Cintailah Pancasila: Piagam Madinah Versi Indonesia

Published by Buletin Al Anwar on

Oleh: Sidiq Nugroho

 

Bicara tentang PANCASILA berarti membicarakan Indonesia negeri potongan surga. Indonesia memiliki dasar negara yang unik, yakni pancasila. Pancasila unik karena hampir mirip dengan undang-undang yang pernah disusun oleh Nabi muhammad SAW, yaitu Piagam Madinah. Keduanya (Pancasila dan Piagam Madinah) mempunyai tujuan utama untuk menyatukan rakyat yang berasal dari suku dan agama yang berbeda-beda. Piagam Madinah saat itu berhasil menyatukan penduduk Madinah untuk bersatu dan saling bahu-membahu membangun negeri yang damai, yang melindungi seluruh warganya tanpa membedakan suku dan agama. Begitu pula Pancasila disepakati oleh rakyat Indonesia sebagai dasar negara yang menyatukan bangsa Indonesia. Lalu mengapa masih ada saja yang ingin “menodai” Pancasila sebagai dasar negara yang telah menjadi pilihan para founding father bangsa ini? Bukankah Pancasila dirumuskan sesuai dengan karakter bangsa Indonesia? Rupanya kita ini masih perlu mendalami lagi makna pancasila.

Pancasila dewasa ini mulai dipermasalahkan oleh beberapa kelompok tertentu. Bahkan dengan terang-terangan pancasila dilecehkan, sungguh keterlaluan. Sebagai bangsa Indonesia yang cinta tanah air, tentu kita tidak boleh berdiam diri melihat hal semacam itu. Jika kita positif thinking, mungkin orang-orang seperti mereka belum mengerti alasan pancasila dipilih sebagai dasar negara.

Kita sebagai umat Islam harus sadar, bahwa Indonesia didirikan bukan sebagai negara Islam, tetapi negara kesatuan. Sehingga umat Islam tidak perlu mempermasalahkan pancasila lagi sebagai dasar negara. Hendaknya kita sebagai umat Islam mampu berpikir luas karena bila kita mau menggali makna pancasila, ternyata tujuannya sama dengan piagam madinah yang pernah dibuat oleh Nabi Muhammad SAW. Sehingga kita harus mencintai pancasila sebagai dasar negara karena memang sesuai dengan yang pernah dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW.

Umat Islam harus cermat dan mempunyai pandangan luas terhadap pancasila sebagai dasar negara, karena Allah membolehkan kita mempunyai negara berdasarkan nalar (siyasah aqliyah), bukan berdadarkan agama (siyasah diniyah), karena syari’at membolehkannya dilihat dari sudut tujuan untuk kesejahteraan umum. Begitulah sebagaimana yang diungkapkan oleh Ibnu Kholdun. Al-mawardi pun dalam kitabnya “al-ahkam as-sulthoniyah” mengemukakan “siyasatul ummah mabniyatun ‘ala ‘aqidatiha”, bahwa politik kebangsaan harus dibangun di atas sendi atau nilai-nilai dasar bangsa itu sendiri. Tentunya pancasila ini sudah cocok dan sesuai dengan karakter bangsa Indonesia, jadi tak perlu dipermasalahkan lagi.

Gus Dur pernah berpesan kepada bangsa ini mengenai Pancasila, bahwasanya “proses penerimaan terhadap Pancasila bukan karena paksaan, melainkan karena kesadaran bernegara. Pancasila bukan bermaksud menggusur Islam, malah menyuburkan. Hukum Islam harus menjadi tanggung jawab kaum muslimin sendiri dalam kehidupan mereka. Bukan menjadi hukum formal, tapi hukum positif yang harus dikerjakan sehari-hari. Tanpa diundangkan dan tanpa menunggu negara”.

Sedikit perlu kami tekankan lagi bahwa PANCASILA sebenarnya sama sekali tidak bertentangan dengan agama Islam, bahkan sejalan dengan cara Rosulullah SAW yang menyatukan umat dengan menyusun “PIAGAM MADINAH”. Jika boleh kami katakan “Pancasila merupakan Piagam Madinah versi Indonesia”. Bahkan semua sila-sila dalam pancasila sebenarnya sejalan dengan Al-Qur’an. Mari kita renungkan bersama bahwa setiap sila yang telah disusun para tokoh pendahulu sejalan dengan Al-Qur’an.

Sila pertama yakni, Ketuhanan Yang Maha Esa. Sila ini sebenarnya sering kita baca dalam Al-Qur’an, bahkan banyak anak kecil yang hafal. Tepatnya dalam Q.S Al-Ikhlash ayat 1 yang artinya Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa.

Sila kedua yakni, Kemanusiaan yang adil dan beradab. Tentunya sangat sejalan dengan firman Allah dalam Q.S An-Nisa’ ayat 135 yang artinya Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjakan”.

Sila ketiga yakni, Persatuan Indonesia. Sila ini mengajarkan bahwa bangsa Indonesia yang terdiri dari berbagai suku bangsa harus bisa saling mengenal. Saling mengenal diartikan bahwasanya satu sama lain harus bisa saling memahami dan menghargai. Sehingga dengan saling mengenal, persatuan bangsa akan terwujud. Hal ini sesuai dengan firman Allah: Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal…(Q.S Al-Hujuraat: 49).

Sila keempat yakni, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat, kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan. Ajaran musyawarah ini juga Allah sebut dalam Al-Qur’an. Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarat antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka. (Q.S Asy-Syura: 38).

Terakhir yakni sila kelima yang berbunyi: Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Sila tersebut sesuai dengan firman Allah: Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran. (Q.S An-Nahl: 90)

Walhasil, mari kita sebagai umat yang beragama bersatu padu menjalin persatuan dan kesatuan membangun Indonesia. Jika Pancasila sebagai dasar negara, maka rakyat akan mendapatkan keadilan, kemakmuran, sentosa. Karena pancasila adalah pribadi bangsa kita, bangsa Indonesia. Semoga dengan semakin bertambahnya usia kemerdekaan Indonesia  ini, negara kita menjadi negara yang “baldatun toyyibatun wa robbun ghofur”, negara yang “gemah ripah loh jinawi, toto tentrem karto raharjo”. Amiin.

-wallahu ‘alam-


2 Comments

Daendy Nova · October 11, 2018 at 5:47 am

Tulisan yang sangat bagus…
Mhn ijin untuk share gus….
Maturnuwun

    Ponpes Anwarul Huda · October 13, 2018 at 8:10 am

    alhamdulillah. silahkan, semoga bermanfaat. insyaallah tulisan2 lain d laman ini juga bagus2.

Leave a Reply