AKIDAH SEBAGAI BENTENG PERTAHANAN KARAKTER SISWA DALAM MENGHADAPI DAMPAK NEGATIF MEDIA SOSIAL

Published by Buletin Al Anwar on

Nasik Fikri Haidary

Program Studi Pendidikan Agama Islam Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

([email protected])

Abstract

In an era where social media has become an integral part of daily life, the role of faith (aqidah) in shaping the character of students becomes increasingly important. This article explores how faith, as a defensive fortress, is able to protect the character of students from the negative impacts of social media. Through a qualitative approach, this article aims to examine in depth the aspects of faith that need to be instilled in students, the importance of improving students’ character for the better, the importance of students being wise in using social media, and efforts to internalize Islamic faith in fortifying students’ character. The results of the analysis show that the aspects of faith that need to be instilled in students include: Tauhid (Belief in the Oneness of God), Faith in Angels, Faith in the Books of God, Faith in Prophets and Messengers, Faith in the Day of Judgment, Faith in Qadar (Divine Preordainment). Developing good character in students will help them develop positive values such as honesty, integrity, responsibility, discipline, tolerance, and concern for others. In using social media, students must prioritize learning activities and academic tasks, and must also be able to manage their time wisely. Efforts that can be made include always remembering and putting trust in God in every step of life.

Keywords: Faith, Students’ character, Social media

Abstrak

Dalam era di mana media sosial telah menjadi bagian integral dari kehidupan sehari-hari, peran akidah dalam membentuk karakter siswa menjadi semakin penting. Artikel ini mengeksplorasi bagaimana akidah, sebagai benteng pertahanan, mampu melindungi karakter siswa dari dampak negatif media sosial. Melalui pendekatan kualitatif, artikel ini bertujuan untuk mengkaji secara mendalam tentang akidah apa saja yang perlu ditanamkan kepada peserta didik, pentingnya membenahi karakter siswa agar menjadi lebih baik, pentinganya peserta didik bijak dalam menggunakan sosial media, dan upaya  internalisasi akidah islamiyah didalam membentengi karakter siswa. Hasil analisis menunjukkan bahwa Akidah yang perlu ditanamkan kepada peserta didik meliputi: Tauhid (Keyakinan Akan Keesaan Allah), Iman Kepada Malaikat, Iman Kepada Kitab-Kitab Allah, Iman Kepada Nabi dan Rasul, Iman Kepada Hari Akhir, Iman Kepada Qada dan Qadar. Pembentukan karakter yang baik pada siswa akan membantu mereka mengembangkan nilai-nilai positif seperti kejujuran, integritas, tanggung jawab, disiplin, toleransi, dan kepedulian terhadap sesama. Dalam menggunakan media sosial, peserta didik harus memprioritaskan kegiatan belajar dan tugas-tugas akademik mereka, dan juga harus bisa mengatur waktu dengan bijak. Upaya yang bisa dilakukan berupa senantiasa mengingat dan bertawakal kepada Allah dalam setiap langkah kehidupannya.

Kata Kunci: Akidah, karakter siswa, media sosial

PENDAHULUAN

Dalam era teknologi informasi yang berkembang pesat, media sosial telah menjadi bagian integral dari kehidupan sehari-hari, terutama bagi generasi muda. Meskipun media sosial memiliki banyak manfaat dalam hal komunikasi dan pertukaran informasi, namun juga membawa sejumlah tantangan dan dampak negatif yang tidak dapat diabaikan. Salah satu dampak negatif yang paling signifikan adalah pengaruhnya terhadap pembentukan karakter siswa.[1] Berbagai studi telah menunjukkan bahwa paparan berlebihan terhadap media sosial dapat menyebabkan masalah seperti cyberbullying, rendahnya kepercayaan diri, dan eksposur terhadap konten yang tidak pantas. Hal ini dapat membahayakan perkembangan karakter siswa, yang merupakan pondasi penting bagi kesuksesan akademis dan kehidupan mereka di masa depan.

Dalam menghadapi tantangan ini, akidah, yang merupakan pondasi keimanan dalam Islam, memiliki peran penting sebagai benteng pertahanan bagi siswa.[2] Akidah yang kokoh dapat membantu siswa mengembangkan nilai-nilai moral dan spiritual yang kuat, sehingga mereka dapat membentengi diri dari pengaruh negatif media sosial dan membentuk karakter yang positif. Oleh karena itu, integrasi akidah dalam pendidikan menjadi sangat penting untuk membantu siswa menghadapi tantangan di dunia digital saat ini.[3] Melalui pendidikan agama yang kuat dan pembentukan nilai-nilai moral yang kokoh, siswa dapat mengembangkan ketahanan dan kekuatan karakter yang diperlukan untuk mengatasi dampak negatif media sosial.

Kajian mengenai tema ini menjadi semakin relevan mengingat bahwa generasi muda, khususnya para siswa, merupakan kelompok yang paling rentan terhadap dampak negatif media sosial. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa siswa yang memiliki pemahaman akidah yang kuat cenderung memiliki karakter yang lebih tangguh, seperti keteguhan dalam pendirian, kemampuan berpikir kritis, serta kepekaan sosial dan spiritual. Sebaliknya, siswa yang kurang memiliki fondasi akidah yang kokoh akan lebih mudah terpengaruh oleh budaya dan perilaku negatif di media sosial, yang dapat mengikis nilai-nilai karakter yang seharusnya dimiliki. Oleh karena itu, upaya pembinaan akidah di lingkungan sekolah menjadi sangat penting untuk dilakukan. Selain melalui mata pelajaran agama, penanaman akidah dapat diintegrasikan dalam seluruh proses pendidikan, mulai dari kurikulum, metode pembelajaran, kegiatan ekstrakurikuler, hingga keteladanan dari guru dan seluruh warga sekolah. Dengan demikian, diharapkan siswa dapat memiliki benteng pertahanan yang kokoh dalam menghadapi arus negatif media sosial dan mempertahankan karakter positif yang selaras dengan nilai-nilai akidah.

Pendekatan holistik dan kolaboratif juga diperlukan dalam mengatasi tantangan dampak negatif media sosial bagi siswa. Peran orang tua, guru, dan komunitas masyarakat sekitar menjadi kunci penting dalam membentuk lingkungan yang kondusif bagi penanaman akidah dan penguatan karakter siswa. Orang tua perlu memastikan pemantauan dan pendampingan yang baik terhadap penggunaan media sosial oleh anak-anak mereka. Guru di sekolah juga harus berkomitmen untuk menjadi teladan dalam menerapkan nilai-nilai akidah dan karakter positif dalam keseharian. Selain itu, upaya sinergi antara pihak sekolah, orang tua, dan komunitas masyarakat sekitar juga diperlukan dalam mengembangkan program-program pembinaan akidah dan pendidikan karakter yang komprehensif bagi siswa. Dengan demikian, diharapkan akan tercipta ekosistem yang mendukung terbentuknya generasi muda yang tangguh dalam menghadapi tantangan media sosial, sekaligus memiliki karakter yang selaras dengan nilai-nilai akidah. Oleh karena itu, artikel ini bertujuan untuk mengkaji secara mendalam tentang akidah apa saja yang perlu ditanamkan kepada peserta didik, pentingnya membenahi karakter siswa agar menjadi lebih baik, pentinganya peserta didik biajak dalam menggunakan sosial media, dan upaya didalam internalisasi akidah islamiyah didalam membentengi karakter siswa.

METODE PENELITIAN

Jenis Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka (library research). Pendekatan kualitatif dipilih untuk dapat melakukan analisis mendalam terhadap konsep, teori, dan hasil penelitian terdahulu terkait peran akidah dalam membentuk karakter dan menghadapi dampak negatif media sosial.

Sumber Data Sumber data utama dalam penelitian ini adalah berbagai literatur, baik berupa buku, jurnal ilmiah, artikel, laporan penelitian, maupun sumber-sumber relevan lainnya. Sumber-sumber tersebut mencakup: a. Konsep dan teori terkait akidah, pendidikan karakter, dan dampak media sosial. b. Hasil penelitian sebelumnya mengenai pembinaan akidah di sekolah dan pengaruhnya terhadap karakter siswa. c. Kebijakan dan program-program pemerintah dalam pembinaan akidah dan pendidikan karakter. d. Pandangan dan pemikiran para pakar atau tokoh terkait tema penelitian.

Teknik Pengumpulan Data a. Penelusuran literatur melalui berbagai sumber, baik cetak maupun digital, seperti buku, jurnal, prosiding, dan artikel daring. b. Pencatatan dan pengutipan data-data yang relevan dengan fokus penelitian. c. Klasifikasi dan pengorganisasian data berdasarkan tema-tema atau sub-topik yang berkaitan.

Teknik Analisis Data Data yang telah dikumpulkan akan dianalisis secara kualitatif dengan langkah-langkah: a. Reduksi data, yaitu memilah, memfokuskan, dan mengorganisasikan data yang relevan dengan tema penelitian. b. Penyajian data dalam bentuk narasi, tabel, atau bagan untuk memudahkan pemahaman dan penarikan kesimpulan. c. Penarikan kesimpulan dan verifikasi data untuk menjawab pertanyaan penelitian.

Keabsahan Data Untuk menjamin keabsahan data, penelitian ini akan menggunakan teknik triangulasi sumber dan metode. Triangulasi sumber dilakukan dengan membandingkan data yang diperoleh dari berbagai literatur, sedangkan triangulasi metode dilakukan dengan mengkombinasikan analisis isi (content analysis) dan sintesis.

Melalui metode penelitian kepustakaan yang komprehensif ini, diharapkan artikel dapat menghasilkan analisis yang mendalam dan rekomendasi yang relevan terkait peran akidah sebagai benteng pertahanan karakter siswa dalam menghadapi dampak negatif media sosial.

PEMBAHASAN

    1. Akidah

Menurut Imam Abu Hasan Al-Asy’ari Akidah Ahlussunnah wal Jama’ah adalah beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, hari akhir, dan beriman kepada qadar yang baik maupun yang buruk.[4]” Lebih lanjut Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa Akidah Ahlussunnah wal Jama’ah adalah beriman kepada Allah dengan segala sifat-Nya yang wajib, mustahil, dan jaiz, beriman kepada para malaikat, kitab-kitab, para rasul, hari akhir, dan qada’ dan qadar.[5]” dari dua definisi tersebut akidah Islam merupakan fondasi utama bagi setiap Muslim, dan sangat penting untuk ditanamkan kepada peserta didik. Berikut adalah beberapa pokok akidah Islam yang perlu ditanamkan:

  1. Tauhid (Keyakinan Akan Keesaan Allah)

Peserta didik harus diajarkan untuk beriman kepada Allah sebagai Tuhan Yang Maha Esa, Maha Kuasa, dan Maha Sempurna. Ini berdasarkan firman Allah dalam Alquran surah Al-Ikhlas ayat 1-4.

  1. Iman Kepada Malaikat

Peserta didik harus diajarkan untuk beriman kepada malaikat-malaikat Allah, yang diciptakan untuk beribadah dan melaksanakan perintah-Nya. Hal ini berdasarkan firman Allah dalam Alquran surah An-Nisa ayat 136.

  1. Iman Kepada Kitab-Kitab Allah

Peserta didik harus diajarkan untuk beriman kepada kitab-kitab suci yang diturunkan Allah, termasuk Alquran, Taurat, Zabur, dan Injil. Ini berdasarkan firman Allah dalam Alquran surah An-Nisa ayat 136.

  1. Iman Kepada Nabi dan Rasul

Peserta didik harus diajarkan untuk beriman kepada para nabi dan rasul yang diutus Allah untuk membimbing umat manusia, termasuk Nabi Muhammad SAW. Hal ini berdasarkan firman Allah dalam Alquran surah An-Nisa ayat 136.

  1. Iman Kepada Hari Akhir

Peserta didik harus diajarkan untuk beriman kepada Hari Akhir, yaitu hari ketika semua manusia akan dimintai pertanggungjawaban atas perbuatannya di dunia. Ini berdasarkan firman Allah dalam Alquran surah Al-Baqarah ayat 8-9.

  1. Iman Kepada Qada dan Qadar

Peserta didik harus diajarkan untuk beriman kepada takdir (Qada dan Qadar) yang ditetapkan oleh Allah, baik yang baik maupun yang buruk. Hal ini berdasarkan hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Muslim.

Penanaman akidah Islam yang kuat akan menjadi pondasi bagi peserta didik untuk membangun kehidupan yang sesuai dengan ajaran Islam. Penanaman akidah Islamiyah pada peserta didik merupakan hal yang sangat penting dan mendasar dalam pendidikan Islam. Ini dikarenakan akidah merupakan fondasi utama bagi seluruh ajaran Islam, yang akan mengarahkan seluruh aspek kehidupan seorang Muslim. Sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, “Akidah adalah keyakinan yang mantap dalam hati, yang tidak ada keraguan sedikitpun di dalamnya, dan merupakan landasan bagi seluruh ibadah.[6]

Imam Al-Ghazali juga menegaskan, “Akidah Ahlussunnah wal Jama’ah adalah beriman kepada Allah dengan segala sifat-Nya yang wajib, mustahil, dan jaiz, beriman kepada para malaikat, kitab-kitab, para rasul, hari akhir, dan qada’ dan qadar.[7]” Penanaman akidah Islamiyah pada peserta didik akan memberikan manfaat yang sangat besar, di antaranya:

  1. Membentuk kepribadian Muslim yang kokoh dan konsisten. Akidah yang tertanam dengan baik akan menjadi pondasi bagi peserta didik dalam membentuk kepribadian Muslim yang kuat dan teguh dalam menjalankan ajaran agama.
  2. Mengarahkan perilaku yang sesuai dengan ajaran Islam. Pemahaman akidah yang benar akan membuat peserta didik mampu mengarahkan perilaku dan tindakannya sesuai dengan ajaran Islam.
  3. Meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah. Penanaman akidah yang baik akan meningkatkan keimanan dan ketakwaan peserta didik kepada Allah SWT sebagai Tuhan Yang Maha Esa.
  4. Membentengi dari pengaruh negatif. Akidah yang kuat akan menjadi benteng bagi peserta didik dalam menghadapi pengaruh negatif, seperti paham sekuler, liberalisme, dan radikalisme.

Sebagaimana firman Allah dalam Alquran surah An-Nisa ayat 136, “Wahai orang-orang yang beriman! Tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, dan kepada Kitab yang Dia turunkan kepada Rasul-Nya, serta kitab yang Dia turunkan sebelumnya.” Oleh karena itu, penanaman akidah Islamiyah yang benar dan komprehensif pada peserta didik merupakan kewajiban bagi setiap pendidik, agar mereka tumbuh menjadi generasi Muslim yang kokoh imannya, berakhlak mulia, dan senantiasa taat kepada Allah SWT.

  1. Karakter Siswa

Menurut Kementerian Pendidikan Nasional, karakter adalah sifat bawaan, kepribadian, atau akhlak seseorang yang terbentuk dari internalisasi berbagai nilai kebajikan yang diyakini dan dijadikan landasan dalam cara memandang, berpikir, bersikap, dan bertindak. Nilai kebajikan tersebut meliputi kejujuran, keberanian untuk bertindak, dapat dipercaya, dan menghormati orang lain.[8]

Sementara itu, Lickona mendefinisikan karakter sebagai kecenderungan bawaan seseorang untuk merespons situasi dengan cara yang bermoral baik. Karakter merupakan sifat alami individu dalam merespons situasi secara bermoral, yang diwujudkan melalui tindakan nyata seperti tingkah laku yang baik, jujur, bertanggung jawab, menghormati orang lain, dan memiliki karakter mulia lainnya.[9]

Selain itu, Samani dan Hariyanto mendefinisikan karakter sebagai cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas setiap individu dalam menjalani kehidupan dan bekerjasama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa, maupun negara. Individu yang berkarakter baik adalah individu yang dapat mengambil keputusan dan siap mempertanggungjawabkan setiap konsekuensi dari keputusannya.[10]

Dari beberapa definisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa karakter siswa adalah watak, tabiat, akhlak, atau kepribadian siswa yang terbentuk dari internalisasi berbagai nilai, moral, dan norma, yang menjadi ciri khas dalam cara berpikir, bersikap, dan berperilaku dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat.

Membenahi karakter siswa merupakan salah satu aspek terpenting dalam dunia pendidikan. Karakter yang baik akan menjadi pondasi bagi siswa untuk tumbuh menjadi individu yang bermartabat dan berkontribusi positif bagi masyarakat. Oleh karena itu, upaya untuk memperbaiki dan membentuk karakter siswa harus menjadi prioritas utama bagi setiap lembaga pendidikan.[11]

Pembentukan karakter yang baik pada siswa akan membantu mereka mengembangkan nilai-nilai positif seperti kejujuran, integritas, tanggung jawab, disiplin, toleransi, dan kepedulian terhadap sesama.[12] Dengan memiliki karakter yang kuat, siswa akan memiliki pegangan hidup yang kokoh serta mampu menghadapi tantangan dan godaan yang dapat merusak moral mereka. Siswa yang memiliki karakter baik cenderung memiliki prestasi akademik yang lebih baik dan perilaku yang lebih positif di lingkungan sekolah.[13] Mereka akan lebih termotivasi untuk belajar, menghargai proses pendidikan, dan menghormati guru serta teman sebaya. Suasana belajar pun menjadi lebih kondusif dan mendukung terciptanya lingkungan pendidikan yang sehat.

Upaya membenahi karakter siswa dapat dilakukan melalui berbagai cara, seperti pendidikan karakter yang terintegrasi dalam kurikulum, pengembangan budaya sekolah yang positif, serta keteladanan dari para guru dan orang tua.[14] Kolaborasi antara sekolah, keluarga, dan masyarakat juga sangat penting dalam mewujudkan lingkungan yang mendukung pembentukan karakter siswa. Dengan membenahi karakter siswa sejak dini, kita tidak hanya mempersiapkan mereka untuk menjadi individu yang sukses secara akademis, tetapi juga mencetak generasi muda yang bermartabat, bertanggung jawab, dan mampu memberikan kontribusi positif bagi kemajuan bangsa dan negara.[15]

Media Sosial

Di era digital saat ini, media sosial telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari, terutama bagi kalangan pelajar dan mahasiswa. Meskipun media sosial membawa banyak manfaat dalam hal bersosialisasi, mencari informasi, dan mengekspresikan diri, namun penggunaannya yang tidak bijak dapat membawa dampak negatif yang serius.[16] Oleh karena itu, peserta didik harus bijak dalam menggunakan media sosial. Mereka harus memahami bahwa apa yang mereka unggah di media sosial dapat berdampak pada reputasi dan masa depan mereka.[17]

Penting bagi mereka untuk menjaga privasi dan keamanan akun media sosial mereka dengan mengatur pengaturan privasi dengan benar dan tidak membagikan informasi pribadi secara sembarangan.[18] Selain itu, peserta didik harus kritis dalam menerima informasi yang beredar di media sosial. Mereka harus belajar untuk memverifikasi sumber informasi dan tidak mudah percaya pada berita palsu atau hoaks yang dapat menyesatkan.[19] Mereka juga harus menghindari perilaku cyber-bullying, penyebaran konten negatif, atau tindakan lain yang dapat merugikan orang lain.[20]

Dalam menggunakan media sosial, peserta didik harus memprioritaskan kegiatan belajar dan tugas-tugas akademik mereka. Mereka harus mengatur waktu dengan bijak dan tidak menghabiskan terlalu banyak waktu di media sosial yang dapat mengganggu produktivitas dan prestasi akademik mereka.[21] Dengan menggunakan media sosial secara bijak, peserta didik dapat memanfaatkan platform tersebut untuk mengembangkan diri, berkolaborasi, dan mencari peluang baru, serta menjaga nama baik dan reputasi mereka di dunia maya.[22] Bijak dalam menggunakan media sosial akan membantu mereka menjadi individu yang bertanggung jawab dan berkontribusi positif bagi masyarakat.

Upaya akidah islam dalam membentengi karakter siswa

Akidah Islam merupakan pondasi utama dalam membentuk karakter yang kuat dan bermartabat bagi seorang siswa.[23] Akidah yang kokoh akan menjadi benteng pertahanan diri dari berbagai pengaruh negatif dan perilaku menyimpang yang dapat merusak moral dan kepribadian seorang siswa. Salah satu upaya akidah Islam dalam membentengi karakter siswa adalah menanamkan keimanan yang kuat kepada Allah SWT. Siswa diajarkan untuk senantiasa mengingat dan bertawakal kepada Allah dalam setiap langkah kehidupannya. Dengan keimanan yang kuat, siswa akan memiliki pegangan hidup yang kokoh dan tidak mudah tergoyahkan oleh godaan dan rayuan yang bertentangan dengan ajaran Islam. Selain itu, akidah Islam juga mengajarkan siswa untuk senantiasa berbuat baik dan menjauhi perbuatan buruk. Siswa dididik untuk memiliki akhlak mulia, seperti jujur, amanah, sabar, pemaaf, dan berbakti kepada orang tua serta guru. Dengan akhlak yang baik, siswa akan terhindar dari perilaku tercela seperti berbohong, mencuri, atau melakukan tindakan kriminal lainnya.

Upaya lain yang dilakukan akidah Islam adalah menanamkan rasa tanggung jawab dan integritas kepada siswa.[24] Siswa diajarkan untuk bertanggung jawab atas segala perbuatan yang dilakukan dan memiliki integritas yang tinggi dalam menjalani kehidupan. Dengan tanggung jawab dan integritas yang kuat, siswa akan mampu menghadapi godaan dan tantangan dengan penuh keteguhan hati. Melalui pemahaman dan pengamalan akidah Islam yang benar, siswa akan terbentuk menjadi pribadi yang berkarakter mulia, berakhlak terpuji, dan memiliki integritas yang tinggi. Mereka akan mampu menghadapi berbagai godaan dan pengaruh negatif yang dapat merusak karakter mereka.[25] Dengan demikian, akidah Islam berperan penting dalam membentengi dan membentuk karakter siswa yang tangguh dan bermartabat.

Dalam proses menanamkan akidah yang kuat, pendidikan agama Islam di sekolah memiliki peranan yang sangat penting. Melalui pembelajaran agama yang efektif dan menyentuh hati, para siswa dapat memahami dan menghayati nilai-nilai akidah secara mendalam. Guru-guru agama hendaknya mampu menyampaikan materi dengan cara yang menarik dan kontekstual, sehingga siswa dapat mengambil pelajaran dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari.[26] Selain itu, lingkungan sekolah juga harus mendukung terbentuknya karakter yang baik berdasarkan akidah Islam. Pihak sekolah dapat membuat program-program yang menunjang pengembangan akhlak dan integritas, seperti kegiatan mentoring, bakti sosial, dan pendalaman kajian keislaman.[27] Dengan demikian, siswa tidak hanya memperoleh pengetahuan tentang akidah, tetapi juga mendapat bimbingan dan teladan untuk mengamalkannya.

Peran orang tua juga tak kalah penting dalam membentengi karakter anak melalui akidah Islam. Orang tua harus memberikan bimbingan dan keteladanan dalam menanamkan nilai-nilai keimanan dan ketakwaan kepada anak sejak dini.[28] Suasana rumah yang religious dan penuh kasih sayang akan membentuk kepribadian anak yang tangguh dan berkarakter mulia. Dengan upaya yang komprehensif dari berbagai pihak, akidah Islam akan dapat menjadi benteng yang kokoh bagi siswa dalam menghadapi berbagai tantangan dan godaan di era modern ini. Mereka akan tumbuh menjadi generasi yang beriman, berakhlak, dan memiliki integritas yang tinggi, sehingga mampu memberikan kontribusi positif bagi kemajuan bangsa dan negara.[29]

KESIMPULAN

Akidah yang perlu ditanamkan kepada peserta didik meliputi: Tauhid (Keyakinan Akan Keesaan Allah), Iman Kepada Malaikat, Iman Kepada Kitab-Kitab Allah, Iman Kepada Nabi dan Rasul, Iman Kepada Hari Akhir, Iman Kepada Qada dan Qadar. Pembentukan karakter yang baik pada siswa akan membantu mereka mengembangkan nilai-nilai positif seperti kejujuran, integritas, tanggung jawab, disiplin, toleransi, dan kepedulian terhadap sesama. Dalam menggunakan media sosial, peserta didik harus memprioritaskan kegiatan belajar dan tugas-tugas akademik mereka, dan juga harus bisa mengatur waktu dengan bijak. Upaya yang bisa dilakukan berupa senantiasa mengingat dan bertawakal kepada Allah dalam setiap langkah kehidupannya.

DAFTAR PUSTAKA

Aisyah Umami, “Peran Akidah dalam Pembentukan Karakter Siswa,” Jurnal Pendidikan Islam 3, no. 2 (2017).

Al-Ghazali, M. (2005). “terjemah Ihya’ Ulumuddin”

Al-Ibanah ‘an Ushul ad-Diyanah, hal. 79

American Academy of Pediatrics. (2020). Media Use in School-Aged Children and Adolescents.

Berkowitz, M. W., & Bier, M. C. (2005). What Works in Character Education: A Research-Driven Guide for Educators. Washington, DC: Character Education Partnership.

Common Sense Education. (2022). Social Media and Digital Footprints.

Durlak, J. A., Weissberg, R. P., Dymnicki, A. B., Taylor, R. D., & Schellinger, K. B. (2011). The Impact of Enhancing Students’ Social and Emotional Learning: A Meta-Analysis of School-Based Universal Interventions. Child Development, 82(1), 405-432.

Heri Gunawan, “Pendidikan Karakter dalam Perspektif Islam,” Jurnal Pendidikan Islam 2, no. 1 (2014).

Imam Ghazali, Ihya’ Ulumiddin, Jilid 1, hal. 107

Kementerian Agama Republik Indonesia, “Kurikulum Pendidikan Agama Islam pada Sekolah Umum,” (2022).

Kementerian Agama RI, “Strategi Pembelajaran Efektif Pendidikan Agama Islam,” (2017).

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. (2020). Panduan Bijak Bermedia Sosial untuk Peserta Didik.

Kementerian Pendidikan Nasional. (2010). Pengembangan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa. Jakarta: Kementerian Pendidikan Nasional.

Lickona, T. (1991). Educating for Character: How Our Schools Can Teach Respect and Responsibility. New York: Bantam Books.

Lickona, T. (2009). Educating for Character: How Our Schools Can Teach Respect and Responsibility. Bantam Books.

Marzuki, “Pembentukan Karakter Siswa Melalui Kegiatan Keagamaan,” Jurnal Islamic Education 6, no. 2 (2020).

Muhaimin, “Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam” (Rajawali Pers, 2012).

Samani, M., & Hariyanto. (2012). Konsep dan Model Pendidikan Karakter. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Sampasa-Kanyinga, H., & Lewis, R. F. (2015). “Frequent use of social networking sites is associated with poor psychological functioning among children and adolescents.” Cyberpsychology, Behavior, and Social Networking, 18(7), 380-385.

Stopbullying.gov. (2022). Cyberbullying.

UNESCO. (2021). Media and Information Literacy Curriculum for Teachers.

Unicef. (2019). Digital Literacy for Children.

University of Cambridge. (2021). Social Media for Positive Impact.

 

[1] Sampasa-Kanyinga, H., & Lewis, R. F. (2015). “Frequent use of social networking sites is associated with poor psychological functioning among children and adolescents.” Cyberpsychology, Behavior, and Social Networking, 18(7), 380-385.

[2] Al-Ghazali, M. (2005). “terjemah Ihya’ Ulumuddin”

[3] Kementerian Agama Republik Indonesia, “Kurikulum Pendidikan Agama Islam pada Sekolah Umum,” (2022).

[4] Al-Ibanah ‘an Ushul ad-Diyanah, hal. 79

[5] Ihya’ Ulumiddin, Jilid 1, hal. 107

[6] Syarh Tsalatsatul Ushul, hal. 13

[7] Ihya’ Ulumiddin, Jilid 1, hal. 107

[8] Kementerian Pendidikan Nasional. (2010). Pengembangan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa. Jakarta: Kementerian Pendidikan Nasional.

[9] Lickona, T. (1991). Educating for Character: How Our Schools Can Teach Respect and Responsibility. New York: Bantam Books.

[10] Samani, M., & Hariyanto. (2012). Konsep dan Model Pendidikan Karakter. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

[11] Lickona, T. (2009). Educating for Character: How Our Schools Can Teach Respect and Responsibility. Bantam Books.

[12] Berkowitz, M. W., & Bier, M. C. (2005). What Works in Character Education: A Research-Driven Guide for Educators. Washington, DC: Character Education Partnership.

[13] Durlak, J. A., Weissberg, R. P., Dymnicki, A. B., Taylor, R. D., & Schellinger, K. B. (2011). The Impact of Enhancing Students’ Social and Emotional Learning: A Meta-Analysis of School-Based Universal Interventions. Child Development, 82(1), 405-432.

[14] Berkowitz, M. W., & Bier, M. C. (2005). What Works in Character Education: A Research-Driven Guide for Educators. Washington, DC: Character Education Partnership.

[15] Lickona, T. (2009). Educating for Character: How Our Schools Can Teach Respect and Responsibility. Bantam Books.

[16] Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. (2020). Panduan Bijak Bermedia Sosial untuk Peserta Didik.

[17] Common Sense Education. (2022). Social Media and Digital Footprints.

[18] Unicef. (2019). Digital Literacy for Children.

[19] UNESCO. (2021). Media and Information Literacy Curriculum for Teachers.

[20] Stopbullying.gov. (2022). Cyberbullying.

[21] American Academy of Pediatrics. (2020). Media Use in School-Aged Children and Adolescents.

[22] University of Cambridge. (2021). Social Media for Positive Impact.

[23] Heri Gunawan, “Pendidikan Karakter dalam Perspektif Islam,” Jurnal Pendidikan Islam 2, no. 1 (2014).

[24] Aisyah Umami, “Peran Akidah dalam Pembentukan Karakter Siswa,” Jurnal Pendidikan Islam 3, no. 2 (2017).

[25] Heri Gunawan, “Pendidikan Karakter dalam Perspektif Islam.”

[26] Kementerian Agama RI, “Strategi Pembelajaran Efektif Pendidikan Agama Islam,” (2017).

[27] Muhaimin, “Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam” (Rajawali Pers, 2012).

[28] Marzuki, “Pembentukan Karakter Siswa Melalui Kegiatan Keagamaan,” Jurnal Islamic Education 6, no. 2 (2020).

[29] Heri Gunawan, “Pendidikan Karakter dalam Perspektif Islam.”


0 Comments

Leave a Reply