Rahasia Baitullah

Published by Buletin Al Anwar on

Oleh: Afrandi Karsanifan

Baitullah terdiri dari dua suku kata yaitu bayt dan Allah. Dalam ilmu nahwu, susunan seperti ini dinamakan idhofah yang terdiri dari mudhof dan mudhof ilaih. Bayt berfungsi sebagai mudhof sedangkan Allah menjadi mudhof ilaih. Susunan idhofah menyimpan salah satu makna dari 3 huruf Jarr, yaitu :

  • Makna من yakni البيانية (penjelas) jika mudhof ilaih termasuk jenis dari mudhof, seperti :

    اي هذا ثوب حز (ini adalah baju sutera)   ثوب من حز

  • Makna في yakni للظرفية (di dalam) jika mudhof ilaih adalah wadahnya, seperti :

توضأت بماء البئر  اي  (saya berwudhu dengan air sumur)  ماء في البئر

  • Makna lam yakni للملك (kepemilikan) jika tidak mungkin mengira-ngirakan maknaفي dan من, seperti :

  هذا كتاب زيد  اي  (ini adalah kitab zaid)  كتاب لزيد

Dalam konteks ini makna yang paling pas untuk baitullah adalah memperkirakan adanya makna lam yakni (kepemilikan) diantara idhofah tersebut. Jadi, baitullah bisa diartikan sebagai rumahnya Allah. Baitullah erat kaitannya dengan ka’bah, Masjidil Haram, kota Mekkah serta segala aktivitas yang dapat dikerjakan dalam ruang lingkup tersebut. Sebagaimana Allah telah berfirman pada surat Al-Baqoroh ayat 125 : Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. Dan jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim tempat shalat. Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: “Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang i’tikaf, yang ruku’ dan yang sujud.”

Kata Ka’bah sebenarnya diambil dari kata Ka’bu yang artinya mata kaki atau tempat kaki berputar bergerak untuk melangkah. Atau Ka’bain yang berarti dua mata kaki, mata bumi, sumbu bumi atau kutub putaran utara bumi. Beberapa rahasia tentang baitullah, ka’bah, Masjidil Haram dan kota Mekkah antara lain :

  • Mekkah adalah Ummul Qura.

Allah berfirman : ”Demikianlah Kami wahyukan kepadamu Al-Qur’an dalam bahasa Arab supaya kamu memberi peringatan kepada Ummul Qura (penduduk Mekkah) dan penduduk (negeri-negeri) di sekitarnya.” (QS. Asy-Syura ayat 7).

Secara bahasa, Umm artinya ibu , seseorang yang menjadi sumber keturunan. Jika kota Mekkah dikatakan sebagai Ummul Qura, maka Mekkah adalah induk dari semua negeri yang lain yang ada di bumi ini.

  • Kota Mekkah adalah pusat bumi.

Profesor Hussain Kamel, kepala bagian ilmu ukur bumi di Universitas Riyadh, Saudi Arabia menemukan fakta, bahwa sebenarnya kota Mekkah adalah pusat dari bumi. Pada mulanya ia meneliti suatu cara untuk menemukan arah kiblat di kota-kota besar di dunia. Ia menarik garis pada peta dan setelah itu ia mengamati dengan seksama posisi ke tujuh benua terhadap Mekkah dan jaraknya masing-masing. Ia memulai untuk menggambar garis-garis sejajar hanya untuk memudahkan proyeksi garis bujur dan garis lintang. Lebih lanjut beliau terbantu oleh program-program komputer untuk menentukan jarak-jarak yang benar dan variasi-variasi yang berbeda serta banyak hal lainnya.

  • Memiliki tekanan gravitasi yang tinggi

Ka’bah dan sekitarnya merupakan area dengan gaya gravitasi yang tinggi. Hal ini menyebabkan satelit, frekuensi, radio ataupun peralatan teknologi lainnya tidak mampu mengetahui isi yang ada di dalam Ka’bah.

Selain itu, tekanan gravitasi tinggi juga menyebabkan kadar garam dan aliran sungai bawah tanah tinggi. Inilah yang menyebabkan shalat di Masjidil Haram tidak akan terasa panas meskipun tanpa atap di atasnya. Tekanan gravitasi yang tinggi memberikan pesan langsung pada sistem imun tubuh untuk bekerja sebagai pertahanan dari segala macam penyakit. Tidak heran jamaah haji atau umroh jarang yang sakit saat berada di Mekkah, baru setelah sampai di tempat asal kebanyakan akan mengalami rasa kelelahan yang tinggi dan tidak jarang dapat membuat jamaah haji atau umroh jauh sakit.

  • Zero Magnetism Area

Di tengah-tengah antara kutub utara dan kutub selatan, ada suatu area yang bernama ‘Zero Magnetism Area’, artinya apabila seseorang mengeluarkan kompas di area tersebut, maka jarum kompas tersebut tidak akan bergerak sama sekali karena daya tarik yang sama besarnya antara kedua kutub.

Itulah sebabnya jika seseorang tinggal di Makkah, maka ia akan hidup lebih lama, lebih sehat, dan tidak banyak dipengaruhi oleh banyak kekuatan gravitasi. Oleh sebab itu, ketika mengelilingi Ka’bah, maka seakan-akan fisik para jamaah haji seperti di-charge ulang oleh suatu energi misterius dan ini adalah fakta yang telah dibuktikan secara ilmiah.

  • Ka’bah mengeluarkan sinar radiasi

Planet bumi mengeluarkan semacam radiasi, yang kemudian diketahui sebagai medan magnet. Penemuan ini sempat mengguncang Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA). Penelitian lanjutan terhadap fenomena ini menemukan bahwa radiasi tersebut berpusat di kota Mekkah, tempat dimana Ka’bah berada. Yang lebih mengejutkan adalah radiasi tersebut bersifat infinite (tak berujung). Hal ini telah terbukti ketika para astronot mengambil foto planet Mars, radiasi tersebut masih tetap terlihat. Para peneliti Muslim mempercayai bahwa radiasi ini menghubungkan antara Ka’bah yang ada di bumi (tempat ibadah manusia) dan Ka’bah yang ada di langit (tempat ibadah para malaikat).

  • Gerakan melawan arah jarum jam

Setiap benda di alam ini juga selalu bergerak berputar untuk menjaga keseimbangan. Di alam mikro, pada bagian terkecil dari setiap benda yang disebut atom, di samping melakukan putaran rotasi dengan arah berlawanan dengan jarum jam seperti perputaran (rotasi) bumi, elektron-elektron juga akan selalu berputar mengelilingi inti (pusat) atom.

Di  alam makro, bumi bersama planet-planet yang lain akan senantiasa berputar mengelilingi matahari (berevolusi). Sementara itu matahari bersama bumi, planet-planet lainnya, dan puluhan bulan juga berputar mengelilingi pusat Galaksi Bimasakti. Dan di dalam galaksi Bimasakti itu sendiri mempunyai sekitar milyaran matahari. Sebagaimana firman Allah SWT dalam QS. Yasiin ayat 38-40 yang berbunyi:“Dan Matahari berjalan di tempat peredarannya untuk masa yang telah ditentukan baginya. Itulah ketetapan dari Yang Maha Kuasa lagi Maha mengetahui. Dan bagi bulan telah Kami tetapkan manzilah-manzilah, sehingga dia kembali sebagai bentuk tandan yang tua. Tidaklah mungkin matahari menyusul bulan dan tidak mungkin malam mendahului siang karena semua beredar pada garis orbitnya.”

Dapat ditarik kesimpulan putaran thawaf sejalan dengan perputaran segala sesuatu yang ada di alam semesta ini. Arah lawan jarum jam memberi energi hidup dari alam semesta sehingga saat melaksanakan thawaf para jamaah jarang sekali yang merasakan kelelahan.

  • Tempat ibadah tertua

Allah SWT berfirman dalam QS. Ali Imron ayat 96, yang artinya : Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia.

Dalam suatu keterangan disebutkan bahwa “semua Nabi pernah melaksanakan ibadah haji kecuali Nabi Hud dan Nabi Solih, keduanya tidak dapat melaksanakan haji karena Ka’bah dan sekitarnya masih terdampak banjir terbesar yaitu pada masa Nabi Nuh.” Ka’bah kembali diperbaiki oleh Nabi Ibrahim dan putranya, Nabi Ismail. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Baqoroh ayat 127 yang artinya :  Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa): “Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”.

Itulah beberapa rahasia Baitullah, Ka’bah dan Mekkah yang dapat disajikan oleh penulis. Tentunya masih banyak rahasia lain yang belum diungkap, karena yang Maha Mengetahui segalanya adalah Allah semata. Prof. Imam Suprayogo pernah berkata “salah satu cara agar dapat khusyu’ dalam sholat adalah dengan membayangkan melihat Ka’bah.” karena beliau yakin bahwa di dalam Ka’bah adalah Baitullah yang sebenarnya. Sebagaimana firman Allah yang artinya: Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan. (Al-Baqoroh : 144)

Allah memang tidak membutuhkan tempat dan sebagainya. Tapi setidaknya yang namanya rumah pasti pernah dikunjungi. Jadi, mengingat ka’bah adalah sebagai wasilah untuk mengingat Allah sebagai pemilik atau bahkan penghuni dari rumah tersebut. Karena, pada dasarnya orang awam tidak mampu melihat dzat Allah secara langsung. Wallahu a’lam


0 Comments

Leave a Reply