PENANAMAN DOKTRIN NILAI-NILAI AKHLAK PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DALAM MEMBENTUK KARAKTER INTELEKTUAL SISWA MELALUI KULTUR RELIGIUS.

Published by Buletin Al Anwar on

Muhimmuts Tsaalits Al-Amiin S.

Program Studi Pendidikan Agama Islam

Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Email; [email protected]

Abstrak: Tujuan daripada penulis menulis hal artikel ini yakni adalah untuk mencari tahu dan meneliti serta menjelaskan bagaimana dan apa yang diperlukan untuk menanamkan nilai-nilai akhlak Islami untuk membentuk karakter daripada peserta didik menjadi pribadi muslim yang berintelektual dengan melalui kultur atau budaya religius. Strategi yang harus diaplikasikan dalam menanamkan nilai-nilai akhlak Islami teruntuk pembentukan karakter dan dapat menjadikan nilai-nilai Islami tersebut sebagai paradigma dalam beragama, yaitu seperti pengalihan bentuk atau perubahan nilai-nilai lewat kepercayaan/akidah, etika/akhlak, ibadah, dan nilai sosial. Selain itu, juga bisa dengan cara penyaluran atau penanaman melalui akidah, akhlak/etika, dan nilai-nilai sosial.

Kata Kunci: Internalisasi, Nilai-nilai Akhlak Islami, Karakter, Kultur/budaya religius.

PENDAHULUAN

Dunia Pendidikan merupakan wadah di mana orang-orang yang tidak hanya peserta didik akan diajarkan, dibina, dibimbing, dan akan diberikan penanaman pengetahuan serta nilai-nilai positif yang akan menjadi bekal bagi peserta didik untuk menjalani kehidupan di masa depan nanti. Masalah atau problem yang biasa terjadi dan berkorelasi didunia Pendidikan yaitu mengenai adab atau moral. Sering kali kita menjumpai terdapat kondisi atau situasi di mana pada kejadian tersebut berkorelasi mengenai adab dan moral, khususnya seorang siswa atau pelajar. Kita sering kali menjumpai kasus-kasus tindak kejahatan, perbuatan-perbuatan negatif dan tidak senonoh seperti mabuk-mabukan, seks bebas, judi, tawuran dan kekerasan yang di mana subjek dari kondisi tersebut tidak lepas dari yang Namanya siswa atau peserta didik. Seorang peserta didik atau siswa yang disekolahkan oleh kedua orang tuanya supaya kelak menjadi orang yang bermanfaat di mana depan yang harusnya mereka mengkritisi pengetahuan, mencari tahu akan segala sesuatu yang bermanfaat, dan belajar memecahkan Problematika kehidupan tetapi malah melakukan perbuatan yang tidak pantas disebut siswa. Hal ini menunjukkan terdapatnya ketidakberesan atau bejatnya karakter generasi penerus bangsa. Seorang siswa adalah orang-orang mulia yang menuntut ilmu, mereka berada di jalan Allah, mereka harusnya mempunyai moral dan akhlak yang baik di Masyarakat, maka sangat tidak pantas jika seorang siswa berkontribusi pada hal-hal negatif tersebut.

Sementara itu, karakter adalah nilai-nilai representasi melalui tingkah laku dari pribadi setiap orang. Pada kaitannya, nilai merupakan konsep, perilaku, dan akidah tiap pribadi masing-masing terhadap sesuatu yang dianggapnya berharga.[1]

PEMBAHASAN
Penanaman berasal dari kata dasar “tanam”, menanam yang memiliki arti meletakkan atau menaruh sesuatu dalam arti benih atau biji ke dalam tanah supaya biji tersebut tumbuh dan menghasilkan buah. Sementara doktrin berarti “ajaran” atau “pemikiran”, ajaran tentang asas suatu aliran politik atau keagamaan. Dengan demikian dapat diartikan bahwa penanaman doktrin adalah meletakkan atau menaruh, berusaha memengaruhi. Dalam hal ini objeknya adalah memengaruhi dan berusaha menaruh nilai-nilai akhlak Islami kepada siswa atau peserta didik, di mana buahnya dalam arti lain adalah output yang dihasilkan dari penanaman doktrin nilai-nilai agama Islam tersebut, seperti terbentuknya pribadi seorang peserta didik yang mencerminkan pribadi muslim dan berkarakter akhlakul karimah sesuai ajaran Islam.

Sementara akhlak agama Islam bermakna sikap yang mencerminkan pribadi yang berkarakter Islami yang baik sesuai ajaran Islam dan karakter intelektual bermakna pribadi yang memiliki pengetahuan, kecerdasan, dan berpengetahuan luas. Sementara itu, kultur religius merupakan budaya atau kebiasaan yang sudah melekat dalam sebuah kelompok atau Masyarakat yang telah turun menurun, dalam hal ini kultur religius yaitu seperti bersikap sopan santun sesuai ajaran Islam, mencerminkan sikap yang sesuai dengan ajaran Islam.

Jadi, dapat disimpulkan, penanaman doktrin nilai-nilai akhlak Pendidikan agama Islam dalam membentuk karakter yang intelektual melalui kultur religius berarti, berusaha memengaruhi, menanamkan dan menaruh nilai-nilai akhlak Islami untuk membentuk pribadi muslim yang cerdas dan berwawasan luas dengan pengajaran melalui pembiasaan yang baik.

Dari segi edukasi, pandangan pemikir Islam Al-Ghazali, penanaman nilai- nilai Islam merupakan suatu Langkah pemantapan karakter yang sudah dikenal pada pribadi seseorang, yang berupa perilaku baik dan buruk. Yang bisa diukur dengan ukuran Pendidikan, agama, dan sains.[2]

Berdasarkan perspektif terminologi, menurut Al-Ghazali moralitas atau akhlak merupakan salah satu kebajikan yang diinternalisasikan dalam jiwa, dalam hal ini berarti darinya terdapat suatu perbuatan dilakukan dengan mudah, dan tanpa berpikir Panjang.

Dari berbagai sudut pandang moralitas atau akhlak yang telah dijelaskan sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa akhlak adalah suatu perilaku, baik buruknya sikap, yang darinya timbullah segala bentuk perbuatan, hal tersebut akan menciptakan sebuah kultur dan melakukannya akan tanpa pertimbangan.[3]

Kegiatan yang dapat membentuk kepribadian muslim di lembaga pendidikan pertama-tama meliputi kegiatan keseharian, khususnya penanaman nilai-nilai agama yang secara rutin berlangsung selama hari-hari sekolah normal di lembaga pendidikan tersebut. Kegiatan rutin ini dilakukan sebagai bagian dari kegiatan sehari-hari yang terintegrasi ke dalam kegiatan terjadwal sehingga tidak memerlukan waktu khusus. Pendidikan agama tidak hanya menjadi tugas dan tanggung jawab pendidik agama saja, tetapi juga menjadi tugas dan tanggung jawab guru-guru dari disiplin ilmu dan sekolah lain. Pendidikan agama tidak terbatas pada aspek pengetahuan tetapi juga mencakup pembentukan sikap, perilaku dan pengalaman keagamaan. Oleh karena itu, pembentukan sikap, perilaku dan pengalaman keagamaan tidak hanya harus diberikan oleh guru agama, tetapi juga harus didukung oleh guru-guru dari bidang studi lain.[4]

Sebuah usaha dalam penanaman hal baik khususnya menanamkan nilai-nilai akhlak tidak serta merta langsung diterima dengan baik seluruhnya. Terdapat beberapa faktor pendukung dan faktor penghambat dalam proses penyampainnya. Beberapa faktor pendukung yaitu seperti:

  1. Tenaga pendidik

Tenaga pendidik yang berperan sebagai tokoh utama pada eksekusi penanaman nilai-nilai akhlak Islami baik pada saat Pendidikan formal maupun non formal. Tenaga Pendidik harus mampu menjadi teladan yang baik bagi anak didiknya, baik di dalam maupun di luar sekolah. Oleh karena itu, kesabaran, ketekunan, ketulusan dan keikhlasan seorang pendidik sangat dibutuhkan. Dan bentuk dukungan pendidik terhadap proses pembentukan kepribadian adalah berupa transfer ilmu antara yang baik dan yang buruk, pendidikan atau bimbingan dan pengawasan. Hal ini berdasarkan penjelasan Bapak Ali Mansur selaku guru Pendidikan Agama Islam dan pembina keagamaan luar sekolah.[5]

2. Minat siswa

Minat merupakan suatu pemilihan dalam melakukan suatu kegiatan yang dapat memunculkan semangat dan bermanfaat bagi diri sendiri dalam mengembangkan kemampuan diri. Peserta didik yang memiliki minat serta kemampuan yang mendalam terhadap suatu mata pelajaran atau kegiatan tambahan akan menunjukkan antusiasme dan kedinamisan saat mengikuti pelajaran atau kegiatan ekstrakurikuler. Anak yang memiliki minat yang tinggi akan lebih serius dan tekun dalam melakukan kegiatannya, sehingga hasilnya akan berbeda baik dalam keterampilan maupun kepribadiannya. Berkat perubahan kepribadian itulah siswa yang memiliki minat tinggi akan lebih cepat berubah dan menjadi lebih matang. berubah dan menjadi lebih matang.

Beberapa faktor penghambat yaitu, rendahnya tingkat kedisiplinan. Tingkat disiplin untuk peserta didik urgensinya akan sangat penting dalam cara serta Langkah-langkah dalam internalisasi nilai-nilai akhlak, khususnya nilai moral untuk mementuk perilaku dan karakter bagi peserta didik. Prosedur usaha pembiasaan akan sangat penting dalam hal penyusunan perilaku serta karakter peserta didik. Terciptanya karakter yaitu karena adanya kultur atau pembiasaan. Langkah-langkah dan prosedur penanaman nilai-nilai moral/akhlak Islami dalam membentuk karakter peserta didik melewati kebiasaan yang bisa terhambat jika rasa kedisiplinan lemah dan menurun dikarenakan hal tersebut dapat memperlama progress.[6]

KESIMPULAN

     Dari seluruh penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa, penanaman atau internalisasi nilai-nilai akhlak pada peserta didik adalah suatu hal yang penting demi membentuk karakter mereka untuk menjadi insan dan pribadi yang baik dan bermanfaat untuk masa depan mereka. Hal itu dilakukan salah satu nya dengan cara melakukan pembisasaan atau kultur pada mereka. Dengan dilakuknnya kebiasaan tersebut, peserta didik akan terlatih dan terbiasa dalam berperilaku dan berakhlak baik khususnya berakhlakul karimah sesuai dengan ajaran islam.

DAFTAR PUSTAKA

Maghfiroh, D., & Aisyah, N. (2023). Internalisasi Nilai-Nilai Pendidikan Agama Islam Dalam Membentuk Karakter Siswa Melalui Budaya Religius. Aafiyah: Jurnal Multidisiplin Ilmu1(02), 38-51

Maghfiroh, D., & Aisyah, N. (2023). Internalisasi Nilai-Nilai Pendidikan Agama Islam Dalam Membentuk Karakter Siswa Melalui Budaya Religius. Aafiyah: Jurnal Multidisiplin Ilmu1(02), 53.

Zainudin, A. (2020). Penanaman nilai-nilai religius dalam membentuk akhlak karimah bagi peserta didik di MI Ar-Rahim kecamatan Arjasa Kabupaten Jember. Auladuna: Jurnal Prodi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah2(1), 19-38.

Zainudin, A. (2020). Penanaman nilai-nilai religius dalam membentuk akhlak karimah bagi peserta didik di MI Ar-Rahim kecamatan Arjasa Kabupaten Jember. Auladuna: Jurnal Prodi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah2(1), hal.33

Mashuri, I., & Fanani, A. A. (2021). Internalisasi Nilai-Nilai Akhlak Islam Dalam Membentuk Karakter Siswa Sma Al-Kautsar Sumbersari Srono Banyuwangi. Jurnal Ilmiah Ar-Risalah: Media Ke-Islaman, Pendidikan Dan Hukum Islam19(1), 157-169

Kuliyatun, K. (2020). Penanaman Nilai-Nilai Religius Pada Pesrta Didik Di Sma Muhammadiyah 01 Metro Lampung. At-Tajdid: Jurnal Pendidikan dan Pemikiran Islam3(2), 180-198.

Mashuri, I., & Fanani, A. A. (2021). Internalisasi Nilai-Nilai Akhlak Islam Dalam Membentuk Karakter Siswa Sma Al-Kautsar Sumbersari Srono Banyuwangi. Jurnal Ilmiah Ar-Risalah: Media Ke-Islaman, Pendidikan Dan Hukum Islam19(1), 166

[1] Maghfiroh, D., & Aisyah, N. (2023). Internalisasi Nilai-Nilai Pendidikan Agama Islam Dalam Membentuk Karakter Siswa Melalui Budaya Religius. Aafiyah: Jurnal Multidisiplin Ilmu1(02), 38-51.

[2] Maghfiroh, D., & Aisyah, N. (2023). Internalisasi Nilai-Nilai Pendidikan Agama Islam Dalam Membentuk Karakter Siswa Melalui Budaya Religius. Aafiyah: Jurnal Multidisiplin Ilmu1(02), 38-51.

[3] Zainudin, A. (2020). Penanaman nilai-nilai religius dalam membentuk akhlak karimah bagi peserta didik di MI Ar-Rahim kecamatan Arjasa Kabupaten Jember. Auladuna: Jurnal Prodi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah2(1), 19-38.

[4] Zainudin, A. (2020). Penanaman nilai-nilai religius dalam membentuk akhlak karimah bagi peserta didik di MI Ar-Rahim kecamatan Arjasa Kabupaten Jember. Auladuna: Jurnal Prodi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah2(1), hal.33

[5] Mashuri, I., & Fanani, A. A. (2021). Internalisasi Nilai-Nilai Akhlak Islam Dalam Membentuk Karakter Siswa Sma Al-Kautsar Sumbersari Srono Banyuwangi. Jurnal Ilmiah Ar-Risalah: Media Ke-Islaman, Pendidikan Dan Hukum Islam19(1), 157-169.

[6] Mashuri, I., & Fanani, A. A. (2021). Internalisasi Nilai-Nilai Akhlak Islam Dalam Membentuk Karakter Siswa Sma Al-Kautsar Sumbersari Srono Banyuwangi. Jurnal Ilmiah Ar-Risalah: Media Ke-Islaman, Pendidikan Dan Hukum Islam19(1), 166


0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *