Seni Perubahan: Menemukan Napas Islami dalam Dialektika Tan Malaka

Dunia hari ini bergerak dalam kegelisahan. Ketimpangan ekonomi melebar, konflik sosial berulang, dan ketidakadilan sering diterima sebagai sesuatu yang “sudah seharusnya terjadi”. Di banyak tempat, kemiskinan bahkan dianggap sebagai nasib, bukan persoalan struktural yang bisa diubah. Cara berpikir seperti ini pelan-pelan melumpuhkan daya kritis manusia.

Di titik inilah pemikiran Tan Malaka, khususnya melalui Madilog, menjadi relevan untuk dibaca ulang. Dialektika yang ia tawarkan bukan sekadar instrumen filsafat kiri, melainkan sebuah metode untuk memahami perubahan. Bagi umat Islam, pendekatan ini tidak harus diposisikan sebagai sesuatu yang asing. Ia justru dapat dibaca sebagai upaya rasional memahami Sunnatullah, hukum-hukum Tuhan yang mengatur gerak sejarah dan kehidupan.

Bukan Sekadar Waktu, Melainkan Momentum

Manusia sering terpaku pada kalender dan angka, tetapi lupa membaca proses. Tan Malaka menekankan konsep tempo, yaitu waktu yang dipahami sebagai rangkaian dinamika, bukan sekadar hitungan mekanis. Dalam tradisi Islam, pemahaman ini sejalan dengan gagasan tentang momentum perubahan.

Al-Qur’an mengingatkan bahwa kejayaan dan kekalahan dipergilirkan di antara manusia (QS. Ali Imran: 140). Artinya, penderitaan suatu bangsa bukanlah kondisi final. Seperti konsep hijrah, setiap tekanan sejarah selalu membawa potensi transformasi. Dialektika mengajarkan bahwa stagnasi adalah ilusi. Perubahan tidak bisa dihindari, yang bisa dipilih hanyalah arah dan kesadarannya.

Dunia yang Saling Terhubung

Tan Malaka berbicara tentang keterkaitan antar unsur sosial, ekonomi, dan politik. Tidak ada peristiwa yang berdiri sendiri. Dalam bahasa Islam, kesadaran ini sejalan dengan prinsip ukhuwah bashariyah, persaudaraan kemanusiaan.

Ketimpangan di satu wilayah dunia tidak pernah benar-benar lokal. Dampaknya menjalar lintas batas, baik melalui krisis ekonomi, migrasi, konflik, maupun kerusakan lingkungan. Keadilan, karena itu, tidak bisa bersifat parsial. Ia harus universal, atau ia kehilangan maknanya sendiri.

Berpihak kepada yang Tertindas

Salah satu sisi paling tajam dari dialektika adalah keberpihakannya pada mereka yang berada di posisi paling lemah. Sejarah, menurut Tan Malaka, digerakkan oleh ketegangan antara yang menindas dan yang ditindas. Islam datang dengan misi yang tidak jauh berbeda, bukan untuk melanggengkan kekuasaan yang zalim, tetapi untuk mengangkat martabat kaum mustadh’afin.

Ali Shariati menegaskan bahwa Islam bukan agama yang meninabobokan manusia dalam kepasrahan. Ia adalah agama yang membangkitkan kesadaran, mendorong perjuangan, dan menolak normalisasi penderitaan. Dalam perspektif ini, iman bukan alasan untuk diam, melainkan sumber keberanian untuk bergerak.

Dari Keluhan ke Gerakan

Tan Malaka menyebut hubungan timbal balik antara manusia dan lingkungannya sebagai perlantunan. Manusia dibentuk oleh kondisi sosialnya, tetapi pada saat yang sama memiliki kemampuan untuk membentuk kembali kondisi tersebut. Kesadaran inilah yang membedakan subjek sejarah dari sekadar korban sejarah.

Al-Qur’an menegaskan bahwa keadaan suatu kaum tidak akan berubah selama mereka tidak mengubah keadaan dirinya sendiri (QS. Ar-Ra’d: 11). Pesan ini sejalan dengan peringatan Muhammad Iqbal bahwa hidup yang berhenti bergerak akan kehilangan maknanya. Dunia bukan untuk diterima apa adanya, melainkan untuk diolah melalui kerja, keberanian, dan tanggung jawab moral.

Penutup

Inti dari seluruh refleksi ini sederhana. Manusia tidak ditakdirkan menjadi penonton pasif dalam arus sejarah. Dengan akal yang kritis dan iman yang berakar pada tauhid, kita memikul tanggung jawab untuk memperbaiki realitas. Ilmu memberi cahaya, tetapi gerakanlah yang membuka jalan. Tanpa keduanya, perubahan hanya akan tinggal sebagai wacana.

Referensi

  1. Tan Malaka, Madilog (Materialisme, Dialektika, Logika). Diperoleh dari https://rowlandpasaribu.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/09/tan-malaka-madilog.pdf

  2. Al-Qur’an al-Karim.

  3. Ali Shariati, On the Sociology of Islam, Berkeley: Mizan Press, 1979.

  4. Muhammad Iqbal, The Reconstruction of Religious Thought in Islam, Oxford: Oxford University Press, 1934.

Identitas Penulis

Lalu Imron Rosyadi ialah seorang mahasiswa Pendidikan Bahasa Arab angkatan 2022 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Ia aktif dalam kepenulisan dan riset. Saat ini, 180+ artikel yang telah ia tulis di Kompasiana, puluhan artikel blogspot, artikel buletin Al-Anwar, dan artikel jurnal ilmiah.

Leave a Reply