MEWUJUDKAN GENERASI BERKARAKTER DENGAN PENDIDIKAN AKHLAK BERBASIS NILAI-NILAI AKIDAH

Published by Buletin Al Anwar on

Dewi Novia Karlina

Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Dosen pengampu: Fahim Khasani, M.A

E-mail: [email protected]

Abstrak

Pendidikan karakter merupakan proses Pendidikan yang mengaitkan antara perspektif moral dan distrik sosial dalam kehidupan agar peserta didik dapat terbentuk menjadi generasi berkualitas tinggi dan memiliki prinsip kebenaran yang dapat dipertanggungjawabkan. Dalam penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif yang menyajikan informasi yang dapat dipahami, jelas serta akurat. Selain berpacu pada data-data yang digunakan dalam pengerjaan ini kita juga mencari Sumber informasi lainya yang bersumber dari jurnal-jurnal yang kita ambil dari internet sebagai penambah dan pelengkap data informasi yang digunakan dalam proyek ini. Pendidikan karakter berfokus pada mengajar dan mengembangkan nilai-nilai seperti empati, toleransi, tanggung jawab, empati, kejujuran, dan nilai lain yang penting dalam mengembangkan individu yang baik yang akan berkontribusi terhadap masyarakat. Akidah Islam bertujuan untuk memenuhi kebutuhan dasar umat manusia sambil mendidik dan memberdayakan orang untuk membuat permintaan yang tulus dari Allah SWT. Generasi yang memiliki karakter religius sangat penting dalam perkembangan zaman yang penuh dengan tantangan moral ini. pentingnya pengetahuan Pendidikan akhlak berbasis nilai-nilai akidah, implementasi serta strategi untuk mewujudkan karakter yang berakhlak, bermoral tinggi dan berlandaskan nilai-nilai spiritual.

Kata kunci : Pendidikan karakter, nilai-nilai Akidah

Pendahuluan

Pendidikan adalah faktor yang paling penting dalam membangun masa depan bangsa. Penting untuk memberikan pendidikan yang lebih kepada generasi penerus bangsa sesuai dengan ketatnya pengetahuan di bidang akademik karena generasi muda sangat berharga dalam perkembangan suatu negara. Pengembangan karakter yang baik dan berakhlak mulia juga tak kalah penting dalam proses pembelajaran. Generasi yang memiliki karakter religius sangat penting dalam perkembangan zaman yang penuh dengan tantangan moral ini. Karena penyampaian ilmu di bidang intelektual saja tanpa pembelajaran dan penerapan etika moral dapat menjadikan peserta didik kehilangan arah dan krisis moral akan terjadi di kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Dalam artikel ini akan di bahas mengenai pentingnya pengetahuan Pendidikan akhlak berbasis nilai-nilai akidah, implementasi serta strategi untuk mewujudkan karakter yang berakhlak, bermoral tinggi dan berlandaskan nilai-nilai spiritual.

Metodologi penelitian

Dalam kajian ini akan di bahas mengenai pendidikan akhlak yang berbasis nilai-nilai akidah yang akan dipahami oleh peserta didik dalam pembentukan jiwa dan karakter yang berakhlak untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dalam perkembangan zaman ini. Penelitian tentang Pendidikan akhlak yang berbasis nilai-nilai akidah merupakan Upaya untuk memberi pemahaman, pengertian, analisis, dan evaluasi efektivitas pembentukan Pendidikan dalam membentuk karakter dan moral individu. Dalam penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif yang menyajikan informasi yang dapat dipahami, jelas serta akurat. Selain berpacu pada data-data yang digunakan dalam pengerjaan ini kita juga mencari Sumber informasi lainya yang bersumber dari jurnal-jurnal yang kita ambil dari internet sebagai penambah dan pelengkap data informasi yang digunakan dalam proyek ini. Kemudian sumber-sumber seperti Data deskriptif, kualitatif dan kontekstual di analisis dan ditafsirkan sebagai bagian dari model metodologi penelitian kualitatif yang berpusat dalam pemahaman Pendidikan karakter dan moral yang berbasis nilai-nilai akidah yang akan memberikan pemahaman, kemudahan dalam penerapan bagi para peserta didik dalam bermoral dan berkarakter.

Pembahasan

Pendidikan karakter yang berakhlak

  1. Pengertian Pendidikan karakter

Kata karakter biasa dikenal dengan watak atau kepribadian. Seseorang yang memiliki watak berarti memiliki tata nilai. Tata nilai di sini dapat diartikan seperti, tabiat, budi pekerti, perilaku, pemikiran, sikap yang dilandasi dengan nilai-nilai tertentu. (Harapan, 2020) Perbuatan dan pemikiran seseorang dipengaruhi oleh sifat batin atau karakter di mana seseorang itu dapat memperkirakan sikap-sikapnya dalam berhubungan atau berinteraksi dengan sesama dan juga terhadap fenomena yang terjadi di lingkungan kehidupannya.

Pendidikan karakter merupakan usaha yang dilakukan dengan sengaja untuk mewujudkan kultur dengan meningkatkan kualitas kemanusiaan yang objektif baik secara individual maupun kelompok bermasyarakat. (Raharjo, 2010) Pendidikan karakter merupakan proses Pendidikan yang mengaitkan antara perspektif moral dan distrik sosial dalam kehidupan agar peserta didik dapat terbentuk menjadi generasi berkualitas tinggi dan memiliki prinsip kebenaran yang dapat dipertanggungjawabkan.

Satu proses pendidikan yang disebut “pendidikan karakter” bertujuan untuk mengembangkan dan memperkuat sifat karakter yang kuat, moral, dan etis pada orang. Fokus pendidikan karakter tidak hanya pada meningkatkan pengetahuan akademis tetapi juga pada mengembangkan prinsip-prinsip moral, nilai-nilai etis, dan sifat karakter positif yang bermanfaat bagi setiap individu. Pendidikan karakter berfokus pada mengajar dan mengembangkan nilai-nilai seperti empati, toleransi, tanggung jawab, empatia, kejujuran, dan nilai lain yang penting dalam mengembangkan individu yang baik yang akan berkontribusi terhadap masyarakat.

  1. Pengertian akhlak

Pengertian akhlak secara etimologi menurut Muhaimin Tadjab, Abd. Mujib berasal dari kata Khuluq dan jamaknya Akhlak, yang berarti budi pekerti, etika, moral. Khuluq mempunyai kesesuaian dengan Khilqun, hanya saja khuluq merupakan perangai manusia dari dalam diri (ruhaniyah) sedang khilqun merupakan perangai manusia dari luar (jasmani).

Akhlak, adab, dan keteladanan merupakan nilai utama yang ada di dalam Islam. Akhlak berkaitan dengan kewajiban dan pengabdian  syariah dan pendidikan agama secara universal. Adab mengacu pada sikap atau tingkah laku seseorang yang baik. Keteladanan adalah ukuran kualitas karakter yang diikuti oleh orang-orang yang menganut ajaran Nabi Muhammad SAW. Tiga ayat ini berfungsi sebagai dasar untuk pendidikan karakter dalam Islam.

Sebagai sarana untuk mengidentifikasi dengan pendidikan agama, pendidikan karakter Islam memiliki kesamaan dan perbedaan dengan pendidikan karakter sekuler. Perbedaan-perbedaan yang disebutkan di atas menyoroti prinsip-prinsip yang secara moral mendukung agama, hukum, dan kebiasaan. (Abdul, 2017) Perbedaan utama adalah bahwa Wahyu Ilahi dianggap sebagai dasar dan rambu-rambu dari pendidikan karakter Islam, yang berarti bahwa pendidikan karakter Islam lebih sering dilakukan dengan cara dogmatis dan doktrinal.

Ajaran akhlak dalam Islam dikenal sebagai ajaran moral yang diartikan sebagai ajaran tata krama. Islam tidak diragukan lagi mengangkat keberadaan manusia sebagai makhluk terhormat yang harus mematuhi hukum Ilahi. Prinsip-prinsip Islam mencakup berbagai aspek kehidupan sehari-hari, termasuk yang nyata, efektif, efisien, praktis, disiplin, dan didasarkan, serta memiliki kerangka analitis yang ketat.

Nilai-Nilai berbasis Akidah

Pengertian nilai-nilai

Nilai memiliki ikatan yang kuat dengan pengetahuan dan kegiatan manusia yang pelik dan tidak ada batasannya. Nilai adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan fitur dari sistem kepercayaan yang terhubung ke objek yang menyediakan artefak. Dalam hal ini, subjek adalah makhluk manusia yang memaknai dan memanipulatif. Sidqi Gazalba berpendapat tentang makna nilai ia mengartikan bahwa nilai adalah sesuatu yang memiliki sifat abstrak, ideal tetapi bukan konkret. Nilai tidak hanya berisi tentang persoalan yang benar salah yang telah dibuktikan secara empiris melainkan termasuk di dalamnya mengandung pandangan mengenai hal yang diinginkan maupun tidak, di senangi maupun tidak.

Seperti yang dinyatakan dalam hakikat, nilai tertentu ini tidak selalu dimengerti oleh manusia karena memiliki sifat abstrak dan berfungsi sebagai dasar dan panduan untuk perubahan. nilai-nilai adalah pedoman dalam kehidupan sehari-hari individu atau kelompok.

Nilai Akidah

  1. Pengertian Akidah

Akidah merupakan bentuk Masdar dari kata ‘aqada, ya’qidu, ‘aqdan-‘aqidatan yang berarti ikatan, simpulan, kokoh, perjanjian. Secara teknis Akidah mengacu pada iman, kepercayaan atau keyakinan yang tersimpul di dalam hati seorang manusia. Sedangkan Akidah menurut istilah ialah ketika hati telah membenarkan suatu hal dan jiwa merasakan suatu ketenangan karenanya sehingga tidak ada keraguan di dalamnya dan keyakinan akan menjadi kokoh (Muhsinin, 2013).

Akidah Islam memiliki karakteristik yang sangat autentik, baik dalam segi prosesnya maupun dalam isi Akidah Islam itu sendiri. Ketika seorang manusia melakukan sebuah aktivitas maka Akidah dalam Islam harus ikut berpengaruh dalam aktivitasnya. Sehingga kegiatan aktivitas itu akan bernilai ibadah.

2. Fungsi Akidah

Fungsi dari Akidah di antaranya yaitu:

  • Menuntun dan memperluas dasar ketuhanan manusia sejak lahir.

Sejak awal zaman, manusia telah memiliki kapasitas untuk iman (fitrah), yang berarti bahwa sepanjang keberadaannya, orang-orang telah membutuhkan agama untuk mencari petunjuk dari Allah SWT. Akidah Islam bertujuan untuk memenuhi kebutuhan dasar umat manusia sambil mendidik dan memberdayakan orang untuk membuat permintaan yang tulus dari Allah SWT.

  • Memberikan ketenangan hati dan jiwa manusia

Akidah menyediakan dasar yang kuat sehingga kebutuhan Rohaniah dapat dipenuhi. Misalnya, seseorang yang percaya bahwa setiap hari adalah kesempatan baru dan bahwa semua yang telah ditentukan oleh Allah SWT akan merasa bahagia dan puas dengan kesempatan yang mereka terima setiap hari.

  • Sebagai pedoman yang pasti bagi umat manusia

Akidah memberikan indikasi bahwa Akidah merupakan kebenaran yang diyakinkan dengan sebenar-benarnya. Oleh karena itu Akidah disebut sebagai pedoman bagi manusia karena berfungsi sebagai arahan bagi umat manusia.

  1. Penerapan Nilai Akidah

Dasar pendidikan yang didasarkan pada integritas dan disiplin diri atau dilandaskan pada keimanan dan tauhid ini akan  membuat manusia mampu membedakan antara yang benar dan yang salah dengan memadukan antara fungsi akal dengan fungsi wahyu (Ansori, 2016).

Agar seseorang dapat berlatih dalam menegakkan ketauhidan, mereka harus mempertimbangkan hal-hal berikut: iman dan amal, konsep dan eksekusi, pikiran dan perbuatan, serta teks dan konteks. Dengan demikian kita akan memiliki kepercayaan terhadap Allah SWT dengan membenarkan melalui hati, mengucapkan melalui lisan, dan mengamalkan melalui perbuatan. Dengan kita mengikrarkan syahadat maka seseorang telah dinyatakan beriman dan bertakwa kepada Allah SWT.

Memberikan pembelajaran tentang Pendidikan Akidah dan juga menanamkan nilai-nilainya tidak cukup dengan waktu yang singkat, membutuhkan tenaga ekstra serta kesabaran yang luas. (Maratus, 2019). Akidah merupakan masalah yang abstrak, untuk pemikiran anak yang berumur 7 tahun belum bisa memikirkan sampai dalam mereka akan berpikir secara konkret. Seperti contoh Rasulullah telah memerintahkan orang tua untuk mengenalkan dan mengajarkan salat ketika anak mulai berusia 7 tahun. Salat merupakan bagian ibadah, menjalankan ibadah merupakan salah satu cara mengimplementasikan nilai Akidah bagi anak, nah menanggapi hal seperti itu anak-anak memerlukan nalar yang cukup tinggi untuk dapat memahaminya. Akan tetapi penanaman, pengenalan, pengajaran dan pengamalan harus diterapkan mulai sedini mungkin. Orang tua memiliki kewajiban yang sangat penting untuk selalu memberi pengajaran, selalu membicarakan, membahas, menguatkan anak akan suatu nilai-nilai Akidah di mana nilai-nilai Akidah tersebut yang akan membentuk karakter religius anak sejak berusia dini.

DAFTAR RUJUKAN

Ansori RAM, strategi penanaman nilai Pendidikan islam pada peserta didik, jurnal pusaka: media kajian dan pemikiran islam, (2016) 8 : 14-32

Haris Abdul, Pendidikan karakter dalam perspektif islam, Al-Munawwarah jurnal Pendidikan islam vol 9 no 1, Maret 2017

Mulia Reski H, Integrasi Pendidikan Karakter dalam Pembelajaran Akidah Akhlak, TADRIS: Jurnal Pendidikan Islam, Vol. 15 No.1, 2020

Raharjo, penidikan karakter sebagai Upaya menciptakan akhlak mulia, jurnal Pendidikan dan kebudayaan (Jakarta, vol 16 no. 3 Mei 2010)

Mujib, Abd, Muhaimin Tadjab. Dimensi-Dimensi Studi Islam. Surabaya: Karya Abditama, 1994

Muhsinin, 2013. Model Pendidikan Karakter Berbasis Nilai-Nilai Islam Untuk Membentuk Karakter Siswa Yang Toleran. Vol. 8, No. 2


0 Comments

Leave a Reply