Pendidikan Dalam Kandungan: Tata Cara Orang Tua Mendidik Anak Sejak Dalam Kandungan

Published by Buletin Al Anwar on

Romi Mahendra

Email: [email protected]

Pendidikan merupakan hal yang seyogyanya diperoleh seseorang sejak masih dalam kandungan. Adapun yang paling berperan dan bertanggungjawab dalam mendidik anak sejak dalam kandungan ialah kedua orang tua, khususnya Ibu. Anak sebagai karunia dari Allah yang sekaligus merupakan amanah, harus diapresiasi dengan rasa syukur mendalam yang diimplementasikan dalam bentuk ketulusan merawat dan membimbingnya. Hal yang diharapkan tiada lain supaya mereka menjadi pribadi tangguh, memiliki kepekaan sosial yang tinggi dan tertanam di dalam dirinya keimanan yang kuat untuk meyakini sepenuhnya terhadap adanya sang pencipta serta keagungan seluruh ciptaan-Nya. 

Ketika seorang Ibu mengandung janin dalam rahimnya, sejak itulah nilai-nilai pendidikan perlu ditanamkan. Bahkan sebelum masa kehamilan pun tidak salah jika mempersiapkan segala hal untuk pertumbuhannya yang baik. Penelitian terbaru dari Qahwaji (2019:1) menyebutkan “janin yang ada pada rahim seorang Ibu memiliki indra dengan kepekaan yang baik, terlebih jika diperdengarkan dengan suara-suara yang baik seperti bacaan al-Quran, zikir, dan azan. Hal ini memberikan keyakinan serta kesempatan bagi orang tua untuk menerapkan pendidikan terhadap janin, demi tumbuh kembangnya yang optimal. 

Sebagaimana dipaparkan di awal, kedua orang tua lah yang paling berperan terhadap tumbuh kembang janin, khususnya perkembangan akhlak dan intelektualnya. Dalam hal ini, kedua orang tua harus mengetahui kemudian menerapkan cara apa saja yang semestinya dilakukan untuk menjadikannya baik. Sebelum memberikan asupan berupa penanaman nilai-nilai pendidikan, penting juga bagi orang tua untuk mengetahui fase-fase yang dialami janin dalam proses pembentukannya. Namun sesungguhnya dapat dibahas secara gamblang, yaitu dengan mengacu kepada Al-Quran (Lamadhah, 2012:39).

Al-Quran memberikan gambaran yang jelas tentang proses penciptaan manusia, khususnya ketika masih berupa janin, di dalamnya disebutkan: “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati, yaitu (berasal) dari tanah. Kemudian saripati itu kami jadikan air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulung itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka maha suci Allah, pencipta yang paling baik.” (QS. al- Mu’minun: 12-14).

Dengan beberapa tahapan penciptaan manusia sebagaimana digambarkan pada ayat di atas, memberi ruang khusus bagi orang tua untuk merenungkan kebesaran sang pencipta. Salah satu yang bisa diambil dalam ayat tersebut ialah bagaimana kondisi janin ketika mengalami pertumbuhan atau perkembangan dalam tahapan penciptaannya. Kemudian dari sini akan muncul usaha sadar untuk menjadikan janin tersebut mendapatkan asupan yang baik, khususnya asupan pendidikan dari orang tua khususnya Ibu. Di samping itu, hubungan janin ini juga sangat erat dengan Ibunya. Untuk itu, seorang ibu berkewajiban memelihara kandungannya dengan cara: (1) mengonsumsi makanan yang bergizi dan halalan thoyyiban, (2) menghindari benturan-benturan, (3) menjaga emosinya dari perasaan sedih atau marah, (4) menjauhi hal-hal yang membahayakan janin, (5) Menjaga rahim agar jangan sampai terkena penyakit atau infeksi. 

Di sisi lain, mendidik anak ketika masih dalam kandungan merupakan anjuran bahkan keharusan bagi orang tua. Namun tidak dapat dipungkiri, kenyataan saat ini  pendidikan anak dalam kandungan kurang mendapat perhatian bahkan cenderung diabaikan. Pada hakikatnya anak dapat dididik sejak masih dalam kandungan, karena selama dalam kandungan, otak dan indra pendengaran anak sudah mulai berkembang. Menurut Zakiyah (2014), janin dapat merasakan apa yang terjadi di luar kehidupan mereka. adapun yang mempengaruhi otak dan indra pendengaran mereka ialah emosi dan kejiwaan Ibu, rangsangan suara yang terjadi di sekitar ibu dan nutrisi atau makanan yang dikonsumsi. Oleh karenanya, dalam memberikan pendidikan bagi anak dalam kandungan, orang tua harus mengetahu cara-cara atau metode yang diterapkan ketika hendak mendidik mereka.   

Metode Mendidik Anak Dalam Kandungan

Mendidik anak dalam kandungan bukan berarti mendidik anak menjadi pandai terhadap apa yang diajarkan oleh orang tuanya, melainkan sekedar memberikan stimulus yang diproses secara edukatif dalam kandungan melalui ibunya. Dr. Baihaqi menjelaskan bahwa hakikat metode mendidik anak dalam kandungan ialah dengan cara sederhana, yaitu memberikan stimulasi atau sensasi (rangsangan). Rangsangan dengan metode tersebut pada akhirnya diharapkan akan dapat memicu respons balik dari anak dalam kandungannya. Hal ini akan sangat membantu janin atau bayi yang masih dalam kandungan untuk menyerap apa yang dilakukan Ibu dari luar. Hal lain yang penting untuk diketahui ialah orang selain Ibu tentu bisa juga memberikan stimulus atau rangsangan. Artinya seorang Ibu bisa dibantu oleh orang yang dipercayainya, terutama Ayah. Menurut Isna dalam Zakiyah (2014), terdapat beberapa metode mendidik anak dalam kandungan yaitu sebagai berikut:

  1. Metode Doa

Doa merupakan instrumen yang sangat ampuh untuk mengantarkan kesuksesan sebuah perbuatan. Hal ini dikarenakan segala sesuatu upaya pada akhirnya hanya Allahlah yang berhak menentukan hasilnya. Bagi seorang muslim, berdoa berarti senantiasa menumbuhkan semangat dan optimisme untuk meraih cita-cita dan pada saat yang bersamaan membuka pintu hati untuk menggantungkan sepenuh hati akan sebuah akhir yang baik di sisi Allah. Dengan doa seseorang tidak saja akan terobsesi dan tersugesti dengan doanya, melainkan juga akan termotivasi menjadi seorang yang kuat, optimis dan memiliki harapan yang pasti. 

Doa telah ditegaskan dalam sebuah hadis sebagai senjata bagi-orang orang yang beriman, ad-du’a shilaahul mu’minin. Oleh karena itu relevan sekali bila doa ini dijadikan metode utama mendidik anak dalam kandungan. Para nabi dan orang-orang saleh terdahulu banyak melakukan metode doa, seperti Nabi Ibrahim (QS. Ash-Shaffaat: 100, QS. al-Furqaan: keluarga Imran ( QS.Ali Imran:38), Nabi Zakariya ( QS. al-Anbiyaa’: 89, QS. Maryam: 5).

  1. Metode Ibadah

Segala bentuk ibadah mahdhah dan ghairu mahdhah, wajib dan sunnah dapat dijadikan metode untuk mendidik anak dalam kandungan. Besar sekali pengaruh yang dilakukan ibu dengan melakukan metode-metode ibadah ini bagi anak dalam kandungannya, selain melatih kebiasaan beribadah, juga akan menguatkan mental, spiritual, dan keimanan anak setelah nanti lahir, tumbuh, dan berkembang menjadi dewasa.

  1. Metode Membaca dan Menghafal

Membaca merupakan salah satu cara yang paling utama untuk memperoleh berbagai informasi penting tentang ilmu pengetahuan. Anak dalam kandungan pada usia 20 minggu (5 bulan) sudah bisa menyerap informasi melalui pengalaman stimulasi atau sensasi yang diberikan ibunya. Metode menghafal secara teknis sama dengan metode membaca. Letak perbedaannya hanyalah pada konsentrasi bidang bacaan  dan hafalan. Jika Ibu hendak menghafal suatu bidang ilmu, hendaklah ia mengulang-ulang bacaannya hingga hafal betul. Cara menghafal yang lainnya bisa juga dilakukan dengan bantuan visualisasi kata yang akan di hafal.

  1. Metode Dzikir

Zikir adalah aktivitas sadar pada setiap waktu setiap mukmin yang berpegang teguh pada tali Allah SWT. Oleh karena itu, seorang ibu yang mengandung hendaknya selalu memasukkan kegiatan zikir ini dalam agenda program pendidikan anak dalam kandungannya. Zikir secara umum berarti waspada dan ingat bahwa berstatus sebagai hamba Allah di mana setiap kegiatannya tiada lain adalah pengabdian diri kepada Allah SWT semata dalam keseluruhan aktivitasnya. Ia senantiasa menumbuhkan kesadaran untuk menyandarkan hidup dan kehidupannya dalam naungan Allah, menolak segala hal yang bukan dari pemberian Allah SWT. Zikir secara khusus berarti melakukan zikir seperti dengan lafaz tahmid, tahlil, takbir, istighfar, dan kalimah thoyyibah lainnya. 

  1. Metode Dialog

Metode ini disebut sebagai metode interaktif antara anak dalam kandungan dan orang-orang di luar rahim, seperti ibu, ayah, saudara bayi, dan atau anggota keluarga lainnya. Dengan metode dialog diharapkan seluruh unsur anggota keluarga dapat dilibatkan untuk melakukan interaksi secara dialogis dengan anak dalam kandungan. Metode ini bermanfaat  bagi bayi karena selain dapat berinteraksi dan berkomunikasi dengan baik, juga saling mengenal dengan mereka yang ada di luar rahim.

Manfaat Mendidik Anak dalam Kandungan

Di antara banyaknya manfaat yang akan diperoleh calon anak setelah lahir atau keluar dari perut ibunya, tidak terlepas dari pembentukan kecerdasan dalam jati diri anak tersebut sejak masih dalam kandungan. Secara garis besar kecerdasan dibagi menjadi tiga macam, yaitu kecerdasan spiritual, kecerdasan emosional dan kecerdasan intelektual (Supardi dan Aqila dalam Zaim, 2016:8081) . Diharapkan ketiga kecerdasan yang ada ini, akan didapatkan oleh anak setelah lahir. Tentu inilah manfaat secara umum yang akan didapatkan anak karena dididik sejak masih dalam kandungan Ibunya. 

     Adapun secara spesifik, manfaat yang bisa diperoleh dari pendidikan yang telah diberikan, di antaranya setelah lahir atau setelah disebut bayi, dia akan lebih peka terhadap asupan yang diperoleh dari lingkungan atau orang-orang di sekitarnya. Tidak hanya itu, orang-orang yang berada di sekelilingnya juga tanpa disadari memiliki ketertarikan sendiri ketika melihat, menyentuh, atau mengajak si bayi bercengkerama atau bermain. Jadi, anak yang mendapatkan pendidikan sejak masih dalam kandungan, secara tidak langsung telah membentuk kecerdasan spiritual, emosional dan intelektualnya, dan akan tampak setelah dia lahir.  Oleh karenanya, dapat disimpulkan bahwa buah hati atau bayi seorang Ibu yang mendapat pendidikan sebelum lahir akan memiliki banyak kelebihan dibandingkan dengan yang tidak mendapat pendidikan saat dalam kandungan. Di samping itu, hal yang paling penting untuk dipahami dan diakui kebenarannya, ialah semuanya terjadi atas kuasa dan kehendak Allah SWT.


0 Comments

Leave a Reply