Di era modern yang serba cepat ini, manusia menghadapi krisis makna dalam relasi dan cinta. Media sosial menghadirkan ilusi kedekatan, tetapi justru banyak orang merasa kesepian dan kehilangan kedalaman emosional. Hubungan sering kali dibangun atas dasar penampilan, status, atau kepentingan sesaat, bukan ketulusan dan pengorbanan. Fenomena perceraian yang meningkat, perselingkuhan digital, dan cinta yang mudah berakhir menjadi tanda bahwa cinta modern sedang rapuh. Dalam situasi ini, kisah klasik tentang Majnun dan Layla kembali relevan untuk direnungkan. Kisah tersebut bukan sekadar legenda romantis, melainkan gambaran tentang cinta yang total, setia, dan penuh pengorbanan. Dalam perspektif agama, cinta bukan hanya persoalan perasaan, tetapi juga amanah dan jalan menuju kedewasaan spiritual, sehingga itu mengkaji kisah Majnun dan Layla dari sudut pandang keislaman dapat memberi pelajaran berharga bagi generasi masa kini.
Kisah Layla dan Majnun yang dipopulerkan oleh penyair sufi besar Nizami Ganjavi dalam karya epiknya Layla wa Majnun menggambarkan sosok Qais yang begitu mencintai Layla hingga dijuluki “Majnun” yang berarti orang gila. Cinta Qais bukan sekadar ketertarikan biasa, tetapi menjadi obsesi yang menguasai hidupnya. Ia mengembara di padang pasir, menyebut nama Layla dalam setiap helaan napasnya, dan rela meninggalkan kenyamanan dunia. Dalam tradisi tasawuf, kisah ini sering ditafsirkan sebagai alegori cinta manusia kepada Tuhan. Majnun menjadi simbol jiwa yang mabuk cinta, sementara Layla melambangkan Sang Kekasih Sejati. Kisah ini melampaui romansa biasa dan memasuki wilayah spiritual. Ia mengajarkan bahwa cinta sejati menuntut ketulusan, kesetiaan, dan pengorbanan tanpa pamrih. Nilai-nilai inilah yang justru semakin langka dalam kehidupan modern.
Dalam Al-Qur’an, cinta memiliki posisi yang luhur ketika diarahkan kepada Allah. Allah berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 165:
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَّتَّخِذُ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ اَنْدَادًا يُّحِبُّوْنَهُمْ كَحُبِّ اللّٰهِۗ وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَشَدُّ حُبًّا لِّلّٰهِۙ وَلَوْ يَرَى الَّذِيْنَ ظَلَمُوْٓا اِذْ يَرَوْنَ الْعَذَابَۙ اَنَّ الْقُوَّةَ لِلّٰهِ جَمِيْعًاۙ وَّاَنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعَذَابِ
Artinya: “Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat besar cintanya kepada Allah.” (QS. Al-Baqarah: 165). Ayat ini menunjukkan bahwa cinta tertinggi seharusnya tertuju kepada Allah. Dalam konteks kisah Majnun, kecintaannya yang total sering dipahami sebagai gambaran betapa kuatnya daya cinta dalam diri manusia. Namun agama mengajarkan bahwa cinta manusia kepada sesama tidak boleh melampaui cinta kepada Allah. Jika cinta kepada makhluk menjadi lebih dominan hingga melalaikan kewajiban, maka ia dapat menjerumuskan. Karena itu, kisah Majnun bisa menjadi refleksi tentang bagaimana cinta harus diarahkan dengan benar agar tidak menjadi penyebab kehancuran.
Selain Al-Qur’an, hadis Nabi Muhammad saw juga menegaskan pentingnya cinta yang dilandasi iman. Dalam sebuah hadis riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim disebutkan bahwa Rasulullah bersabda, “Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” Hadis ini menunjukkan bahwa cinta dalam Islam harus melahirkan kebaikan, empati, dan tanggung jawab. Cinta bukan sekadar hasrat emosional, tetapi komitmen moral. Jika kisah Majnun dipahami secara spiritual, maka kegilaannya bukanlah kegilaan destruktif, melainkan simbol kerinduan mendalam yang murni. Dalam kehidupan modern, cinta sering kehilangan dimensi tanggung jawab ini. Padahal Islam menempatkan cinta sebagai bagian dari kesempurnaan iman.
Islam juga memandang pernikahan sebagai bentuk cinta yang terhormat dan terarah. Allah berfirman dalam Surah Ar-Rum ayat 21 bahwa Dia menciptakan pasangan agar manusia mendapatkan ketenangan (sakinah), serta menjadikan di antara mereka rasa kasih (mawaddah) dan sayang (rahmah). Konsep sakinah, mawaddah, dan rahmah inilah yang seharusnya menjadi fondasi cinta, bukan sekadar gejolak perasaan. Jika dibandingkan dengan realitas modern yang sering mengagungkan kebebasan tanpa batas, ajaran ini menghadirkan keseimbangan antara perasaan dan tanggung jawab. Kisah Majnun dan Layla, meski tragis, mengajarkan tentang kesetiaan dan konsistensi cinta. Namun Islam mengarahkan cinta agar tidak hanya berhenti pada perasaan, melainkan diwujudkan dalam ikatan yang halal dan bermartabat. Dengan demikian, cinta menjadi jalan menuju keberkahan, bukan sekadar kisah pilu.
Dalam perspektif tasawuf, cinta Majnun kepada Layla sering dipandang sebagai metafora perjalanan spiritual menuju Allah. Para sufi melihat bahwa sebagaimana Majnun rela kehilangan segalanya demi Layla, seorang hamba seharusnya rela melepaskan ego dan dunia demi kedekatan dengan Tuhan. Hal ini sejalan dengan firman Allah dalam Surah Ali Imran ayat 31:
قُلْ اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللّٰهَ فَاتَّبِعُوْنِيْ يُحْبِبْكُمُ اللّٰهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْۗ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
Artinya: “Katakanlah (Muhammad), jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu.” Ayat ini menegaskan bahwa cinta kepada Allah harus diwujudkan dalam ketaatan kepada Rasul. Artinya, cinta tidak cukup hanya dirasakan, tetapi harus dibuktikan melalui amal dan kepatuhan. Dalam konteks modern, banyak orang mengaku mencintai, tetapi enggan berkorban. Kisah Majnun menjadi simbol bahwa cinta sejati menuntut totalitas dan konsistensi.
Kisah Majnun dan Layla mengajarkan bahwa cinta adalah kekuatan besar yang dapat mengangkat atau menjatuhkan manusia. Di tengah krisis cinta modern, kita perlu menata kembali orientasi cinta agar selaras dengan nilai-nilai Ilahi. Islam tidak menolak cinta, tetapi menuntunnya agar menjadi jalan kebaikan dan kedekatan kepada Allah. Cinta yang sejati bukan hanya tentang memiliki, tetapi tentang memurnikan niat dan menjaga kehormatan. Jika cinta Majnun dipahami sebagai simbol kerinduan spiritual, maka ia menjadi pelajaran tentang betapa dahsyatnya potensi cinta dalam diri manusia. Namun agama mengingatkan agar cinta itu tidak melampaui batas dan tetap berada dalam koridor syariat. Dengan demikian, kisah klasik ini tetap relevan sebagai cermin bagi generasi modern dalam memahami hakikat cinta yang sesungguhnya. Berhati-hati dalam mencintai, dan juga memahami hakikat makna cinta kepada manusia dengan tujuan untuk memperkuat cinta kepada Allah dan Tuhannya dengan nantinya beribadah dalam ikatan pernikahan.
Sumber Rujukan:
- Bukhari, M. bin I. (2002). Shahih al-Bukhari. Beirut: Dar Ibn Kathir.
- Ibn Kathir, I. (1999). Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim. Riyadh: Dar Tayyibah.
- Muslim, M. bin H. (2006). Shahih Muslim. Riyadh: Dar Tayyibah.
- Nizami Ganjavi. (1991). Layla and Majnun (Trans. Rudolf Gelpke). London: Omega Publications.
- Quraish Shihab, M. (2002). Tafsir Al-Mishbah: Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’an. Jakarta: Lentera Hati.
- Schimmel, A. (1975). Mystical Dimensions of Islam. Chapel Hill: University of North Carolina Press.
