MEMBENTUK KARAKTER ANAK MELALUI PENANAMAN NILAI-NILAI AKIDAH: KETELADANAN LUQMAN AL-HAKIM

Published by Buletin Al Anwar on

Oleh: Fatimah Az Zahra

Abstrak

Anak dalam Islam dipandang sebagai sebuah amanah yang telah diberikan Allah SWT kepada orang tua. Maka disinilah orang tua memiliki peran paling besar didalam mendidik dan melahirkan anak-anak yang memiliki akhlak yang mulia dan nantinya akan menjadi manusia yang berguna bagi Agama, Bangsa, dan masyarakat. Dan dalam rangka untuk mewujudkan itu semua tidak terlepas dari pendidikan agama Islam. maka perlu diajarkan dan ditanamkan kepada mereka mulai sejak dini melalui pendidikan agama Islam yang dimulai dari lingkungan keluarga, sekolah, dan masyrakat. Dalam pendidikan agama anak ditanamkan tentang nilai-nilai akidah dan juga akhlak yang baik yang sesuai dengan tuntunan al-Quran dan al-hadis.

Kata kunci: membentuk karakter anak, keteladanan Luqman

PENDAHULUAN

Pembentukan karakter pada anak merupakan bagian yang penting di dalam menghasilkan anak-anak yang memiliki akhlak yang mulia. Maka untuk menghasilkan anak-anak yang memiliki akhlak yang mulia perlu dilakukan pembentukan karakter yang dimulai sejak dini, di saat mereka masih berusia anak-anak yang dimana pada usia anak-anak inilah mereka lebih banyak meniru dan mengikuti apa yang mereka lihat dan apa yang mereka dengar. Maka disinilah peran dari keluarga, sekolah, masyarakat, dan yang paling utama adalah peran dari orang tua itu sendiri, bagaimana kemudian meraka bisa memberikan pendidikan agama kepada anak, dengan menanamkan nilai-nilai aqidah sebagai pondasi utama dalam pembentukkan karakter anak.

Penanaman nilai-nilai akidah yang kuat akan membantu anak-anak dalam memahami nilai-nilai moral, kejujuran, dan kasih sayang. Dalam Al-Qur’an telah banyak disebutkan berbagai macam keteladanan yang bisa kita ambil, salah satunya adalah keteladanan dari kisah Luqman Al-Hakim sosok yang dikenal dengan nasihat-nasihatnya yang penuh hikmah. Dan kemudian Allah abadikan kisahnya dalam Al-Qur’an, tentang bagaimana keteladanan beliau di dalam mendidik anak-anaknya melalui nasihatnya yang ada dalam Qs. Al-Luqman ayat 13-19.

PEMBAHASAN

Luqman Al-Hakim seorang yang namanya Allah abadikan di dalam Al-Qur’an dan bahkan dijadikan sebagai salah satu nama surat dalam Al-Qur’an. Ada berbagai pendapat mengenai identitas Luqman Al-Hakim, menurut M. Qurais Shihab bahwa Luqman Al-Hakim adalah seorang tokoh yang diperselisihkan identitasnya. Adapun di dalam tafsir katsir dijelaskan bahwa, Luqman adalah orang sholeh berkulit hitam yang berasal dari Afrika, ia memiliki nama lengkap Luqman bin Sadun.[1] Dan menurut mayoritas ulama’ termasuk juga menurut Imam Malik bin Anas, mereka menyatakan bahwa Luqman merupakan seorang laki-laki yang bijaksana dan saleh. Ia bukanlah seorang nabi, hal tersebut dapat dilihat melalui kisahnya yang tidak menyatakan bahwa ia mendapat kalam dan wahyu dari malaikat. Dan secara singkat bahwa ia diberikan oleh Allah hikmah. Hal tersebut juga dibuktikan dengan bagaimana kemudian ia di dalam ia memberikan nasihat dan pengajaran pada anaknya. Sebagaimana dalam Al-Quran yang diungkapkan dengan kata huwa ya’idhuhu, bahwa dalam hal ini yang dimaksud adalah sebuah pengajaran bukan sebuah penyampaian syari’at.[2]

Dari kisah Luqman Al-hakim dalam Al-Quran kita dapat mengambil pelajaran sebagai suatu pedoman bagi orang tua maupun para pendidik di dalam melakukan pendidikan. Pendidikan sendiri merupakan suatu hal yang sangat mendasar, terutama pendidikan agama. Terlebih pendidikan yang diberikan oleh orang tua dan keluarga, karena pendidikan yang diberikan oleh orang tua dan keluarga merupakan bentuk pendidikan pertama yang akan didapat oleh anak. Maka di sinilah peran serta tugas orang tua untuk mendidik anak dengan mengenalkan kepada anak tentang agama, mengenai siapa yang telah menciptakannya, siapa yang menciptakan alam semesta, dan memberikan pemahaman kepada anak mengenai agama. Sehingga nantinya anak akan paham dan mengerti akan tugasnya hidup di dunia ini, yakni beribadah kepada Allah SWT semata dan dengan cara mengikuti sunah Rasulnya.[3]

Maka dalam kisah Luqman Al-Hakim ada beberapa nilai yang dapat kita jadikan teladan atau pedoman di dalam mendidik anak. kisah Luqman dalam memberikan pendidikan pada anaknya dapat kita pelajari dalam Q.S Luqman ayat 13-19. Yang di mana jika dilihat dari garis besarnya pendidikan yang diberikan Luqman kepada anaknya antara lain adalah perintah untuk bersyukur, pendidikan Aqidah, pendidikan Ubudiyah, pendidikan sosial, dan pendidikan akhlak.

  1. Pendidikan Tauhid

Pendikan tauhid yang ditanamkan oleh Luqman pada anaknya tertuang dalam ayat ke 13 dalam surat Luqman, yang dimulai dari kata “wahai anakku” sebagai bentuk tasgir (dimunitif) yang didalamnya mengandung arti rasa cinta dan belas kasih, bukan betuk pengecilan atau penghinaan. Dari sini dapat kita ambil pelajaran bahwa pendidikan harus didasarkan pada komunikasi atau hubungan yang efektif antara seorang pendidik dan seorang yang dididik dengan didukung dengan adanya rasa kasih sayang yang diwujudkan dalam bentuk pemberian arahan dan bimbingan agar anak yang dididik dapat terhidar dari perbuatan yang dilarang. Dan dalam upaya untuk menanamkan tauhid pada anak harus menggunakan metode, langkah, serta cara yang tepat. Hal tersebut dilakukan dengan maksud agar anak dapat memahami serta menerima pengajaran atau penanaman akhlak dengan baik. Selain itu juga dalam memberikan pengajaran pada anak harus dengan memperhatikan usia perkembangan anak,  dalam hal ini imam Al-Ghazali didalam kitabnya, ia menganjurkan mengenai dasar pendidikan, agar penanaman tauhid itu diberikan sejak dini, bahwa penjelasan tentang akidah sebaiknya di ajarkan kepada anak pada masa awal pertumbuhannya, sehingga nantinya mereka dapat memahami dan menerima dengan baik.[4]

  1. Pendidikan Ubudiyah

Setelah anak itu ditanamkan nilai-nilai tauhid yang kemudian menjadi landasan yang kuta bagi anak, maka tugas orang tua selanjutnya adalah memrintahkan anak untuk mengerjakan sholat, zakat dan haji bagi seorang yang mampu melakukannya. Dan dalam mengejarkan sholat ada tahapan yang diajarkan oleh Rassulullah, dimana orang tua itu berkewajiban memerinthakan ankanya sholat ketika mereka sudah masuk pada usia tujuh tahun dan ketika anakk itu sudah samapi pada usia 10 tahun dan mereka meninggalkan sholat maka pukullah mereka (memukul dalam artian memberikan pendidikan kepada anak) karena sholat sebagai bentuk taqarrub (pendekatan diri kepada Allah).

Di samping pendidikan ubudiyah, yang didalamnya mengajarkan mengenai perintah untuk mendirikan sholat. Pendidikan Ibadah ini juga mengandung seluruh tindakan di kehidupan sehari-hari, baik yang berhubungan dengan Allah maupun yang berhubungan dengan sesama manusia. Termasuk didalamnya adalah berbakti kepada kedua orang tua. Selain dalam surat Luqman dalam surat lainnya juga banyak dijelaskan mengenai perintah untuk berbakti kepada orang tuanya. Pengerboanan orang tua yang diberikan kepada anaknya sangatlah besar, dan dalam surat Luqman ayat ke-14 bahkan disebutkan secara khsusus mengenai pengorbanan seorang ibu untuk untuk anaknya. Disamping perbuatan bakti seorang anak kepada kedua orang tua nya, disini juga menganding makana akan rasa terima kasih dan balas budi seorang anak kepada orang tuanya, salah satunya dengan cara bersyukur kepada allah dan berterima kasih pada orang tua[5]. Selain itu juga, dalam ayat ini anak di ingatkan dan di ajak untuk merenungi bagaimana perjuangan dan susah payahnya seorang ibu selama masa mengandung. Cara ini dilakukan untuk memberikan pengaruh pada anak dengan cara menggugah emosional anak, sehingga hal ini dapat berdampak terhadapa perilaku dan sika anak sesuai tujuan yang diinginkan.

  1. Pendidikan Akhlak

Mengenai pendidikan akhlak secara lebih rinci lagi dibahas pada surat Luqman pada ayat 18 dan 19, dimana diantar akhlak yang diwasiatkan oleh Luqman kepada anaknya adalah dengan mengingatkan anaknya agar tidak bersifat angkuh dan sombong, dengan membanggakan diri dan meremehkan orang lain. Kemudian di jelaskan tentang tanda-tanda seorang yang bersifat sombong dan angkuh diantaranya ialah ketika ia berjalan dan bertemu orang lain, ia memalingkan wajahnya atau tidak mau menyapa dan bersikap ramah, dan berjalan dengan sikap angkuh. Oleh karena itu, Luqman mengingatkan anaknya tentang adab berjalan yakni dengan berjalan sewajarnya saja. Maka, dalam ayat 18 dan 19 dalam surat Luqman ini mengajarkan tentang bagaimana akhlak yang seharusnya dilakukan seorang anak ketika ia bergaul dengan manusia.[6]

KESIMPULAN

Dari kisah Luqman Al-Hakim dalam Al-Qur’an kita dapat mengambil pelajaran sebagai suatu pedoman bagi orang tua maupun para pendidik didalam memberikan pendidikan. Pendidikan sendiri merupakan suatu hal yang sangat mendasar, terutama pendidikan agama. Terlebih pendidikan yang diberikan oleh orang tua dan keluarga, karena pendidikan yang diberikan oleh orang tua dan keluarga merupakan bentuk pendidikan pertama yang akan didapat oleh anak. Penanaman nilai-nilai akidah yang kuat akan membantu anak-anak dalam memahami nilai-nilai moral, kejujuran, dan kasih sayang.

DAFTAR PUSTAKA

Alam, Lukis. 2016. “Aktualisasi Pendidikan Islam dalam Keluarga”. Vol. 06 No. 02. Jurnal Muaddib

Quraih, Shihab M. 2006. Tafsir Al-Mishbah, Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur‟an. Jakarta.

Lentera Hati.

Ar-Rifa’i, Muhammad Nasih. “Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir”, pentj. Syihabuddin. Cet. I, Jakarta: Gema Insani Press, 1999

Fu’adi, Ahsanul dan Sussanti, Eli. (2017) “Nilai-Nilai Pendidikan dalam Surat Luqman.” Vol. 2, No. 02. Balajea: Jurnal Pendidikan Islam

Suryani, Cut. (2012). “Konsep Pendidikan Keluarga dalam Surat Luqman Ayat 12-19.” Vol. XIII NO. 1, 112-129, Jurnal Ilmiah Dikdatika

[1] Muhammad Nasib Ar-Rifa’i, “Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir, pentj. Syihabuddin. Cet. I, Jakarta: Gema Insani Press, 1999, hal. 789

[2] Nurul Hidayat, “Konsep Pendidikan Islam Menurut Q.S Luqman Ayat 12-19”, Vol. 04, No. 02, Jurnal Ta’allum, 2016, hal. 361

[3] Cut Suryani, “Konsep Pendidikan Keluarga dalam Surat Luqman Ayat 12-19,” Vol. XIII NO. 1, 112-129, Jurnal Ilmiah Dikdatika, 2012, hal. 114

[4] Jami’un Nafi’in, Muhammad yasin, Ilham Tohari, “Konsep Pendidikan Anak dalam Perspektif Al-Qur’an, Vol. 1 No. 1, 2017, Jurnal Dudeena, hal. 14

[5] Ahsanul Fuadi, Eli Susanti, “Nilai-Nilai Pendidikan dalam Surat Luqman”, Vol. 2, No. 02, 2017, Balajea: Jurnal Pendidikan Islam, hal. 130

[6] Lukis Alam, “Aktualisasi Pendidikan Islam dalam Keluarga”, Vol. 06 No. 02, 2016, Jurnal Muaddib


0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *