Setan dan Hawa Nafsu

Published by Buletin Al Anwar on

“Hai kalian semua, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat dibumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan, karena sesugguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu”. (QS. Al-Baqarah[2]:168

Dalam kehidupan ini, anda harus mengetahui musuh nyata yang ada dalam diri anda. Musuh anda bukanlah teman yang dengki kepada anda, bukanlah saudara yang membenci anda, ataupun orang lain yang ingin mencelakakan dan menjatuhkan anda. Tetapi ketahuilah bahwa musuh anda sesungguhnya adalah setan yang akan selalu menyesatkan anda dari jalan kebenaran dan menginginkan anda untuk bersamanya di neraka kelak, selain itu musuh yang harus anda lawan adalah Hawa Nafsu yang ada pada diri anda. 

Setan

Setan dan hawa nafsu adalah sesuatu yang saling berkaitan untuk menjerumuskan manusia kedalam kenistaan dan ikut bersama dengan mereka di neraka kelak selama-lamanya. Setan tidak akan pernah bosan dan menyerah untuk menggoda anak cucu nabi Adam sesuai dengan permintaannya kepada Allah SWT ketika diusir dari surga yang bunyinya “Iblis menjawab; karena Engkau telah menyesatkan aku, maka aku benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan-Mu yang lurus, kemudian aku akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur” (QS. Al-A’raf[7];16-17).

Maksud dari ayat di atas adalah Allah menjadikan iblis/setan sebagai orang yang tersesat karena telah membantah perintah Allah untuk hormat kepada nabi Adam AS dan takabbur, menganggap dirinya lebih mulya dari nabi Adam. Setelah itu Allah mengusir iblis dari surga dan iblis pun mengatakan bahwa ia akan selalu mengganggu anak cucu nabi Adam untuk ingkar kepada Allah dan menjadi teman mereka selamanya di dalam neraka. Iblis akan melakukan hal apapun untuk dapat menyesatkan manusia, ia akan mengepung manusia lewat depan, belakang, samping kanan, samping kiri sampai manusia tersebut ikut dengan mereka sehingga mereka tidak selamat dan binasa sebagaimana Iblis.

Bagaimana Mungkin Allah Subhanahu Wata’ala Menjadikan Iblis Tersesat? Padahal Allah Tidak Memiliki Sifat Kekurangan!

Maka jawabannya adalah bahwa kehendak (Iradah) Allah Subhanahu Wata’ala ada dua, yaitu : Iradah kauniyah dan Iradah Syar’iyah. Iradah Kauniyah adalah kehendak yang di inginkan oleh Allah Subhanahu Wata’ala untuk terjadi di alam semesta, namun tidak mesti hal tersebut disukai Allah, sedangkan Iradah Syar’iyah adalah keinginan yang Allah sukai, namun hal itu tidak mesti terjadi. Semua ini terjadi karena hikmah dan keadilan Allah Subhanahu Wata’ala. Allah-lah yang maha mengetahui segala hikmahnya dan Allah maha adil dengan seluruh yang Dia lakukan. ini merupakan sifat Allah yang maha sempurna.

Oleh karena itu, Imam al-Qurthubi rahimahullah menegaskan hal ini di dalam tafsirnya. Beliau rahimahullah berkata: “Madzhab Ahlussunnah menyatakan bahwa Allâh Azza wa Jalla yang telah menjadikannya tersesat dan menciptakan kekufuran pada dirinya. Oleh karena itu, dalam ayat ini perbuatan yang menjadikan iblis sesat disandarkan kepada Allâh Azza wa Jalla. Dan inilah yang benar. Tidak ada sesuatu apapun yang ada kecuali dia adalah ciptaan Allâh Azza wa Jalla yang berasal dari kehendak Allâh Subhanahu wa Ta’ala . Aliran al-Imâmiyah, al-Qadariyah dan aliran yang lain telah menyelesihi syaikh (guru mereka), yaitu iblis, yang mana mereka mentaati iblis pada segala sesuatu yang dihiasi oleh iblis untuk mereka, tetapi tidak mentaatinya di dalam permasalahan ini. Mereka berkata, “Iblis telah berbuat kesalahan. Dan dia memang sering salah, karena dia telah menyandarkan kesesatan kepada Rabb-nya. Maha suci Allah dari hal tersebut.” Maka kita katakan kepada mereka (para pengikut aliran-aliran sesat tersebut), ‘Jika iblis (memang demikian), dia benar-benar sering berbuat kesalahan, lalu bagaimana pendapat kalian tentang perkataan Nabi yang mulia lagi ma’shûm (terjaga dari kesalahan), yaitu Nabi Nuh Alaihissallam. Beliau telah berkata kepada kaumnya: “Dan tidaklah bermanfaat kepada kalian nasihatku jika aku hendak memberi nasihat kepada kalian, sekiranya Allâh hendak menyesatkan kalian. Dia adalah Rabb kalian, dan kepada-Nya-lah kalian dikembalikan.” [QS. Hud/11:34]

Siapakah yang Bisa Selamat dari Iblis/Setan ?

Allah SWT. Berfirman dalam Surat Ash-Shaad Ayat 82-85 yang artinya “Iblis menjawab, ‘Demi kekuasaan Engkau, aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali para hamba-Mu yang mukhlas di antara mereka..’ Allâh berfirman, “Maka yang benar (adalah sumpah-Ku) dan kebenaran itulah yang Ku-katakan. Sesungguhnya Aku pasti akan memenuhi neraka Jahannam dengan jenis kamu dan dengan orang-orang yang mengikuti kamu di antara mereka kesemuanya.’ [Ash-Shaad/38:82-85].

Orang yang bisa selamat dari setan adalah mereka yang benar-benar percaya kepada Allah dan tidak menyembah selain Allah, orang-orang yang terjaga prilaku dan keimanannya. Harus kita ketahui bahwa iblis akan selalu menggoda manusia hingga mereka ikut dengannya, tetapi orang-orang yang tetap taat kepada Allah dan selalu mendekatkan diri kepada-Nya lah yang akan selamat dari godaan setan/iblis dan ia akan masuk ke dalam surga-Nya bersama orang-orang yang taat, tetapi orang-orang yang menyekutukan Allah dan menyembah setan maka ia akan selama-selamanya di neraka Jahannam bersama setan yang mereka puja/sembah.

Hawa Nafsu

Imam Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah rahimahullah mengatakan : “Hawa nafsu adalah kecondongan jiwa kepada sesuatu yang selaras dengan keinginannya” (Asbabut Takhallaush minal hawa, Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah, hal. 3).

Hawa nafsu dinamakan juga Al-Hawa karena bisa menjerumuskan seseorang ke dalam kenistaan atau ke dalam neraka. Orang yang menuruti kemauan hawa nafsu, hakikatnya untuk mencari kenikmatan semu dan kepuasan sesaat yang ada di dunia, tanpa berpikir panjang akibat yang akan mereka tanggung. Hawa nafsu akan timbul ketika kita menginginkan sesuatu dan hal tersebut harus tercapai dengan cara apapun meskipun bertentangan dengan agama. Contohnya memuaskan hasrat dengan bercinta, ingin makan dan minum, ingin marah kepada seseorang, dan masih banyak lagi contoh tentang hawa nafsu.

Apakah Hawa Nafsu Merupakan Hal Tercela?

Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah rahimahullah menjelaskan dalam kitabnya tersebut bahwa hawa nafsu diciptakan ada pada diri manusia guna menjaga kelangsungan hidupnya. Sebab, kalaulah tidak ada nafsu makan, minum dan nikah, tentulah manusia akan mati dan punah, karena tidak makan, minum dan menikah. Hawa nafsu mendorong manusia meraih perkara yang diinginkannya, sedangkan marah mencegahnya dari perkara yang mengganggunya dalam kehidupannya. Maka tidak selayaknya hawa nafsu dicela atau dipuji secara mutlak tanpa pengecualian. Sebagaimana marah tidak boleh dicela atau dipuji secara mutlak pula.

Allah mencela ittiba’ul hawa (mengikuti hawa nafsu) di beberapa ayat yang banyak dalam Al-Qur`an, diantaranya adalah firman-Nya dalam Surat Al-Jatsiyah dan Al-Qashash.

“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kalian tidak mengambil pelajaran?” (Al-Jaatsiyah: 23).

“Maka jika mereka tidak menjawab (tantanganmu) ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka (belaka). Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikitpun. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim” (Al-Qashash:50).

Sesuai keterangan diatas maka pada asalnya hawa nafsu itu adalah kecondongan jiwa kepada sesuatu yang disukainya, lalu jika condongnya kepada sesuatu yang sesuai dengan syari’at, maka terpuji, namun sebaliknya, jika kecondongannya  kepada sesuatu yang bertentangan dengan syari’at, maka tercela. Sedangkan jika disebutkan hawa nafsu secara mutlaq tanpa terikat dalam kondisi tertentu atau disebutkan tentang celaan terhadap hawa nafsu, maka yang dimaksudkan dalam konteks itu adalah hawa nafsu yang tercela.

Jadi, Ia lawan atau kawan? Dalam menjalani kehidupan, hawa nafsu yang terpuji ibarat teman perjalanan bagi Anda, sedangkan hawa nafsu yang tercela adalah musuh Anda.

Hawa Nafsu Meliputi Dua Hal: Syubhat dan Syahwat

Mengikuti hawa nafsu yang tercela, bisa dalam masalah beragama (penyakit syubhat) atau dalam masalah syahwat dunia (penyakit syahwat), atau dalam kedua penyakit tersebut sekaligus. Ulama merinci sebagai berikut:

  • Jika terkait dengan hawa nafsu jenis syubhat, maka bisa sampai menjerumuskan seseorang ke dalam status ahli bid’ah dan dinamakan ahlul ahwa`. Dan kebiasaan salaf menamai ahli bid’ah dengan nama ahlul ahwa`.
  • Adapun hawa nafsu jenis syahwat, maka terbagi dua, yaitu dalam perkara yang mubah, seperti makan, minum, dan pakaian dan bisa juga dalam perkara yang diharamkan, seperti zina, khamr, dan pelakunya dinamakan dengan fajir, fasiq, atau pelaku maksiat.

Dari beberapa pemaparan di atas, maka selayaknya kita dapat menyimpulkan bahwa:

  1. Iblis telah bersumpah untuk menyesatkan manusia sampai hari kiamat nanti.
  2. Iblis akan menyesatkan dan menghalangi manusia agar tidak menempuh seluruh jalan kebenaran dan keselamatan. Iblis akan menjadikan kebatilan indah dalam pandangan manusia sehingga mereka terjerumus ke dalamnya.
  3. Akan banyak orang yang mengikuti penyesatan iblis dan kita dianjurkan untuk meminta perlindungan dan penjagaan kepada Allah Azza wa Jalla dari Iblis dan pasukannya.
  4. Jika terkait dengan hawa nafsu jenis syubhat, maka bisa sampai menjerumuskan seseorang ke dalam status ahli bid’ah.

Jika terkait hawa nafsu jenis syahwat, maka terbagi dua, yaitu dalam perkara yang mubah, seperti makan, minum, dan pakaian dan bisa juga dalam perkara yang diharamkan, seperti zina, khamr, dan pelakunya dinamakan dengan fajir, fasiq, atau pelaku maksiat.

Penulis: Ali Hasanuddin


0 Comments

Leave a Reply