IBADURROCHMAN

Published by Buletin Al Anwar on

Segala puji bagi Allah, sholawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Rosululloh SAW. Amma ba’du. Di zaman yang modern ini, krisis akhlaq sangat terasa. Perhatian terhadap perilaku yang kurang mulia ini kurang menjadi sorotan berbagai pihak. Sedangkan Allah telah menegaskan dan memberikan contoh dalam kalamnya bahwa Allah memiliki hamba-hamba yang mulia di atas muka bumi ini yang dapat kita contoh kemuliaan akhlaqnya. Jasad-jasad mereka ada di dunia akan tetapi cita-cita hati mereka tergantung di akhirat. Merekalah Ibadur-Rahman. Di dalam Al Quran Allah memuji mereka, menerangkan ciri-cirinya agar orang-orang pun merasa tertarik dan bersemangat untuk meniru kebaikan mereka.

Allah berfirman dalam surat Al Furqon : 63-77

  1. Adapun hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka (dengan kata-kata yang menghina), mereka mengucapkan, “Salam,”
  2. dan orang-orang yang menghabiskan waktu malam untuk beribadah kepada Tuhan mereka dengan bersujud dan berdiri.
  3. Dan orang-orang yang berkata, “Ya Tuhan kami, jauhkanlah azab Jahanam dari kami, karena sesungguhnya azabnya itu membuat kebinasaan yang kekal,”
  4. sungguh, Jahanam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman.
  5. Dan (termasuk hamba-hamba Allah Yang Maha Pengasih) orang-orang yang apabila menginfakkan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, di antara keduanya secara wajar,
  6. dan orang-orang yang tidak mempersekutukan Allah dengan sembahan lain dan tidak membunuh orang yang diharamkan Allah kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina; dan barang siapa melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat hukuman yang berat,
  7. (yakni) akan dilipatgandakan azab untuknya pada hari Kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina,
  8. kecuali orang-orang yang bertobat dan beriman dan mengerjakan amal saleh, maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebaikan. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
  9. Dan barang siapa bertobat dan mengerjakan amal saleh, maka sesungguhnya dia bertobat kepada Allah dengan tobat yang sebenar-benarnya.
  10. Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka berlalu dengan menjaga kehormatan dirinya,
  11. dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat-ayat Tuhan mereka, mereka tidak bersikap sebagai orang-orang yang tuli dan buta,
  12. dan orang-orang yang berkata, “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.”
  13. Mereka itu akan diberi balasan yang tinggi (dalam surga) atas kesabaran mereka, dan di sana mereka akan disambut dengan penghormatan dan salam,
  14. Mereka kekal di dalamnya. Surga itu sebaik-baik tempat menetap dan tempat kediaman.
  15. Katakanlah (Muhammad, kepada orang-orang musyrik), “Tuhanku tidak akan mengindahkan kamu, kalau tidak karena doamu. (Tetapi bagaimana Dia mengindahkan kamu), padahal sungguh, kamu telah mendustakan (Rasul dan Al Qur’an)? Karena itu, kelak (azab) pasti (menimpamu)

Dalam ayat tersebut Allah menyebutkan sifat-sifat mereka sebagai sifat-sifat yang paling sempurna dan paling utama. Maka ada beberapa sifat yang akan kita bahas tentang hamba-hamba yang dimuliakan Allah tersebut, yaitu:

  1. Orang yang berjalan di atas muka bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang “jahil” menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik.

Mereka adalah orang-orang yang meniti kehidupan ini dengan senantiasa tawadhu’ terhadap Allah dan rendah hati kepada sesama makhluk, mereka berada dalam ketenangan dan memiliki kewibawaan, senantiasa tawadhu’ kepada Allah dan kepada hamba-hambaNya. Dan apabila orang-orang pandir melontarkan kejahilannya kepada mereka, maka tidaklah hal itu membuat mereka membalas kebodohan dengan kebodohan atau dengan perbuatan dosa. Ini yang membuat mereka semakin terpuji, yaitu sikap lemah lembut dan santun, mereka membalas kejelekan dengan perbuatan ihsan dan kebaikan, bahkan memaafkan orang yang pandir atas kejahilannya, disertai ketabahan hati mereka yang mengagumkan sehingga dapat mengangkat mereka hingga mencapai kemuliaan akhlak semacam ini.

  1. Orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka.

Mereka adalah orang-orang yang banyak mengerjakan sholat malam dan ikhlas dalam mengerjakannya demi Tuhan mereka serta senantiasa tunduk merendahkan diri kepada-Nya. Kita ketahui bahwasanya waktu sepertiga malam merupakan salah satu waktu yang sangat dimuliakan Allah serta waktu yang sangat mustajab untuk memanjatkan doa. Seperti yang Allah firmankan dalam surat As-Sajadah : 16 :

“Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya (maksudnya mereka tidak tidur di waktu Biasanya orang tidur untuk mengerjakan sholat malam) dan mereka selalu berdoa kepada Robbnya dengan penuh rasa takut dan harap, serta mereka menafkahkan apa-apa rezeki yang kami berikan. Tak seorang pun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang sebagai balasan bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan.”

  1. Orang-orang yang apabila membelanjakan harta, mereka tidak berlebih-lebihan, tidak pula kikir.

Mereka adalah orang yang berinfak di jalan Allah, baik infak yang hukumnya wajib atau sunnah. Infak yang wajib seperti zakat, membayar kafarah dan memberi nafkah anak dan istri. Mereka tidak melanggar batas dalam berinfak, tidak boros sehingga tidak melalaikan kewajiban infak yang lain. Tapi mereka tidak lantas menjadi bakhil atau kikir. Demikianlah infak mereka, berada di antara sikap boros dan kikir. Mereka membelanjakan harta dalam perkara-perkara yang memang layak serta dengan cara yang layak pula, tidak mengundang bahaya untuk diri pribadi maupun orang lain, ini menunjukkan sikap adil dan seimbang yang mereka miliki.

  1. Orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah.

Mereka adalah orang-orang yang hanya menyembah kepada Allah saja, mengikhlaskan agama dan ketaatan untuk-Nya. Mereka tinggalkan segala bentuk kesyirikan dan cenderung kepada tauhid. Menghadapkan segenap jiwa dan raga mereka hanya kepada Alloh serta memalingkan ketergantungan hati dari segala sesuatu selain kepada-Nya.

  1. Orang-orang yang tidak berzina.

Mereka adalah orang-orang yang senantiasa menjaga kemaluan mereka kecuali kepada istri-istri atau budak-budak mereka. Kemudian Alloh menyebutkan, “Barangsiapa yang melakukan yang demikian itu” yaitu syirik, membunuh tanpa hak atau berzina “niscaya dia mendapat pembalasan dosanya.” Yakni akan dilipatgandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal di dalam azab itu, dalam keadaan terhina, inilah ancaman sangat keras yang tertuju kepada siapa saja yang melakukan tiga perbuatan dosa itu, mereka kekal dalam kungkungan azab neraka.

Di dalam ayat ini Allah menegaskan bahwa ketiga macam perbuatan itu adalah dosa-dosa terbesar. Dalam kesyirikan terkandung perusakan agama. Di dalam pembunuhan terkandung perusakan raga. Sedangkan di dalam perzinaan terkandung perusakan kehormatan dan harga diri umat manusia.

  1. Orang-orang yang bertaubat, beriman dan beramal shalih.

Kemudian Allah menyebutkan perkecualian, artinya orang-orang yang tidak akan tertimpa azab yang sangat pedih tersebut. Yaitu orang-orang yang bertaubat dari kemaksiatan dan dosa-dosa yang lainnya. Setelah melakukan taubat yang sungguh-sungguh kemudian mereka juga beramal saleh yaitu melakukan amal yang diperintahkan syariat dan mengikhlaskan niatnya dalam beramal hanya untuk mengharap keridhoan-Nya.

  1. Orang-orang yang berdoa: Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati kami, dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.

Apabila kita mencermati keadaan dan sifat mereka ini maka kita bisa mengetahui ketinggian cita-cita dan kedudukan mereka, sehingga mereka tidaklah merasa tenteram sampai anak-anak mereka mau taat dan patuh kepada tuhan mereka serta berilmu dan mengamalkan ilmunya. Meskipun doa ini ditujukannya untuk kebaikan istri dan anak keturunannya tetapi sesungguhnya itu adalah doa untuk dirinya sendiri. Karena manfaat doa itu akhirnya juga akan kembali kepadanya. Oleh karenanya di dalam doa itu mereka menyebut hal itu sebagai anugerah bagi mereka. Bahkan manfaat do’a mereka juga kembali kepada keseluruhan kaum muslimin. Karena kebaikan isteri dan anak-anak akan menimbulkan kebaikan orang-orang yang berhubungan dan menimba faedah dari mereka.

Sifat sifat merekalah yang menyebabkan Allah membalas dengan sebaik baik tempat kembali. Sebagaimana firman Allah ta’ala :

“(yaitu) syurga ‘Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang saleh dari bapak-bapaknya, istri-istrinya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu; (sambil mengucapkan): ‘Salamun ‘alaikum bima shabartum’ (Keselamatan atas kalian dengan sebab kesabaran kalian). Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.” (QS. Ar-Ra’d: 23-24)

Oleh karenanya di dalam ayat ini Allah berfirman, “Mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan selamat” dari Robb mereka, juga dari para malaikat-Nya yang mulia, bahkan mereka juga saling mengucapkan selamat satu dengan yang lainnya, mereka terbebas dari segala bentuk cela dan kesusahan.

Marilah kita bersihkan hati-hati kita dari dosa-dosa dan kesyirikan. Karena di hari kiamat nanti tidak akan bermanfaat lagi banyaknya harta dan keturunan. Berapa pun harta yang anda punya, emas sebesar gunung atau bahkan sepenuh bumi sekalipun, itu semua tidak ada artinya jika anda berjumpa dengan-Nya tanpa hati yang bersih. Begitu pula tidak ada artinya banyaknya anak cucu, walaupun mereka itu memiliki kedudukan dan jabatan-jabatan tertinggi di atas muka bumi, bila anda tidak menghadap-Nya dengan hati yang suci. Allah Ta’ala berfirman, :

“Pada hari di mana tidak bermanfaat lagi harta dan keturunan, kecuali orang yang menghadap Alloh dengan hati yang selamat.” (QS. Asa Syu’araa’: 88-89)

Imam Ibnu Katsir berkata: (hati yang selamat) artinya selamat dari dosa dan kesyirikan. Sa’id bin Al Musayyib mengatakan: hati yang selamat adalah hatinya orang beriman, karena hati orang kafir dan munafiq itu sakit. Abu ‘Utsman an-Naisaburi mengatakan: (hati yang selamat) adalah hati yang bersih dari bid’ah dan merasa tentram dengan as-Sunnah (Tafsir Ibnu Katsir, III/48).

Mengetahui beberapa sifat-sifat ibadurrahman tersebut, diharapkan bisa menjawab masalah mengenai krisis akhlaq yang terjadi pada zaman sekarang. Semoga kita bisa meneladani sifat-sifat mulia yang mereka contohkan. Serta Allah menjaga kita dari perbuatan yang tidak diridhoi dan mengampuni dosa-dosa kita selama ini

Penulis: Arif Fuady


0 Comments

Leave a Reply