“Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, serta ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.” (QS. Al-Isro’ Ayat 23)
Kisah Uwais al-Qarni merupakan salah satu teladan paling menggetarkan tentang bakti seorang anak kepada ibunya dalam khazanah Islam. Ia hidup pada masa generasi tabi’in di Yaman dan dikenal sebagai pribadi yang sangat zuhud serta tidak terkenal di bumi, namun masyhur di langit. Uwais bukanlah sahabat Nabi karena tidak pernah bertemu langsung dengan Rasulullah, meskipun hidup sezaman. Kendati demikian, kedudukannya sangat istimewa di sisi Allah karena ketulusan iman dan baktinya. Ia hidup sederhana, bahkan disebutkan bekerja sebagai penggembala untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dalam berbagai riwayat, ia digambarkan memiliki penyakit belang di kulitnya yang kemudian sembuh kecuali sebesar dirham, sebagai tanda yang kelak dikenali. Keistimewaannya bukan terletak pada kekayaan atau kedudukan sosial, melainkan pada keikhlasan hati dan pengorbanannya. Kisahnya menjadi inspirasi lintas generasi tentang arti birrul walidain. Dari sosoknya, umat Islam belajar bahwa kemuliaan sejati lahir dari ketakwaan dan bakti.
Keinginan terbesar Uwais adalah bertemu dengan Nabi Muhammad Saw di Madinah. Namun, ia memiliki seorang ibu yang sudah lanjut usia dan sakit-sakitan sehingga memerlukan perawatan penuh darinya. Cinta dan hormatnya kepada sang ibu membuatnya menahan diri untuk tidak meninggalkannya terlalu lama. Dikisahkan bahwa suatu hari ia meminta izin kepada ibunya untuk pergi ke Madinah menemui Rasulullah dengan syarat tidak berlama-lama. Setelah menempuh perjalanan jauh dari Yaman, setibanya di Madinah ternyata Rasulullah sedang tidak berada di rumah. Karena harus segera kembali demi memenuhi janji kepada ibunya, Uwais memilih pulang tanpa menunggu. Ia rela mengorbankan kesempatan emas bertemu Nabi demi berbakti kepada ibunya. Pilihan itu menunjukkan prioritasnya yang luar biasa terhadap ridha orang tua. Dalam pandangan spiritual, pengorbanan tersebut justru mengangkat derajatnya. Ketulusan itu menjadi sebab kemuliaannya di sisi Allah dan Rasul-Nya.
Keistimewaan Uwais ditegaskan dalam sebuah hadits sahih yang diriwayatkan oleh Umar ibn al-Khattab dalam Shahih Muslim No 2542:
“Dari Usair bin Jabir, ia berkata: “Adalah Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu, jika didatangi oleh bala bantuan dari penduduk Yaman, ia menanyakan kepada mereka, ‘Apakah di antara kalian ada yang bernama Uwais bin ‘Amir?’ Sampai akhirnya (pada suatu hari) ia bertemu dengan Uwais. Umar bertanya, ‘Apakah engkau Uwais bin ‘Amir?’ Ia menjawab, ‘Ya.’ Umar bertanya lagi, ‘Dari (kabilah) Murad kemudian dari Qaran?’ Ia menjawab, ‘Ya.’ Umar bertanya, ‘Apakah dahulu engkau pernah menderita kusta lalu sembuh darinya kecuali seukuran dirham?’ Ia menjawab, ‘Ya.’ Umar bertanya, ‘Apakah engkau memiliki seorang ibu?’ Ia menjawab, ‘Ya.’ Umar berkata, ‘Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Akan datang kepada kalian Uwais bin ‘Amir bersama bala bantuan dari Yaman, dari Murad kemudian dari Qaran. Ia pernah menderita kusta lalu sembuh, kecuali seukuran satu dirham. Ia memiliki seorang ibu yang ia sangat baktikan. Jika ia bersumpah atas nama Allah, niscaya Allah akan mengabulkannya. Jika engkau bisa meminta ia memohonkan ampun (istighfar/doa) untukmu, maka lakukanlah.”
Hadits ini menunjukkan betapa tinggi derajat seorang hamba yang tulus dan berbakti kepada orang tua. Ketika Umar ibn al-Khattab menjadi khalifah, ia selalu menanyakan kepada rombongan dari Yaman tentang Uwais. Hingga akhirnya ia bertemu dan meminta Uwais mendoakannya. Betapa agungnya kedudukan seseorang yang tidak dikenal manusia, tetapi dikenal di langit. Peristiwa ini mengajarkan bahwa ukuran kemuliaan bukanlah popularitas, melainkan ketakwaan dan bakti. Kisah tersebut tercantum dalam Shahih Muslim, Kitab Fadhail al-Shahabah.
Bakti Uwais kepada ibunya sejalan dengan perintah Al-Qur’an tentang kewajiban berbuat baik kepada orang tua. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Isra’ ayat 23:
وَقَضٰى رَبُّكَ اَلَّا تَعْبُدُوْٓا اِلَّآ اِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسٰنًاۗ اِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ اَحَدُهُمَآ اَوْ كِلٰهُمَا فَلَا تَقُلْ لَّهُمَآ اُفٍّ وَّلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيْمًا
Artinya : “Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, serta ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.”
Ayat ini menegaskan bahwa setelah perintah tauhid, Allah langsung memerintahkan birrul walidain. Urutan tersebut menunjukkan betapa agungnya kedudukan orang tua dalam Islam. Uwais memahami ayat ini bukan sekadar sebagai teks, tetapi sebagai prinsip hidup. Ia merawat ibunya dengan penuh kesabaran dan kasih sayang. Tidak ada keluhan yang keluar dari lisannya meski harus mengorbankan impian pribadi. Sikapnya mencerminkan pengamalan nyata terhadap ajaran Al-Qur’an. Dalam konteks sosial, teladan Uwais menjadi kritik moral bagi generasi yang sering lalai terhadap orang tua. Ia membuktikan bahwa jalan menuju keridhaan Allah dapat ditempuh melalui pengabdian tulus kepada ibu.
Selain itu, kisah Uwais juga mengajarkan tentang keikhlasan dan kerahasiaan amal. Ia tidak mencari ketenaran atas ibadah dan baktinya. Bahkan ketika diminta oleh khalifah untuk tinggal di Madinah, ia memilih kembali hidup sederhana dan tidak dikenal. Ia khawatir popularitas akan merusak keikhlasannya. Dalam tradisi tasawuf, Uwais sering dijadikan simbol kekasih Allah yang tersembunyi. Spiritualitasnya lahir dari kombinasi tauhid yang kuat dan bakti yang mendalam. Ia tidak memiliki kedudukan politik atau kekuasaan, namun memiliki kekuatan doa yang mustajab. Keistimewaannya menjadi bukti bahwa Allah menilai hati, bukan penampilan lahiriah. Kisahnya juga menunjukkan bahwa kesalehan sosial dimulai dari keluarga. Dari rumah sederhana di Yaman, lahir seorang hamba yang diagungkan Rasulullah.
Pada akhirnya, kisah istimewa Uwais Al-Qarni dengan ibunya merupakan cermin keagungan nilai bakti dalam Islam. Ia mengajarkan bahwa keberhasilan spiritual tidak selalu diukur dari perjumpaan fisik dengan tokoh besar, tetapi dari ketaatan dan pengorbanan. Penghormatannya kepada ibunya menjadi sebab ia disebut langsung oleh Rasulullah dalam hadits sahih. Keteladanan ini relevan sepanjang zaman, terutama di era modern ketika hubungan anak dan orang tua sering renggang. Uwais menunjukkan bahwa merawat orang tua dengan sabar adalah bentuk jihad yang mulia. Kisahnya juga memperkuat keyakinan bahwa Allah memuliakan hamba yang tulus dan rendah hati. Dari kisah ini, kita belajar bahwa bakti kepada ibu bukan sekadar kewajiban, tetapi jalan menuju kemuliaan abadi.
Sumber:
- Muslim bin al-Hajjaj, Shahih Muslim, Kitab Fadhail al-Shahabah (Hadits tentang Uwais al-Qarni).
- Al-Qur’an al-Karim, QS. Al-Isra’ (17): 23.
- Ibnu Hajar al-Asqalani, Al-Ishabah fi Tamyiz al-Shahabah (pembahasan tentang tabi’in dan riwayat Uwais al-Qarni).
