MENELADANI RASULULLAH SAW DALAM MELANGGENGKAN PILAR DAKWAH

Published by Buletin Al Anwar on

Oleh: Nurul Izzah

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung”. (QS. Ali Imran: 104)

Saudaraku, di era mendekati akhir zaman ini betapa banyak kita menyaksikan keadaan kaum Muslim yang berada dalam keterpurukan. Di Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam namun, tak banyak pula dari mereka yang menjalankan aturan Islam secara total dalam aktivitas kesehariannya. Tak jarang kita melihat antara laki-laki dan perempuan lebih mementingkan hawa nafsu, dibanding keselamatan mereka sendiri. Memperlihatkan aurat seolah-olah merupakan hal yang biasa-biasa saja. Sulit rasanya membedakan antara cara bergaul kaum muslim dan mana yang bukan. Beginilah akhlak generasi yang semakin jauh dengan tuntunan syariat Islam dengan lebih mengindahkan  tatanan hidup dunia Barat. Hukum-hukum yang diterapkan di tengah masyarakat tak bersumber dari ajaran Islam. Aktivis dakwah kampus yang berniat memperjuangkan Islam dipersekusi oleh pihak kampus. Sungguh, terjadi keterbalikan, anti terhadap syariat Allah SWT digencarkan sebaliknya budaya materialisme, konsumtif dan permisivisme-hedonistik disuburkan. Akankan kita diam melihat hal ini? Melihat realita generasi umat muslim yang tak lagi menyatu dengan hukum-hukum Islam?

Ayat di atas sudah jauh-jauh hari Allah SWT turunkan melalui risalah Nabi Muhammad SAW dengan tujuan mengingatkan kepada umatnya untuk menegakkan kebenaran (al-khair) dan melakukan amar ma’ruf nahi munkar. Imam Ibnu Katsir memaknai menyeru kepada kebajikan (al-khair) di sini ialah mengikuti Alquran dan As Sunnah. (Imam Ibnu Katsir, Tafsirul Qur’anil ‘Azhim, juz 1, hlm. 478). Sementara, dalam hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Murdawaih memaknai ayat ini yaitu, hendaklah ada segolongan umat ini yang bertugas untuk mengemban urusan tersebut, sekalipun urusan tersebut memang diwajibkan pula atas setiap individu dari umat ini. Sebagaimana yang disebutkan di dalam kitab Sahih Muslim dalam sebuah hadis dari Abu Hurairah. Jelaslah  bahwa ayat ini menegaskan serta memerintahkan kepada kalangan kaum muslimin untuk menyeru/mendakwahkan Islam secara keseluruhan. Menyeru kepada yang ma’ruf  dan mencegah kepada yang munkar. Dengan demikian, ayat ini mewajibkan umat Muslim untuk berdakwah dan memerintahkan adanya sekelompok umat muslim (jama’ah) dalam mengemban dakwah Islam untuk bangkitnya kegemilangan Islam dan terwujudnya hukum-hukum Islam beserta kekuasaannya. 

Dakwah merupakan wujud cinta kita sesama umat muslim. Upaya untuk menyeru manusia kepada jalan Islam hingga mereka keluar dari kegelapan jahiliyah menuju cahaya Islam. Allah SWT. berfirman:

“Serulah manusia ke jalan Rabb-mu (Allah) dengan jalan hikmah (hujjah) dan nasihat yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik” (QS. An Nahl [16]: 125).

Dengan adanya pernyataan Allah SWT ini, jelas sudah bahwa perlu dibangkitkan pada masyarakat sebuah kebiasaan untuk saling berbagi dalam kebaikan dan kesabaran karena itulah bentuk kepedulian kita antar sesama, agar yang salah bisa dibenahi dan bersemangat menuju kebaikan. Kondisi umat muslim tidak akan bangkit jika para pemuda hanya berdiam menyaksikan realitas buruk di depan mata sebab Allah Rabbul ‘Alamin tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga kaum tersebut berusaha mengubah kemungkaran ke arah Islam. Begitulah firman Allah Sang Pemilik Karunia dalam surat Ar Ra’du ayat 11. Islam juga tidak mengajarkan untuk bersikap tak memedulikan kesalahan orang lain. Kemaksiatan mereka merupakan kemaksiatan kita juga. Itulah dakwah yang diajarkan dalam Islam saling berbagi tentang apa yang kita rasakan, juga apa yang kita harapkan untuk umat ini.

Menyeru kepada kebaikan tentu bukanlah hal yang mudah butuh komitmen dan keteguhan yang kuat, sebab 12 abad yang lalu berhasilnya Rasulullah SAW mendirikan pemerintahan Islam di Madinah (Daulah Islam Nabawiyah) pada tahun 622 Masehi hingga penaklukkan Konstantinopel oleh Muhammad Al fatih dapat dicapai dengan proses yang amatlah berat. Mungkin kita tidak sanggup mengalami bagaimana perjuangan umat muslim dahulu dalam berjamaah, bersama-sama menegakkan ajaran Islam nan Mulia ini. Rasulullah yang pada awalnya menjalani dakwah seorang diri, kemudian melanjutkannya kepada para sahabat dan teman-teman terdekatnya sampai terbentuk jama’ah  yang terus melaksanakan dakwahnya bagi penduduk Mekkah. Atas bimbingan Rasulullah dan keistikamahan para pengikutnya, beliau berhasil mengembangkan dakwah dengan melakukan hijrah ke Madinah secara terang-terangan dan pada saat itu jumlah penduduk Islam berkembang pesat mencapai 300.000 ribu orang yang bertahan hingga peristiwa Haji Wada tiba. Semua itu diraih dengan kesabaran dan ketabahan beliau walaupun dijerumuskan, dibelokkan air mata mereka tak membendung perjuangannya untuk menyeru manusia kepada jalan yang benar.

Keyakinan akan janji Allah berhasil menjadikan tekad mereka mampu dalam menegakkan Daulah Islam. Bagaimana cara mereka melanggengkan dakwah hingga mencetak kepemimpinan pemerintahan Islam seperti itu? Secara umum ada tiga langkah yang merupakan satu kesatuan manhaj, yaitu:

1. Beliau melakukan pembinaan secara intensif dan berkelanjutan (At tarbiyah al-istimroriyah) dalam membangun interaksi ideal antara fitrah (jiwa, akal, hati) yang dapat memunculkan pemikiran yang sesuai dengan sistem Islam. Pada saat itu, setelah Rasulullah berhasil mengislamkan orang-orang terdekatnya rumah Arqam bin Abi Arqam yang menjadi pusat dakwah umat muslim untuk melakukan pertemuan. Mereka menyelenggarakan halakah-halakah secara rutin di tempat tersebut.

2. Membangun semangat pembinaan bersama masyarakat (Tafa’ul ma’al ummah). Proses tarbiyah beliau terapkan dalam bingkai jamaah secara konsisten. Seperti halnya ketika Rasulullah berhasil membentuk negara Islam di Madinah beliau langsung meletakkan asas-asas penting bagi masyarakat di sana. Diawali dengan menyatukan sahabat Anshar dan Muhajirin kemudian melaksanakan pembangunan masjid. Karena itulah, sampai sekarang masjid menjadi asas utama & terpenting dalam pembentukan masyarakat Islam. Melalui proses secara berjamaah inilah nilai-nilai yang ditanam tumbuh mengakar menjadi wujud yang kongkret.

3.  Melakukan dakwah dengan tujuan jihad di jalan Allah (Ad-Dakwah ilallah wal Jihad fii Sabilillah). Proses pembinaan, tarbiyah dan berjamaah tidak akan sempurna bila tidak diletakkan dalam konteks dakwah dan Jihad. Semangat egoisme, kepentingan pribadi, materialisme mampu dikalahkan dengan penegakan nilai-nilai Ilahiyah. Ridha Allah dan surgalah yang tertancap dalam hati, visi mereka bukan hawa nafsu belaka. Sehingga mampu melanggengkan dakwah bagi kehidupan mereka dan yang lainnya.

Itulah arah dakwah yang dilakukan Rasulullah bersama para pengikutnya hingga melahirkan tatanan masyarakat yang Islami dan negara Islam yang kokoh. Ada unsur pemikiran Islam, dan akidah Islamiyah yang beliau tanamkan kepada para pengikutnya melalui proses tarbiyah berkelanjutan. Tujuan dakwah yang mereka lakukan bukan karena duniawi semata namun, menggapai rida Allah dengan ikhlas dan sesuai dengan tuntunan Islam yang dibawa Rasulullah SAW. Alquran dan Sunah menjadi pedoman dalam mengembalikan kepada fitrah sebagai hamba Allah SWT. Wujud kasih sayang Rasulullah SAW kepada umatnya begitu luar biasa. Upaya beliau mampu membentuk kader yang memiliki pribadi Islam. Semangat tarbiyah Rasulullah mampu membentuk jamaah yang membina kader tegaknya daulah Islamiyah yang menerapkan seluruh ajarannya. Maka bila kita tak ingin kemaksiatan merajalela dakwah yang merupakan ajaran mulia harus dilanggengkan agar syariat Islam tegak secara total. Berdakwah bukan hanya dilakukan oleh seorang dai, semua anggota masyarakat apa pun yang kita ketahui tentang hukum syara’ harus disampaikan agar semakin banyak orang yang terdidik dengan aturan Islam dan hukum-hukum Allah melesat hingga tataran negara. Sebagaimana hadis riwayat Bukhari (“Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat”).


0 Comments

Leave a Reply