KISAH KEHIDUPAN ABU UBAIDAH BIN AL-JARRAH: PEMUDA QURAISY YANG MEMELUK ISLAM DI AWAL DAKWAH

Published by Buletin Al Anwar on

Oleh: Salwa Salimatunnajah

Abu Ubaidah bin al-Jarrah merupakan keturunan bangsawan Quraisy. Ia adalah salah satu figur penting dalam sejarah Islam. Masa mudanya diwarnai dengan tradisi dan budaya Arab pra-Islam, termasuk kebiasaan menyembah berhala. Namun, saat dakwah Rasulullah SAW mulai menyebar, Abu Ubaidah terpikat dengan ajaran-ajaran Islam yang revolusioner.

Keputusan Abu Ubaidah untuk memeluk Islam bukan tanpa rintangan. Perubahan keyakinannya pada masa itu menandakan perlawanan terhadap norma dan tradisi yang berlaku, sekaligus mengundang tekanan dan kebencian dari orang-orang terdekatnya. Di tengah situasi penuh tantangan ini, Abu Ubaidah teguh dalam keyakinannya akan kebenaran Islam dan tak gentar menunjukkan keberaniannya.

Abu Ubaidah memainkan peran penting dalam penyebaran Islam. Ia termasuk di antara segelintir orang pertama yang berani menyatakan diri sebagai Muslim di tengah situasi yang penuh rintangan. Keteguhannya ini menjadi inspirasi bagi banyak orang di Mekah untuk mengikuti jejaknya dan memeluk Islam, sehingga memperkuat fondasi kaum Muslim di masa awal. Selain itu, ia juga turut berjuang di medan perang dan peristiwa besar lainnya. Keberanian dan pengabdiannya dalam membela Islam membuatnya dihormai oleh Nabi Muhammad SAW dan para sahabat.

Proses Masuk Islamnya Abu Ubaidah bin Al-Jarrah

Abu Ubaidah bin Al-Jarrah, yang memiliki nama lengkap Amir bin Abdullah bin Jarrah Al-Quraisy Al-Fihri Al-Makki, berasal dari kalangan bangsawan Quraisy. Beliau ternyata masih memiliki hubungan kekerabatan dengan Rasulullah SAW, silsilah mereka bertemu pada leluhur bernama Fihr. Abu Ubaidah dilahirkan pada tahun 583 M. Ayahnya bernama Abdullah bin Jarrah, seorang yang menentang dan tidak menerima ajaran Islam.(Al-Jumhuri 2015)

Abu Ubaidah bin Al-Jarrah mantap memeluk Islam atas ajakan dan bimbingan Abu Bakar. Hanya berselang sehari setelah Abu Bakar, ia memantapkan diri sebagai Muslim bersama beberapa sahabat lainnya, yaitu Abdurrahman bin Auf, Utsman bin Mazh’un, dan Arqam bin Abi Arqam. Pada masa itu, Islam masih dalam fase penyebaran secara sembunyi-sembunyi. (Ali 2019)

Meskipun terlahir sebagai bangsawan terhormat di kalangan Quraisy, Abu Ubaidah bin Al-Jarrah tak luput dari siksaan kejam kaumnya setelah memeluk Islam. Ia termasuk golongan Assabiqunal Awwalun (orang-orang pertama yang masuk Islam) yang ditimpa berbagai penyiksaan oleh Quraisy. Namun, di tengah derita yang tak terkira, Abu Ubaidah bin Al-Jarrah tak gentar sedikit pun. Imannya kepada Islam semakin kuat dan tak tergoyahkan. Segala rayuan dan paksaan murtad dari kaum kafir Quraisy tak mampu melemahkan pendiriannya. Kesetiaannya kepada Rasulullah SAW pun tak pernah pudar dalam situasi dan kondisi apapun. Pengorbanan Abu Ubaidah bin Al-Jarrah terhadap Islam tak hanya terlihat dari perjuangan fisiknya. Ia rela memberikan seluruh harta benda dan hidupnya untuk menegakkan Islam.(Aizid 2018)

Keberanian Abu Ubaidah bin Al-Jarrah

Abu Ubaidah bin Al-Jarrah adalah sosok pemberani sejati. Tak gentar menghadapi musuh Islam, ia rela mengorbankan nyawanya demi agama yang dianutnya. Keberaniannya yang luar biasa menjadikannya panglima perang yang tangguh dan disegani lawan. Tak ada musuh yang mampu melarikan diri dari pedangnya. Semangat juangnya tak padam meski Rasulullah SAW telah wafat. Abu Ubaidah bin Al-Jarrah tetap teguh berjuang demi menegakkan panji-panji Islam.(Aizid 2018)

Rasulullah SAW tak pernah meragukan keikhlasan dan pengabdian Abu Ubaidah bin Al-Jarrah dalam membela Islam. Hal ini tercermin dari rasa cinta yang beliau limpahkan kepada Abu Ubaidah. Bahkan, diriwayatkan dari Amr bin Al-Ash Ra., bahwa Rasulullah SAW menyebut Abu Ubaidah sebagai salah satu sahabat yang paling dicintainya. Ketika ditanya mengenai orang yang paling dicintai, beliau menjawab Aisyah. Namun, saat ditanya lagi mengenai sahabat laki-laki yang paling dicintai, beliau menyebut Abu Bakar terlebih dahulu. Baru setelah itu, Rasulullah SAW menyebut Abu Ubaidah bin Al-Jarrah.(Aizid 2018)

Peran dan Jasa Abu Ubaidah dalam Menegakan Islam

Abu Ubaidah bin Al-Jarrah memainkan peran penting dalam berbagai pertempuran krusial untuk menegakkan Islam. Berikut beberapa di antaranya:

  1. Perang Badar

Dalam perang badar, Abu Ubaidah bin Jarrah berada di barisan terdepan tanpa rasa takut, menunjukkan keberaniannya. Ia berhasil menembus pertahanan musuh dan menebas habis mereka. Di tengah pertempuran, Abu Ubaidah dihadapkan pada ujian berat. Ayahnya, Abdullah bin Jarrah, yang masih kafir, menjadi lawannya. Abu Ubaidah berusaha menghindar, namun takdir mempertemukan mereka. Dengan berat hati, Abu Ubaidah menebas kepala ayahnya, sehingga ayahnya gugur dalam pertempuran.(Al-Basya 2016)

Peristiwa ini menunjukkan keteguhan iman Abu Ubaidah. Ia mendahulukan kewajibannya kepada Allah di atas cintanya kepada orang tua. Abu Ubaidah bin Jarrah menjadi salah satu pahlawan dalam peperangan ini. Perang ini menjadi titik balik penting bagi kaum Muslim dan membangkitkan semangat jihad mereka.

  1. Perang Uhud

Ketika Rasulullah terluka akibat panah pada perang Uhud, Abu Bakar dan Abu Ubaidah berlari menolong beliau. Abu Ubaidah dengan sigap mendahului dan meminta izin mencabut mata rantai helm yang tertancap di pipi Rasulullah. Dengan giginya, Abu Ubaidah mencabut kedua mata rantai tersebut hingga salah satu giginya tanggal. Dari kejadian ini kita tahu bahwa Abu Ubaidah rela kehilangan giginya demi keselamatan Rasulullah, sebuah bukti nyata pengorbanannya yang agung.(Saputra 2017)

  1. Ekspedisi Daun Khabath

Abu Ubaidah bin al-Jarrah Ra. memimpin 300 pasukan Muslim dalam suatu ekspedisi. Misi ini dijalankan tanpa bekal yang memadai, hanya sebakul kurma untuk perjalanan jauh. Abu Ubaidah menerima tugas ini dengan penuh ketaatan dan semangat tinggi. Saat kurma yang menjadi bekal mereka habis, pasukan mencari daun Khabath untuk dimakan dan minum. Kondisi ini menunjukkan kegigihan dan ketabahan mereka dalam menghadapi kesulitan. Ekspedisi ini pun dikenal dengan sebutan “Daun Khabath” karena peristiwa tersebut.(Aizid 2018)

  1. Penaklukan Wilayah Syam

Di masa pemerintahan Umar bin Khattab, Abu Ubaidah bin al-Jarrah ditugaskan memimpin pasukan Muslim ke Syam (Suriah). Ia berhasil menjalankan tugasnya dengan gemilang. Kemenangan demi kemenangan diraihnya hingga seluruh wilayah Syam takluk di bawah kekuasaan Islam, mulai dari tepi sungai Eufrat di sebelah timur hingga Asia Kecil di sebelah utara. Penaklukan wilayah Syam ini menjadi salah satu jasa besar Abu Ubaidah bin al-Jarrah. (Aizid 2018)

Selain di medan perang, Abu Ubaidah bin Al-Jarrah juga menunjukkan dedikasinya dalam berbagai peran lain, seperti:

  1. Beliau diamanahkan oleh Rasulullah SAW untuk mengelola zakat di Madinah.
  2. Beliau diamanahkan oleh Abu Bakar untuk mengelola Baitul Mal yang merupakan lembaga keuangan yang menyimpan dan mengelola harta umat Islam.
  3. Beliau diangkat sebagai gubernur Bahrain dan Homs setelah penaklukan wilayah tersebut oleh Muslim.

Abu Ubaidah Sang Kepercayaan Umat

Kisah kepercayaan Rasulullah SAW kepada Abu Ubaidah bin Al-Jarrah tergambar jelas dalam peristiwa kedatangan dua uskup Nasrani dari Najran. Ketika mereka meminta Rasulullah untuk menunjuk hakim dan pengajar agama Islam di Najran, Rasulullah tanpa ragu menunjuk Abu Ubaidah. Keputusan ini menunjukkan keyakinan penuh Rasulullah terhadap integritas, kebijaksanaan, dan keteladanan Abu Ubaidah.(Aizid 2018)

Al Bukhari juga meriwayatkan dari Anas bin Malik Radiyallahu Anhu, bahwa Nabi saw, bersabda,

لكُلِّ أُمة أمين ، وأمين هذهِ الأُمَّةِ، أَبُوا عُبَيْدَة بن الجراح

Artinya: “Setiap Umat memiliki kepercayaan, dan orang kepercayaan dari umat ini, ialah Abu Ubaidah bin Al- Jarrah.”

Abu Ubaidah bin Al-Jarrah tidak hanya mendapat kepercayaan penuh dari Rasulullah SAW, tetapi juga dicintai dan dihormati oleh para sahabat Nabi. Buktinya, saat Rasulullah SAW wafat, banyak orang yang mendatangi Abu Ubaidah. Bahkan, tokoh sekaliber Umar bin Khattab pun turut serta. Ini bisa jadi menunjukkan mereka menginginkan Abu Ubaidah sebagai pemimpin pengganti Rasulullah SAW. Tetapi ia menolak hal tersebut dan lebih menyarankan Abu Bakar sebagai gantinya. (Al-Jumhuri 2015)

Kesetiaan dan kekaguman Umar bin Khattab terhadap Abu Ubaidah bin Al-Jarrah tergambar jelas dari perkataannya. Bahkan setelah Abu Ubaidah wafat, Umar masih menyebut namanya sebagai calon pengganti yang ideal. Beliau beralasan pernah mendengar sabda Rasulullah SAW yang menyebut Abu Ubaidah sebagai “orang kepercayaannya.”(Al-Jumhuri 2015)

Wafatnya Abu Ubaidah bin Al-Jarrah

Pada tahun 18 H, Umar bin Khattab mengirim pasukan ke Jordania di bawah komando Abu Ubaidah bin Jarrah. Pasukan tersebut kemudian bermarkas di ‘Amwas, Jordania. Namun, penyakit kusta atau pes menyerang mereka. Mendengar kabar ini, Umar menulis surat kepada Abu Ubaidah, memintanya segera kembali ke Madinah karena ada hal penting yang ingin dibicarakan. Abu Ubaidah menyadari bahwa Umar ingin menyelamatkannya dari penyakit. Beliau lantas mengingatkan Umar dengan sabda Rasulullah SAW: “Tiada penyakit menular kecuali penyakit kusta dan penyakit gila.” Abu Ubaidah kemudian memutuskan untuk tetap di Jordania dan melanjutkan tugasnya memimpin pasukan.(Machalli 2020)

Ketika membaca balasan surat Abu Ubaidah, Umar bin Khattab langsung menangis. Orang-orang di sekitarnya mengira Abu Ubaidah telah meninggal. Namun, Umar berkata, “Tidak, tapi seakan-akan dia sudah meninggal”. Ini menunjukkan betapa sedih dan khawatirnya Umar terhadap Abu Ubaidah.

Dalam riwayat lain setelah bertukar surat dengan Umar yang khawatir akan keselamatannya, Khalifah memerintahkan Abu Ubaidah untuk meninggalkan ‘Amwas yang dilanda wabah. Demi melindungi pasukannya, Abu Ubaidah mematuhi perintah tersebut dan pindah ke Al-Jabiyah. Namun sayangnya, beliau terlanjur tertular penyakit yang melanda ‘Amwas. Menyadari ajalnya semakin dekat, Abu Ubaidah tak lupa menjalankan tugasnya sebagai pemimpin. Beliau menunjuk Mu’adz bin Jabal sebagai penggantinya untuk meneruskan kepemimpinan pasukan. Setelah itu, Abu Ubaidah wafat pada usia 58 tahundan dimakamkan di Yordania.(Machalli 2020)

Selain dikenal sebagai panglima perang yang tangguh, Abu Ubaidah juga dikenal sebagai perawi hadits. Beliau meriwayatkan sebanyak 14 hadits dari Rasulullah SAW. Dan ia juga termasuk salah satu sahabat nabi yang dijamin masuk surga.

Dari berbagai penjelasan diatas, kita dapat menarik kesimpulan bahwa Abu Ubaidah bin Al-Jarrah merupakan salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW yang paling dihormati dan dicintai. Ia memeluk Islam di awal masa penyebarannya. Ia merupakan orang yang selalu taat dan setia kepada Rasulullah SAW. Selain itu, ia juga terkenal sebagai panglima perang yang tangguh dan tak gentar menghadapi musuh. Sifat bijaksana dan amanahnya membuat ia mendapat julukan “Orang Kepercayaan Umat”. Dedikasi dan pengabdiannya kepada Islam sangatlah besar. Sehingga kisah hidupnya patut dicontoh dan diteladani oleh generasi muslim saat ini.

 

REFERENSI

Aizid, Rizem. 2018. The Great Sahaba. Yogyakarta: Laksana.

Al-Basya, Adbdurrahman Ra’fat. 2016. Sirah 65 Sahabat Rasulullah Shallallahu ’alaihi Wa Sallam. Jakarta: Zikrul Hakim.

Al-Jumhuri, Muhammad Asroruddin. 2015. Belajar Aqidah Akhlak: Sebuah Ulasan Ringkas Tentang Asas Tauhid Dan Akhlak Islamiyah. Yogyakarta: Penerbit Deepublish.

Ali, Imam Mubarak Bin. 2019. Dahsyatnya Ibadah, Bisnis, Dan Jihad Para Sahabat Nabi Yang Kaya Raya. Yogyakarta: Laksana.

Machalli, Tebyan A’maari. 2020. Al Akhbar – Titian Yang Tertulis. Jakarta: Mirqat.

Saputra, Robi Afrizan. 2017. Road to Jannah. Yogyakarta: Genta Hidayah.


0 Comments

Leave a Reply