PESANTREN SEBAGAI WADAH MEMBANGUN FONDASI MORAL DALAM PEMBENTUKAN KARAKTER PRESPEKTIF ISLAM

Published by Buletin Al Anwar on

Nailatul Muna

Program Studi Pendidikan Agama Islam

Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Email: [email protected]

Pendidikan merupakan tonggak utama dalam pembentukan karakter individu, dan dalam pembahasan ini Pendidikan akidah yang berfokus pada penanaman nilai akhlak memiliki peran yang sangat penting. Akidah, Sebagai dasar keyakinan agama bukan hanya memadu pandangan seseorang tapi juga menjadi fondasi moral yang mendalam dalam pembentukan karakter diri dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai akhlak seperti jujur, toleransi, kasih sayang, dan integritas merupakan inti dari ajaran agama yang menjadi pedoman hidup bermasyarakat.

Sebuah pemahaman akidah yang kokoh menciptakan individu yang tidak hanya memiliki keyakinan, tetapi juga memiliki pedoman moral yang kuat untuk menghadapi tantangan kehidupan. Dalam dunia yang terus berubah sesuai perkembangan zaman. Sehingga nilai-nilai akhlak yang kuat memberikan landasan yang stabil. Dala artikel ini kami akan memaparkan peran penting Pendidikan akidah dalam penanaman nilai-nilai akhlak serta bagaimana Pendidikan tersebut membentuk karakter individu serta Masyarakat.

Pengertian Pondok Pesantren.

Pesantren merupakan tempat belajar agama Islam yang sudah ada sejak zaman dahulu sebelum kemerdekaan, mulai dari pesantren tradisional, Salafi hingga sekarang terdapat banyak pesantren modern. Dengan adanya perkembangan zaman, pesantren pun mengalami perkembangan mulai dari kuno hingga modern akan tetapi nilai-nilai moral yang diajarkan dalam dunia pesantren tetap kental dan tidak akan luntur.

Menurut Abdurrahman Mas’ud bahwa keberadaan pesantren tidak lepas dari peran Wali songo. Figur penyebar agama Islam di Jawa. Wali songo punya peran besar dalam pengembangan ajaran Islam secara tradisional melalui lembaga pendidikan Islam tradisional[1], contoh seperti pesantren Ampel, pesantren sunan Drajat, dll.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, pesantren dimaknai sebagai asrama, tempat santri, atau tempat murid-murid belajar mengaji. Sedangkan secara istilah pesantren merupakan Lembaga Pendidikan Islam, para santri biasanya tinggal dipondok (asrama) dengan diajarkan materi keagamaan, baik dari kitab klasik maupun kitab umum. Dengan tujuan agar dapat menguasai ilmu agama Islam serta mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari, dan mengetahui pentingnya moral dalam hidup bermasyarakat

Interaksi tradisi pesantren dan tradisi yang berkembang di masyarakat sudah terjalin sejak awal mula berdiri pesantren itu sendiri. Dalam sejarah terdapat dua pendapat mengenai asal usul dan latar belakang pesantren di Indonesia.

  1. Pendapat pertama, yang menyebutkan bahwa pesantren berakar dari tradisi Islam sendiri, yaitu tradisi tarekat. ( Dalam hal ini pesantren mempunyai kaitan yang erat dengan pendidikan yang khas bagi kaum sufi). . pendapat ini didasari fakta bahwa penyiaran Islam di Indonesia pada awalnya lebih banyak dikenal dalam bentuk kegiatan tarekat, seperti melaksanakan amalan-amalan dzikir, wiridan, yang mana pemimpin tarekat disebut dengan istilah kiai. Bermula dari pengajian yang akhirnya tumbuh dan berkembang menjadi lembaga pesantren.
  2. Pendapat kedua, yang menyebutkan bahwa pesantren mulanya merupakan pengambilalihan dari sistem pesantren yang diadakan oleh orang Hindu di Nusantara. Hal ini berdasarkan fakta bahwa sebelum datangnya Islam di Indonesia lembaga pesantren sudah ada di negeri ini . Akan tetapi dikhususkan untuk pengajaran agama Hindu dan untuk membina kader kader penyebar agama Hindu.[2]

Fungsi Pesantren

Sudah banyak dalam jurnal tanah air yang menyinggung terkait pondok pesantren, termasuk fungsinya. Sebagaimana pernyataan Tolhah Hasan mantan Menteri agama RI, yang telah dikutip dalam karya ilmiah karangan Ria Gumilang dan Asep Nurcholis. Bahwa sudah seharusnya pondok pesantren mampu menghidupkan fungsi-fungsi sebagai berikut :

  1. Tafaqquh fi al-din, Pesantren sebagai Lembaga Pendidikan melakukan pembekalan ilmu-ilmu agama serta nilai-nilai Islam
  2. Melakukan kontrol sosial terhadap peserta didik/santri
  3. Pesantren sebagai Lembaga Pendidikan keagamaan yang melakukan rekayasa sosial (sosial enginering) atau perkembangan Masyarakat.[3]

Hubungan Moral dan Pembentukan Karakter

Pendidikan akidah dan moral memiliki peran sentral dalam agama Islam, dan pesantren adalah lembaga tradisional yang memainkan peran kunci dalam pengembangan karakter dalam kerangka Islam. hakikat karakter dalam pendidikan akidah dan moral di pesantren, dalam perspektif Islam yang kaya nilai dan etika,  mencakup nilai-nilai seperti kejujuran, keadilan, dan kasih sayang. Pesantren mengajarkan bahwa perilaku moral adalah cerminan dari keyakinan dan akidah yang dianut. Ketika karakter individu kuat dalam hal moralitas, mereka akan menjadi anggota masyarakat yang bertanggung jawab dan adil.

Etika dan moral merupakan dua hal yang berkesinambungan tapi berbeda. Etika merupakan ilmu yang mengkaji tentang persoalan baik dan buruknya suatu hal berdasarkan dengan standar akal pikiran manusia. Sedangkan moral merupakan ilmu untuk menilai baik dan buruknya  suatu hal dengan berdasarkan ukuran tradisi dan budaya seseorang atau diwilayah tersebut. Etika moral sangat berpengaruh terhadap pembentukan karakter seseorang.

Pembentukan karakter merupakan proses individu yang melibatkan nilai-nilai, sikap dan sifat yang akan membentuk kepribadian atau identitas seseorang. Moral yang kuat dan positif berperan penting dalam membentuk karakter yang baik. Ketika seseorang telah mempraktikkan nilai-nilai moral seperti kejujuran, toleransi, kerja keras, dan empati maka karakter seseorang cenderung menjadi baik. Hal ini dapat menciptakan dasar hubungan yang sehat baik secara pribadi maupun dalam Masyarakat.

Pembentukan Karakter Dalam  Perspektif Islam

  Karakter identik dengan akhlak, moral dan etika. Maka dalam perspektif Islam karakter termasuk hasil dari proses penerapan syariat baik itu dalam hal ibadah maupun muamalahnya. Yang berlandaskan dengan akidah yang kokoh, disandarkan pada al-Quran dan sunah rasul[4]. Dalam Islam pendidikan karakter identik dengan perkataan “ Akhlak” , orang yang memiliki akhlak baik berarti memiliki karakter yang baik. Selain istilah akhlak dalam Bahasa Jawa juga sering dikenal dengan istilah “Totokromo atau Andap Ashor “ , istilah tersebut juga sering digunakan di pondok pesantren pada umumnya.[5]

Pesantren sebagai wadah membangun fondasi moral dalam pembentukan karakter

Pesantren merupakan suatu tempat Pendidikan tradisional yang fokus pada ajaran akidah atau keyakinan, yang berpedoman pada sunah atau tradisi nabi Muhammad dalam pembentukan karakter Karena dalam diri beliau terdapat suri tauladan yang baik. (QS. Al-Qalam: 4, QS. Al-Ahzab:21) Sunah nabi  meliputi tingkah laku, etika, dan nilai-nilai yang harus dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.

Pendidikan karakter dipesantren bukanlah proses sekali jalan atau sebentar tapi justru memerlukan waktu yang tidak singkat, pembelajaran yang dilakukan seumur hidup. Tiap individu diajarkan untuk meningkatkan akidah dan moralitas mereka sepanjang hidup , sehingga mereka bisa terus berkembang untuk menjadi pribadi yang lebih baik dalam Islam.  Di dalam pesantren individu akan diajarkan untuk peduli terhadap sekitar terutama kesejahteraan Masyarakat serta menghormati hak asasi manusia, sehingga dengan berjalanya waktu akan terbentuk karakter yang baik, berakhlakul karimah serta memiliki akidah yang Tangguh.

Dalam perkembangan zaman, pesantren melahirkan produk budaya yang bercorak. Budaya tersebut perlahan menjadi sebuah sistem nilai yang menjadi habitus masyarakat dalam kehidupannya. Ada beberapa sistem nilai yang terbangun dari pesantren ini, antara lain:

  1. Yakni membangun karakter dalam proses pembelajaran agama. Maka dari itu kaum santri terkenal dengan identitasnya yang sederhana dan jauh dari kesan mewah dan modern.
  2. Pertahanan budaya. Karakter pesantren yang identik dengan nilai tradisional memberikan roh bagaimana Pesantren melestarikan budaya dan tradisi yang ada yang berdasarkan pada ajaran Islam. Karena konsep pertahanan budaya pula dunia Pesantren selalu tegap dalam menghadapi hegemoni dunia luar. Sehingga sampai saat ini Pesantren mampu menghadirkan tradisi pada masa kekinian.
  3. Budaya keilmuan yang tinggi. Pesantren merupakan lembaga pendidikan keagamaan berbagai ilmu agama diajarkan dengan berbagai referensi dan kecenderungan aliran sehingga menghasilkan budaya keilmuan yang tinggi. Karena untuk dinyatakan lulus seorang santri harus menguasai kitab-kitab tertentu yang dijadikan panduan dalam sebuah pesantren.
  4. Kaum santri memiliki karakter ketaatan yang sangat kuat terhadap kiai ketaatan ini merupakan wujud sikap beragama di mana kiai dipandang sebagai orang yang memiliki pemahaman yang lebih tinggi. Sikap nasionalisme santri misalnya bisa dibuktikan melalui momentum resolusi jihad 1945[6]

KESIMPULAN

Pesantren termasuk salah satu tempat yang dijadikan sebagai wadah pembentukan karakter dalam agama Islam. Karena dalam pesantren lebih fokus kepada pengajaran akidah dan agama. Sehingga dapat melatih individu untuk menjadi kepribadian yang bermoral sehingga dapat membentuk karakter yang baik dan Tangguh sesuai dengan ajaran agama Islam.

 

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah., C. (2014). Tradisi pesantren sebagai pusat peradaban muslim    nusantara. Jurnal pemikiran islam dan filsafat, Vol. XI, No. 2 .

musrifah. (2016). Pendidikan Karakter dalam Prespektif Islam . Edukasia Islamika , 123-125.

Mustaqim, S. M. (2015). Pesantren sebagai Habitus Peradaban Islam Di indonesia . Jurnal Penelitian Vol. 9, No. 2 .

Ria Gumilang, d. A. (2018). Peran Pondok Pesantren Dalam Pembentukan Karakter Santri. Jurnal COMM-EDU. Vol. 1, No. 3, 44.

Sahlan, A. (n.d.). Pendidikan Karakter dalam Prespektif Islam. el- Hikmah Fakultas Tarbiyah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, 146.

[1] Mustaqim, S. M. (2015). Pesantren sebagai Habitus Peradaban Islam Di indonesia . Jurnal Penelitian Vol. 9, No. 2 .

[2] Abdullah., C. (2014). Tradisi pesantren sebagai pusat peradaban muslim nusantara. Jurnal pemikiran islam dan filsafat, Vol. XI, No. 2 .

[3]  Gumilang, d. A. (2018). Peran Pondok Pesantren Dalam Pembentukan Karakter Santri. Jurnal COMM-EDU. Vol. 1, No. 3, 44.

[4] musrifah. (2016). Pendidikan Karakter dalam Prespektif Islam . Edukasia Islamika , 123-125.

[5] Sahlan, A. (n.d.). Pendidikan Karakter dalam Prespektif Islam. el- Hikmah Fakultas Tarbiyah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, 146

[6] Mustaqim, S. M. (2015). Pesantren sebagai Habitus Peradaban Islam Di indonesia . Jurnal Penelitian Vol. 9, No. 2 .


0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *