Algoritma Kitab Suci? Ketika AI Masuk ke Ruang Ijtihad Pesantren

Memasuki kuartal pertama tahun 2026, wajah otoritas keagamaan global mengalami pergeseran yang tidak bisa diabaikan. Laporan Stanford AI Index 2025 menunjukkan sekitar 78% organisasi di dunia telah mengintegrasikan kecerdasan buatan dalam alur kerja mereka. Gelombang ini tidak hanya menyentuh sektor bisnis dan industri, tetapi juga merambat ke dunia pendidikan dan keagamaan.

Pesantren, lembaga dakwah, hingga komunitas kajian kini mulai memanfaatkan AI untuk mempercepat literasi, merangkum kitab, bahkan membantu menjawab pertanyaan fikih harian. Di Indonesia, Indonesia AI Report 2025 mencatat sekitar 80% responden menggunakan AI untuk mencari informasi dan meringkas jawaban. Tren ini secara perlahan menggeser pola umat dalam mencari solusi instan atas problem keagamaan.

Lalu, lahirlah satu istilah yang menarik sekaligus menggelisahkan: “Ijtihad Digital.”

Antara Data dan Dalil

Kemajuan ini memunculkan pertanyaan mendasar. Dapatkah mesin yang bekerja berdasarkan probabilitas statistik benar-benar menangkap esensi ‘illat atau memahami maqashid al-syari’ah?

Secara teknis, AI memang unggul dalam banyak hal. Ia mampu menelusuri jutaan referensi dalam hitungan detik. Dari turats klasik hingga jurnal akademik modern, semua dapat diakses dan dibandingkan secara simultan. Bandingkan dengan kapasitas manusia yang terbatas pada ingatan, pembacaan literatur, dan disiplin keilmuan tertentu.

Namun, ada dimensi yang tak tersentuh algoritma. Seorang mujtahid tidak hanya bekerja dengan teks, tetapi juga dengan nurani. Ia mempertimbangkan wara’, kepekaan sosial, tanggung jawab moral, dan kesinambungan sanad keilmuan. Di titik inilah perbedaan paling mendasar muncul. AI bekerja dengan token dan data, sementara ulama bekerja dengan ilmu dan amanah.

“Agama Tidak Ada dalam Algoritma”

Majelis Ulama Indonesia dalam Munas akhir 2025 menegaskan satu prinsip penting: agama tidak ada dalam algoritma. AI hanyalah alat pengolah bahasa dan data, bukan guru yang memiliki sanad keilmuan. Agama membutuhkan transmisi ruhani yang tidak dapat direduksi menjadi barisan kode biner.

Di tingkat global, diskusi etika AI juga semakin menguat. Pada Juli 2024, forum lintas iman di Hiroshima yang dihadiri para pemimpin agama dunia, termasuk perwakilan Muslim melalui Abu Dhabi Forum for Peace yang dipimpin Syekh Abdallah bin Bayyah, menyerukan komitmen moral dalam pengembangan AI. Intinya jelas: teknologi harus menghormati martabat manusia dan menjaga perdamaian. AI bukan pengganti otoritas spiritual, melainkan instrumen yang harus tunduk pada etika.

Menuju Epistemologi Hibrida

Menariknya, sejumlah Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri mulai mengembangkan pendekatan “hibrida” dalam studi turats. AI dimanfaatkan untuk mempercepat pencarian ibarat dalam ribuan jilid kitab, memetakan isu sosial kontemporer, serta membantu komparasi lintas mazhab secara lebih sistematis.

Dalam model ini, AI bukan mujtahid, tetapi asisten riset yang canggih. Ia membantu memperluas cakrawala data, sementara keputusan hukum tetap berada di tangan manusia yang memiliki kompetensi, sanad, dan tanggung jawab moral.

Pendekatan ini menawarkan jalan tengah. Pesantren tidak perlu alergi terhadap teknologi, tetapi juga tidak boleh menyerahkan otoritas hukum kepada mesin.

Menjaga Ruh di Balik Kode

Pada akhirnya, autentisitas nalar AI dalam dialektika fikih kontemporer menempatkan teknologi sebagai wasilah, bukan ghayah. Ia alat bantu, bukan subjek ijtihad. Dominasi algoritma mungkin tidak terelakkan, sebagaimana terlihat dalam laporan global dan nasional. Namun, garis pemisah antara data dan keberkahan tetap jelas.

Sanad, ketakwaan, dan tanggung jawab moral tidak dapat diotomatisasi.

Tantangan kita bukan menolak AI, melainkan menundukkannya pada nilai. Dunia pesantren dapat memanfaatkan kecanggihan mesin untuk memperkaya literasi turats, mempercepat riset, dan merespons persoalan umat dengan lebih adaptif. Tetapi ruh keilmuan harus tetap dijaga.

Sebab pada akhirnya, hukum Islam bukan sekadar hasil kalkulasi data, melainkan buah dari amanah ilmu yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Dan di situlah, algoritma harus berhenti, sementara hikmah tetap berjalan.

Referensi

Antara. “Agama tidak Ada dalam Algoritma, Munas MUI Penggunaan AI”. Diperoleh dari https://www.antaranews.com/berita/5220161/agama-tidak-ada-dalam-algoritma-munas-mui-bahas-penggunaan-ai

Kumparan. “Indonesia AI Report 2025”. Diperoleh dari https://blue.kumparan.com/document/kumparan-Indonesia-AI-Report-2025.pdf.

Stanford University. “Artificial Intelligence Index Report 2025”. Diperoleh dari https://hai.stanford.edu/assets/files/hai_ai_index_report_2025.pdf.

Leave a Reply