JEJAK PERJUANGAN “KIAI YAHYA” SOSOK ULAMA & PEJUANG (1)

Published by Buletin Al Anwar on

Oleh: Emha Hamdan Habibie & Maulana Ansori

Keterlibatan ulama atau tokoh-tokoh agama Islam dalam perjuangan kemerdekaan dan pemberdayaan masyarakat, telah banyak tercatat dalam lintasan sejarah Indonesia. Di Malang Jawa Timur misalnya, Nama mendiang K.H. Muhammad Yahya menjadi salah satu nama ulama yang banyak dikenang, dikagumi dan dicintai umat karena perjuangan keluasan ilmu dan kemuliaan-kemuliaannya. K.H. Muhammad Yahya atau yang lebih akrab dipanggil Kyai Yahya merupakan ulama sufi yang pernah menggalang massa santri dan masyarakat untuk membentuk tentara BKR atau badan Keamanan rakyat wilayah malang Barat pada 22 Agustus 1945 tidak lama setelah proklamasi kemerdekaan. Ulama yang pernah terlibat dalam perjuangan fisik dalam mempertahankan kemerdekaan bangsa Indonesia ini, pada tahun 1945 beliau juga merupakan salah satu pendiri pembentukan barisan tentara Kiai dalam laskar Sabilillah di daerah komando BKR Divisi Untung Soeropati. Dan laskar Sabilillah ini yang nantinya terlibat dalam perjuangan fisik perang gerilya, hingga melawan kekejaman PKI. Banyak kisah-kisah teladan hingga kisah-kisah keheroikan sosok Kiai Yahya yang dikenal berwibawa dan berilmu kebal.

BIOGRAFI

Kiai yang lahir pada tahun 1903 di desa jetis Dau Kabupaten Malang ini merupakan sosok kiai yang sederhana, namun kaya dalam ilmu dan kaya dalam amal. Beliau juga banyak  akal, penuh  kebijaksanaan, berwatak tenang dan pemberani. Selain itu, beliau merupakan kiai sufi yang  teguh pendiriannya, berwibawa dan berilmu kebal. Meski lahir di daerah Malang, pada dasarnya Kiai Yahya memiliki darah  keturunan dari Jawa Tengah, tepatnya daerah Juwana kabupaten Pati. Karena ayahanda beliau Kyai Qoribun dan ibunda Nyai Sarmi merupakan penduduk asli Juwana.

Sejak kecil Kiai Yahya sudah bersentuhan dengan ilmu agama melalui pendidikan keluarganya dengan tradisi santri yang kental. Di samping itu, beliau juga mengikuti pendidikan dasar keagamaan yang diasuh paman beliau sendiri, yakni Kiai Abdullah yang juga salah satu mursyid thoriqoh Kholidiyah. Di surau pesantren pamannya inilah Kiai Yahya mengenal dasar- dasar akidah, bimbingan ibadah dan doktrin etika agama atau ilmu akhlak. Dasar agama yang kuat di masa kecil, menjadikan beliau kuat dan kokoh dalam mempertahankan prinsip serta memperoleh kemudahan dalam pengembangan ilmu di masa mendatang.

RIWAYAT PENDIDIKAN

Kiai Yahya muda merupakan sosok yang haus akan keilmuan termasuk dalam ilmu agama. Hal ini beliau buktikan dalam perjalanannya menuntut ilmu. Sejumlah pesantren misalnya yang pernah ditempati untuk menuntut ilmu tidak kurang dari 6 pesantren yang telah beliau singgahi dalam waktu lebih dari 20 tahun. Di antaranya; Surau Kiai Abdullah, Pesantren Mbungkuk Singosari, Pesantren Cempaka Blitar, Pesantren Kuningan Blitar, Pesantren Siwakan Panji Sidoarjo hingga Pesantren Jampes Kediri. Keenam pesantren inilah yang telah memberi maziyah atau keistimewaan keilmuan tersendiri bagi Kiai Yahya yang kelak dibuktikan dalam kiprah beliau di tengah masyarakat.  Dalam perjalanan menuntut ilmunya, seusai menjalani pendidikan dasar keagamaan di surau Kiai Abdullah, Kiai Yahya melanjutkan pendidikannya di sebuah pesantren besar di Malang, yaitu Pesantren Mbungkuk Singosari. Di pesantren inilah beliau mendalami ilmu alat, fikih, dan akidah. Selain itu Kiai Yahya muda juga pertama kali mendapatkan ijazah amalan Thoriqoh Kholidiyah dari Kiai Thohir. Selepas dari Pesantren Mbungkuk, Kiai Yahya memperdalam ilmu fikih sekaligus ilmu tasawuf selama beberapa tahun kepada Kiai Abbas di daerah Cempaka Blitar.

Kesadaran akan kehausannya terhadap ilmu, Kiai Yahya mondok di Pesantren Kuningan Blitar hingga beliau melanjutkan di Pondok Siwakan Panji Sidoarjo yang diasuh oleh Kiai Kozin. Tidak lama kemudian, dari Sidoarjo Kiai Yahya melanjutkan pendidikannya ke sebuah pesantren di Kediri, tepatnya di desa Jampes yang diasuh oleh K.H. Moh. Dahlan. Di pesantren Jampes inilah kesungguhan Kiai Yahya dalam menuntut ilmu benar-benar terbukti. Hal ini ditunjukkan dari ketekunan  dalam mengikuti pengajian yang diberikan oleh sang Kiai. Siang dan malam digunakan untuk mengkaji dan membaca kitab, bahkan dalam keadaan sakit sekalipun. Bukan hanya dalam keilmuan, di pesantren Jampes ini Kiai Yahya Muda, juga pernah meminta izin untuk menambah wiridan thoriqoh selain yang telah dilakukan selama ini. Namun Kiai Dahlan tidak memberi restu, bahkan menyatakan bahwa suatu saat nanti akan datang sendiri guru thoriqoh yang akan memberikan ijazah kepadanya.

Setelah puluhan tahun belajar berbagai ilmu di berbagai pesantren, Kiai Yahya merasa terpanggil untuk mengamalkan ilmu yang diperolehnya di tanah kelahirannya. Akhirnya pada tahun 1930 atas restu KH. Ihsan, Kiai Yahya boyong ke kota kelahirannya di Malang.

MENGASUH PESANTREN

Betapa pun besar himmah sosok Kiai Yahya dalam memburu ilmu Allah, namun sebagai manusia, beliau juga memiliki fitrah insani. Maka atas restu dan rida dari Kiai lhsan, pada tahun 1930 Kiai Yahya boyong untuk kembali ke tempat asalnya dari Pesantren Jampes kembali ke kota kelahirannya di Malang.

Kesadaran akan kharismanya sosok Kiai Yahya muda dengan ilmu yang mumpuni, akhirnya pada tahun yang sama yakni di tahun 1930, Kiai Yahya diambil menantu oleh Kiai Ismail dan kemudian dinikahkan dengan putri angkat beliau Siti Chodijah. Kiai Ismail mengambil putri angkat ini dari kemenakan beliau sendiri, yakni Kiai Abdul Majid. Kedua ulama’ ini merupakan pengasuh generasi kedua Pondok Pesantren Gadingkasri Miftahul Huda Malang. Pasangan Kiai Yahya dan Nyai Chodijah baru benar-benar membangun rumah tangga setelah lima tahun akad nikah, tepatnya pada tahun 1935 atau setelah wafatnya Kiai Abdul Majid dan Kiai Ismail. Dimulai tahun itu pula, Kiai Yahya mengemban tugas ganda sebagai kepala rumah tangga dan pengasuh pesantren Gading Miftahul Huda Malang. Dengan begitu bertambahlah tugas dan kewajiban Kiai Yahya. Selain harus membina keluarga, beliau juga menyebarkan ilmu terhadap santri di pondok pesantren Gading Miftahul Huda Malang yang kemudian lebih dikenal dengan Pondok Gading.

PONDOK Pesantren Miftahul Huda berdiri hampir dua setengah abad yang lalu, tepatnya pada tahun 1768 yang didirikan oleh Kiai Munadi yang berusia mencapai 125 tahun sekaligus sebagai pengasuh pesantren selama hampir 90 tahun. Ketika Kiai Munadi wafat, dalam mengasuh pesantren diteruskan oleh putra tertua Kiai Munadi, yakni K.H. Ismail yang mana beliau mengasuh pondok pesantren kurang lebih selama 50 tahun. Namun pada usia 75 tahun beliau wafat, karena Kiai Ismail tidak mempunyai putra, maka pengelolaan pesantren dilanjutkan oleh menantu beliau, yakni Kiai Yahya.

Pergantian estafet dari Mbah Kiai Ismail kepada Kiai Yahya berhasil dengan baik dengan mempertahankan sistem sekaligus nilai khas pondok Gading yang selama ini dipegang teguh oleh para pendiri Pesantren Gading. Di sisi lain, Kiai Yahya meletakkan landasan pembaharuan dan revitalisasi pendidikan pesantren yang terus dianut hingga kini.

Kharisma pesantren Gading yang kian dikenal masyarakat luas ini terus dipertahankan di masa kepemimpinan Kiai Yahya. Terbukti dengan diberlakukannya  status ‘otonomi’ bagi  Pondok Gading sebagai  lembaga pendidikan keagamaan tanpa intervensi dari pemerintah Belanda maupun Jepang. Bahkan di masa perang mempertahankan kemerdekaan yang bergulir dari tahun 1945 hingga tahun 1949, yang mana Kiai Yahya ini  mampu memanfaatkan otoritas Pondok Gading sebagai sarana perjuangan kemerdekaan. Pasukan pejuang ‘Garuda Merah’ di bawah pimpinan Brigjen KH. Sullam Syamsun misalnya yang mana kala itu menjadikan Pondok Gading yang oleh Belanda dijuluki daerah netral, dijadikan sebagai tempat persembunyian para pejuang sekaligus pos terdepan untuk penyerangan ke tangsi Belanda atau peledakan fasilitas umum milik Belanda di kota Malang.

Keberhasilan Kiai Yahya meneruskan dan mempertahankan kharisma Pondok Gading antara lain disebabkan karena Kiai Yahya lebih suka menggunakan pendekatan keilmuan dan  akhlakul karimah dalam menyelesaikan permasalahan. Cara ini ternyata cukup berhasil, karena dengan kharisma dan ilmu akhlak itulah, beliau mampu mengurangi terjadinya kekerasan, baik antar masyarakat maupun antara santri dengan masyarakat di luar pondok.

MASA PENDUDUKAN JEPANG

KEIKUTSERTAAN ulama’ dalam perjuangan mengusir penjajah dari bumi pertiwi membuktikan bahwa mereka bukan hanya pemimpin agama, tetapi juga pemimpin bangsa. Tidak terkecuali terhadap Kiai Yahya yang merupakan bukti lain bahwa peran ulama’ sangat besar dalam merebut kemerdekaan.

Ketokohan Kiai Yahya dan integritasnya sebagai ulama yang mencintai kedamaian dan kemerdekaan, pada tahun 1940-an mendapatkan ujian berat. Namun justru zaman penjajahan Jepang, Ketokohannya sebagai ulama besar dan pemimpin umat kian tak terbantahkan. Pada bulan Maret 1942 misalnya, Kala Jepang menyerang Indonesia yang kala itu masih pemerintahan Hindia Belanda, membuat Pemerintah Hindia Belanda menyerah kepada Jepang di Kalijati, dekat Bandung. sehingga secara de facto dan de jure, kekuasaan Indonesia dari pemerintahan Hindia Belanda berpindah tangan ke tentara Jepang.

Ketika Jepang berkuasa, Kiai Yahya tidak ikut langsung berperang di arena pertempuran. Beliau tetap saja melaksanakan rutinitasnya di Pesantren. Namun segenap santri diajak membaca Hizb Nasor dan manaqib Syekh Abdul Qodir AlJailani secara rutin guna untuk mendoakan para pejuang Indonesia melawan kekejaman Jepang, termasuk para ulama yang ditangkap Jepang karena kala itu mereka menolak Seikerei dan berbagai kebijakan pemerintahan Jepang yang menyengsarakan rakyat pribumi. Buah dari bacaan Kiai Yahya dan para santri itu bisa dirasakan langsung oleh para santri sendiri maupun oleh para pejuang di medan pertempuran. Salah satunya saat ada bom Jepang yang nyasar di sekitar Pondok Gading, persis di sebelah barat masjid Gading. Anehnya, bom jepang tersebut tidak bisa meledak sehingga semuanya selamat.

Selain kisah keanehan bom Jepang ini, demikian pula kejadian aneh terjadi kala lumbung padi Kiai Yahya pernah dikuras habis oleh tentara dan antek-antek Jepang. Tapi entah kenapa tidak lama kemudian padi-padi itu dikembalikan lagi oleh tentara Jepang.

Seiring berjalannya waktu, saat Jepang kalah perang dan menyerah kepada sekutu, Kyai Yahya tanpa ragu langsung menyatakan dukungan terhadap Negara Indonesia yang diproklamirkan pada tanggal 17 Agustus 1945 oleh Soekarno Hatta. Lewat pembacaan teks proklamasi  yang disebarluaskan ke seluruh Nusantara melalui siaran Radio Republik Indonesia (RRI). Dengan demikian, maka berakhirlah penjajahan Belanda selama 3,5 abad ditambah penjajahan ‘Sang Saudara Tua’ Jepang selama 3,5 tahun. Penderitaan berkepanjangan selama beberapa generasi yang dialami rakyat Indonesia dan kegagalan ratusan usaha perlawanan dari berbagai daerah, menjadikan berita itu ibarat oase di tengah gurun pasir yang tandus dan gersang. Namun akibat sistem informasi dan komunikasi yang belum lancar, maka berita kemerdekaan itu masih terdengar samar-samar dan belum transparan. Rakyat Indonesia di berbagai pelosok daerah, termasuk di  Malang misalnya, masih bertanya-tanya tentang kesungguhan berita kemerdekaan itu serta informasi penting lainnya. Namun tidak lama kemudian Kiai Yahya didatangi oleh Mayor Sullam Syamsun seorang komandan batalyon tentara BKR yang membawa kabar proklamasi kemerdekaan Indonesia. Ketika disampaikan bahwa Indonesia sudah merdeka, tampak sekali wajah Kiai Yahya cerah berseri-seri. ”Dadi pun saestu merdeka, Nggih?” (Jawa: Jadi sudah benar merdeka, Ya), tanya beliau meminta ketegasan. ”Nggih Kiai (Ya, Kiai)” jawab Mayor Sullam. Akhirnya dengan bulat Kiai Yahya mengumumkan kepada para santri dan masyarakat Malang bahwa Indonesia sudah merdeka dan dengan kemerdekaan inilah Kiai Yahya menghimbau agar ikut serta berjuang dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Seiring berjalannya waktu, pada tanggal 22 Agustus 1945 dalam rangka pembentukan tantara BKR, Mayor Sullam menyempatkan sowan untuk kedua kalinya ke ndalem Kyai Yahya dalam rangka membentuk pasukan BKR. Di BKR Mayor Sulam Syamsun ditunjuk sebagai komandan kompi Garuda Merah, sebuah unit pasukan dari Batalyon I/Resimen 38 Divisi Untung Surapati daerah operasi Malang kota bagian barat.

Dalam pertemuan itu Mayor Sullam Syamsun meminta bantuan Kiai Yahya untuk mengajak masyarakat, khususnya mantan tentara PETA di Malang Barat. Karena kebanyakan dari mereka pernah nyantri di Pondok Gading atau putra dari alumni pesantren ini, agar mereka mau bergabung di bawah pimpinan Mayor Sullam. Dalam waktu singkat, akhirnya Mayor Sullam bersama Kiai Yahya berhasil membentuk regu-regu pasukan tempur di bawah komando kompi Sullam. Pasukan ini bermaterikan para tentara mantan PETA dibantu para pejuang non tentara yang berasal dari penduduk daerah Klampok Kasri, kecamatan Wagir, Kecamatan Dau dan sekitarnya. Dan Kiai Yahya juga termasuk di dalam pasukan BKR pimpinan Mayor Sullam.

RESOLUSI JIHAD

Pengumandangan Resolusi Jihad yang terjadi pada tanggal 22 Oktober 1945 yang dicetuskan oleh Rois Akbar Nahdlatul Ulama Hadratussyaikh K.H. Hasyim Asyari, menyerukan kepada santri umat Islam, hingga para pejuang di seluruh Indonesia untuk ikut berjuang dalam pertempuran mempertahankan kemerdekaan untuk melawan pasukan gabungan NICA dan Inggris yang ingin Kembali menjajah Indonesia. Setelah dicetuskannya resolusi jihad, ribuan kiai dan santri hingga para pejuang dari berbagai penjuru tanah air, bergerak ke Surabaya. Tidak terkecuali Kyai Yahya dan Mayor Sullam yang akhirnya menyerukan para santri dan pejuang di BKR untuk ikut berjuang dalam pertempuran yang akan terjadi pada tanggal 10 November 1945. Akhirnya Kiai Yahya termasuk ratusan ribu pejuang berangkat berjuang dan bertempur di garis depan dalam pertempuran 10 November. Saat itu, beliau masuk dalam ‘Barisan Kiai’ bersama puluhan Kiai lain dari berbagai daerah di Jawa Timur. Resolusi Jihad ini akhirnya mampu membangkitkan semangat darah para pahlawan yang berceceran begitu  mudahnya hingga memerahi  sepanjang kota Surabaya selama tiga minggu. Inggris sebagai pemenang Perang Dunia II itu akhirnya kalah. Inilah perang terbesar sepanjang sejarah Nusantara yang kemudian dikenal sebagai Hari Pahlawan Nasional.

Keikutsertaan Kiai Yahya dalam pertempuran Surabaya, atas permintaan khusus dari Panglima BKR Divisi Untung Soeropati, Mayor Jenderal Imam Soedja’i, agar Kiai Yahya ikut memberikan motivasi jihad fi sabilillah kepada para prajurit, baik prajurit Tentara Keamanan Rakyat (TKR, pengganti nama BKR), maupun tentara Hizbullah.

Sepulang dari pertempuran di Surabaya, beliau mengikuti pertemuan khusus di Pandaan, Pasuruan, bersama para pimpinan BKR/TKR serta beberapa ulama’ lainnya. Dari pertemuan itu disepakati pembentukan tentara Sabilillah di daerah komando BKR Divisi Untung Soeropati. Tentara Sabilillah merupakan tentara khusus yang beranggota para Kiai dengan tugas utama yakni memberi pembekalan batiniah serta motivasi jihad kepada para tentara. Dan tantara Sabilillah ini yang kemudian nantinya ikut serta dalam garda depan berperang dalam perang gerilya hingga melawan kekejaman Partai Komunis Indonesia atau PKI.

Sumber Referensi:

Lentera Kehidupan dan Perjuangan Kiai Yahya : Heorisme Pondok Gading

30 Tahun Indonesia Merdeka 1945-1949

Perang Kemerdekaan 1945-1949


0 Comments

Leave a Reply