Islamophobia

Published by Buletin Al Anwar on

Oleh: Fahmi Fardiansyah

 “Dan jika kalian memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepada kalian. Akan tetapi jika kalian bersabar) tidak mau membalas (sesungguhnya itulah) bersikap sabar itulah (yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar” (Q.S an-Nahl ayat 126).

Tahera Ahmad adalah perwakilan komunitas Muslim di Universitas Northwestern, Chicago, Amerika Serikat. Perempuan ini menceritakan pengalamannya ketika ia duduk dalam penerbangan United Airlines akan dampak dari isu sosial islamophobia (suatu rasa benci dan prasangka buruk terhadap Muslim yang semakin berkembang di Amerika Serikat setelah kejadian runtuhnya menara kembar World Trade Center pada tanggal 11 September 2001). Peristiwa ini bermula saat pramugari pesawat menawarkan minuman kepada penumpang. Saat gilirannya tiba, Tahera meminta sekaleng diet cola. Pramugari itu pun kemudian memberikannya sekaleng minuman yang diminta, tapi dengan tutup yang sudah dibuka.

Tahera kemudian meminta minuman dalam kaleng baru yang tutupnya belum dibuka, dengan alasan menjaga minuman tetap higienis. Tapi pramugari United Airlines menolak permintaan Tahera. Namun, saat pria yang duduk di samping Tahera meminta bir kaleng, pramugari itu memberikan kaleng dengan tutup yang belum dibuka. Merasa mendapat perlakuan tidak adil, Tahera pun bertanya. Tapi pramugari itu kemudian memberikan jawaban yang dianggap Tahera tidak sopan, bahkan menyinggung keyakinannya yaitu dengan alasan bahwa minuman kaleng itu akan dijadikan senjata. Saat itulah Tahera Ahmad sadar bahwa dia menjadi korban diskriminasi, ia lantas mengatakan kepada pramugari bahwa yang dilakukannya adalah bentuk diskriminasi.(Kompas.com/09/06/16).

Islamophobia telah merambah dan berkembang sangat cepat di seluruh dunia, ia adalah isu sosial yang tidak boleh dianggap remeh. Karena ia yang akan menjadi cerminan perkembangan Islam kedepan. Apa yang dialami oleh Tahera masih pengalaman kecil dan masih banyak perlakuan tidak mengenakkan yang lebih ekstrim darinya yang di alami oleh para Muslimin di negara-negara yang minoritas penduduk beragama Islam. Untuk menyikapi masalah ini, seorang Muslim hendaknya melakukan kajian dengan dua sisi, sisi sebagai orang non-muslim dan sisi sebagai muslim dalam menanggapi islamophobia.

Sisi pertama, bagaimana non-muslim memandang islam ? jawabannya adalah mereka memandang Islam sebagai kesesatan dan pencucian pikiran orang-orang baik. Kenapa perspektif seperti itu muncul ? karena media massa hanya mempertontonkan perselisihan, radikalisme, dan kehancuran yang dialami, dilakukan, dan dirasakan oleh umat Islam, oleh umat Islam, dan di negara Islam. Ini kenyataan yang tidak boleh di elakkan. Ini terjadi karena kedangkalan pemahaman Islam oleh umat Islam yang mendambakan kesejahteraan seperti di masa Nabi dulu, sehingga ia haru sberani merubah suatu daerah itu walau harus membunuh sesamanya dan bahkan dirinya sendiri.

Parahnya lagi, setiap penayangan tentang Islam oleh media massa, tidak disertai dengan klarifikasi oleh para ahli atas apa yang sedang terjadi, apakah itu murni ajaran Islam atau itu sekedar permasalahan politik berkedok agama. Maka timbullah perpektif buruk akan Islam, citra Islam di mata non-muslim pun tiada arti kecuali kekerasan. Padahal, jika dilihat dari perjalanan sejarah, Islam berperan penting dalam pengemabngan ilmu pengetahuan dunia, andaikan Islam tidak ada maka pengetahuan tiada kabar untuk hari ini. Mark Graham (2006:207) mengungkapkan bahwa tidak patut untuk siapapun melakukan penghukuman yang bersifat prespektif terhadap Islam, apakah orang Eropa mulai lupa pada masa Reinansi (masa kebangkitan Eropa dari masa kegelapan), bahwa mereka bangkit sebab mereka mulai belajar kepada Islam  mulai dari pakaian mereka dari Persia, menyanyikan lagu-lagu Arab, membaca buku-buku filsafat para ilmuwan Muslim Andalusia, dan terbiasa memakan makanan khas Mamluk Turkish. Selayaknya mereka sadar untuk tidak ikut-ikut terseret akan isu-isu islamophobia yang merambah di dunia.

Sisi kedua, adalah sisi dimana bagaimana seharusnya umat Islam menyikapi isu ini, Allah telah menjawabnya dengan ayat diatas. Akan lebih baik jika ayat ini diurai terlebih dahulu maknanya. Diceritakan bahwa ketika peperangan Uhud telah berakhir dengan kekalahan dari pihak Islam, gugurlah singa Allah Hamzah, ia adalah paman Nabi hanya berbeda dua tahun lebih tua darinya. Hamzah dibunuh dengan sangat tragis, hidungnya, dan telinganya dipotong serta dadanya dirobek untuk dikeluarkan hatinya. Melihat jasad pamannya Nabi lanats berabda: “ Demi Allah suatu saat ketika waktunya, saya akan melakukan hal yang lebih dari ini kepada mereka lebih dari 70 kali” (riwayat Hakim dan Bayhaqy dalam di ad-Dalail, serta riwayat Bazzar dari Aby Hurayrah). Atas perkataannya Allah menurunkan pengingat kepada Nabi.

Wahai Muhammad jika kamu memang ingin membalas perlakuan buruk maka balaslah dengan balasan yang serupa untuk menunjukkan eksistensi kamu di mata mereka, bukan untuk membalas dendam. Akan tetapi ketahuilah Muhammad bahwa sabar adalah balasan lebih baik bagi mereka.

Umat Islam tidak perlu marah akan sikap yang muncul dari mereka-mereka yang berlaku tidak baik, apakah kita telah lupa apa yang difirmankan oleh Allah sewaktu kita nanti akan memasuki Surga,

 “Kesejahteraan buat kalian berkat kesabaran kalian maka alangkah baiknya tempat kesudahan ini” (Q.S ar-Ra’d ayat 24).

Kemudian bagaiman kita mengartikan kesabaran ? kesabaran ialah menerima apa yang telah terjadi kemudia berbuat yang lebih baik untuk memperbaiki apa yang telah terjadi. Nabi Muhammad telah mencontohkan hal dengan terjadinya perang Khandaq, dalam perang ini umat Islam memperoleh kemenangan bukan karena menuntut balas, akan tetapi adanya serbuan kafir Quraisy menuju Madinah, Nabi menerima kejadian ini dan melakukan yang lebih baik dari sebelumnya dan memperoleh kemenangan.

Selayaknya demikianlah Muslim sekarang, dia menjadi orang yang sabar menerima apa yang memang telah terjadi karena hal it tidak bisa dipungkiri dan sepatutnya ia kemudian melakukan perbuatan yang lebih baik dari sebelumnya dengan menunjukkna wajah Islam yang humanis penuh rahmat sebagaimana selayaknya orang membaca basmalah merasakan ketenangan tidak menimbulkan ketakutan.

Mutiara Hadits

“Dua perkara yang dibenci manusia: manusia membenci mati sedangkan kematian lebih bagus ketimbang fitnah, manusia membenci sedikitnya harta, sedangkan sedikitnya harta menyedikitkan hisab”. (H.R Ahmad)

“ Dua perkara yang Allah percepatkan siksanya di dunia, (yaitu) merampas hak orang lain dan durhaka kepada kedua orang tua”. (H.R ath-Thobary).

“Jauhilah sifat sombong, maka sesungguhnya seorang hamba yang sombong tidak berhenti hingga Allah kemudian menyuruh Malaikat: “catatlah hamba ini termasuk golongan orang sombong”. (HR Ibnu ‘Addy).


0 Comments

Leave a Reply