan hanya untuk mendekati perbuatan kotor ini dan lebih memilih meninggal dengan senyuman karena berhasil menjauh dari dosa besar ini. Begitu besarnya ancaman atas dosa-dosa ini harus benar-benar mereka fahami sehingga kalbu mereka harus bergetar takut jika sampai lidah dan mata mereka sekalipun mendekatinya dan seumur hidup akan disesali dengan penuh air mata. Secara berulang kali harus pula ditekankan pada mereka betapa buruknya perbuatan membunuh, mencuri dan berbohong agar mereka benar-benar benci serta menjauhi semua sifat buruk ini dari perangainya.

Selain itu, penekanan berulang kali secara lisan maupun tindakan atas hal-hal khusus yang merupakan akhlak buruk harus diberikan agar anak-anak tidak sampai terjatuh pada kubangan keburukan degradasi moral ini.   Jika sejak awal anak-anak tumbuh dalam lingkungan yang murni dan bersih, maka dengan izin-Nya, spiritualitas mereka tidak akan goyah oleh godaan yang dapat mereka hadapi selanjutnya, tidak akan pula mematikan perasaan, keyakinan dan perasaan terdalam dalam dirinya. Kelak mereka akan selalu hidup dan menghidupkan nyala kecintaannya pada Allah Subhânahu wa ta’âla, selalu menjadi hamba Allah yang taat dan rasa hormatnya pada Islam akan terus ada.

Pada intinya, Jika kita benar-benar menginginkan anak-anak kita memiliki iman, semua sikap dan kepekaan dalam Subjek tertentu, bagaimana cara kita pergi dan bangun dari tidur, bagaimana cara kita mengerahkan diri kita dalam doa, juga bagaimana cara kita melebarkan sayap kasih sayang kita pada anak-anak kita, semua harus mencerminkan iman kita kepada Allah dan hati mereka dipenuhi dengan iman tersebut sehingga hati mereka tidak boleh dibiarkan kosong. Kita harus selalu mencoba untuk menjadi pilihan yang tepat bagi mereka.


0 Comments

Leave a Reply