INTEGRASI NILAI-NILAI AKIDAH DALAM PEMBENTUKAN AKHLAK PADA TINGKAT SD/MI

Published by Buletin Al Anwar on

Moch. Syafri Ramadani

220101110105

Abstrak

Akidah Islam sangat penting bagi kehidupan masyarakat terkhusus untuk membentuk sebuah akhlak dan karakter dari seorang peserta didik tingkat SD/MI. Di zaman ini banyak sekali peserta didik yang merosot dari segi akhlaknya dan perlu adanya sebuah peningkatan pembelajaran akidah Islam untuk memberikan sebuah pendidikan tentang akhlak. Oleh sebab itu, dalam artikel ini akan membahas tentang integrasi nilai-nilai akidah dalam pembentukan akhlak pada tingkat SD/MI. Harapan orang tua juga sangat besar terhadap akhlak dari seorang anaknya dan begitu juga pendidik sangat berharap terhadap anak didiknya agar memiliki dan mengamalkan akhlak yang baik. Peran akidah dalam agama untuk mendefinisikan sikap dan perilaku yang kemudian disebut dengan etika, moral dan budi pekerti juga sangat signifikan. Tidak ada agama yang memberikan sebuah pengajaran yang jelek atau sikap buruk. Islam merupakan agama yang disepakati sebagai kumpulan agama-agama dari agama-agama yang mendahuluinya, terangkum dalam Alquran dan dijelaskan dalam Hadits Nabi. Islam juga merupakan agama yang mempunyai tujuan untuk membahagiakan dunia dan akhirat.

Kata Kunci : akidah, Islam, dan akhlak

Pendahuluan

Posisi akidah akhlak dalam sebuah kehidupan itu sangat penting dalam kehidupan umat muslim. Akidah akhlak ialah inti atau poros arah kehidupan manusia. Apabila akhlak baik, maka kehidupan materi dan rohani akan sejahtera dan tenteram. Tetapi, justru sebaliknya jika semangat Anda tidak baik, pasti tubuh bagian dalam dan luar Anda akan dirugikan. Oleh karena itu, akidah akhlak adalah kunci naik turunnya peradaban sebuah bangsa. Akidah adalah keyakinan akan terbebasnya rasa cemas dan ragu-ragu selama hati mengizinkan, sehingga mendatangkan ketenangan dalam jiwa. Sedangkan, arti lain dari akidah sendiri adalah keimanan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Apabila iman mencakup dari enam keyakinan atau disebut rukun iman, khususnya keyakinan terhadap: Allah, para malaikat, rasul-rasul Allah, Kitab-kitab yang diturunkan-Nya, hari akhir, dan Qada’ dan Qadar Allah.

Akidah merupakan keyakinan, keimanan, kepercayaan dan perwujudannya yang mendalam sehingga benar dalam melakukan perbuatan. Sedangkan dalam agama Islam sendiri akidah berarti keyakinan penuh terhadap keesaan Tuhan, di mana Tuhan adalah Dzat yang memegang kekuasaan tertinggi dan pengatur setiap sesuatu di alam semesta.

Aqidah diibaratkan seperti fondasi sebuah bangunan. Oleh karena itu, akidah harus dibentuk dan dibuat terlebih dahulu sebelum komponen lainnya. Akidah juga harus dibangun kokoh agar tidak rentan terhadap guncangan yang  menyebabkan runtuhnya bangunan. Bangunan yang disebutkan di sini adalah bangunan Islam yang lurus, lengkap dan sempurna. Akidah adalah misi yang diberikan Allah kepada seluruh Rasul-Nya. Aqidah dari awal sampai akhir tidak dapat berubah karena berubahnya nama, lokasi, atau karena perbedaan sebuah pendapat dalam suatu kelompok.[1]

Pembahasan

Pengertian Akidah

Makna akidah sendiri secara bahasa ialah dari kata ‘Aqada, Ya’qidu, Aqiidatan, yang memiliki arti perjanjian atau ikatan. Para ulama memberikan sebuah pengertian terkait akidah yaitu sesuatu yang terikat terhadapnya hati nurani. Arti akidah adalah sebuah janji atau keyakinan terhadap Allah swt. Lalu, secara istilah ini, akidah merupakan keyakinan utama atau mendasar yang harus dipertahankan oleh seseorang yang meyakininya. Akidah juga dapat dipakai oleh Islam maupun agama non Islam. Jadi ada suatu sebutan akidah Islam, akidah Kristen, akidah Yahudi dan akidah agama lainnya. Dengan cara ini, kita juga dapat menyimpulkan bahwa ada keyakinan yang benar atau jujur ​​dan ada pula yang sesat atau salah. Oleh karena itu, Aqidah Islam dapat dipahami sebagai keyakinan mendasar yang wajib dipegang teguh oleh setiap umat Islam (Muslim).

Apabila seseorang beriman dan berakidah kepada Islam, landasan awal untuk membangun akidah ialah keimanan kepada Allah sebagai Tuhan yang patut disembah, Yang Maha Esa, Pencipta dan Pengatur alam semesta. Asal usul segala sesuatu, termasuk  kewajiban menerapkan kewajiban-kewajibannya dalam setiap aspek kehidupan, baik yang berkaitan dengan ibadah atau muamalah yang juga erat kaitannya dengan pergaulan dengan makhluk hidup lainnya.[2]

Berakidah merupakan fondasi awal yang digunakan untuk membentuk sebuah akhlak-akhlak yang terpuji. Dalam Al-Quran surah Ali Imran ayat 31 yang berbunyi :

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Artinya: Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.

Ayat di atas menjelaskan tentang perintah bahwasanya kita diperintahkan untuk mengikuti Allah swt. Bagi orang yang mencintai-Nya, maka diperintahkan untuk mengikuti-Nya. Dalam hal ini akidah Islam mengajarkan kita untuk selalu mengesakan Allah SWT yang termasuk dalam konsep ketauhidan.

Penanaman Akhlak Terpuji

Dijelaskan dalam ajaran agama Islam, akhlak menduduki posisi yang sangat urgen. Dalam Al-Quran bisa ditemui terdapat kurang lebih 1.500 ayat yang membicarakan terkait akhlak. Belum lagi terhitung hadis-hadis yang membicarakan tentang akhlak. Pembelajaran akhlak di dalam agama Islam selaras dengan fitrah seorang manusia. Kebahagiaan sejati dan bukan segalanya akan tercapai jika seseorang mengikuti aturan-aturan yang baik yang diajarkan dalam Al-Quran dan hadis yaitu dua sumber akhlak di dalam agama Islam. Akhlak dalam Islam yaitu sejatinya menjaga eksistensi manusia sebagai makhluk terhormat yang sesuai dengan fitrah seorang manusia. Oleh sebab itu, membangun moralitas sangat perlu dilakukan dalam kehidupan yang sehari-hari.

Akhlak menurut bahasa ialah berasal dari sebuah bahasa Arab yaitu (خلق) khuluqun yang berarti adalah budi pekerti, tabiat, atau tingkah laku. Akhlak sendiri adalah sebuah kata yang berbentuk mufrad. Di dalam kamus besar Bahasa Indonesia, kata akhlak sendiri berarti tingkah laku, tabiat, dan kelakuan. Akhlak merupakan gambaran sebuah kondisi yang menetap dan bertempat tinggal di dalam jiwa. Setiap perilaku dan tingkah laku yang sumbernya berasal dari akhlak itu tidak memerlukan proses merenung atau berpikir.

Sedangkan akhlak menurut istilah, ada beberapa pendapat di antaranya:

  1. Imam Ghazali

Menurutnya, akhlak yaitu sebuah sifat yang tertancap dan tertanam dalam jiwa yang menyebabkan timbulnya perbuatan-perbuatan dengan mudah, tanpa memerlukan pertimbangan dan pemikiran.

  1. Ibrahim Alis

Menurutnya, akhlak yaitu sebuah sifat yang tertancap dalam jiwa, yang kemudian dengannyalah lahir berbagai macam perbuatan, buruk atau baik, dan tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan.

  1. Abdul Karim Zaidan

Menurutnya, Akhlak terdiri dari sifat-sifat dan nilai-nilai yang tertancap kuat dalam jiwa, dengan ringan dan beratnya seseorang dapat ternilai apakah perbuatannya itu buruk atau baik, lalu memilih untuk melaksanakannya atau meninggalkannya.

Menurut ketiga definisi di atas, akhlak adalah suatu sifat yang tertancap dalam dalam jiwa manusia, terwujud secara alami apabila ditangani, tanpa adanya pemikiran atau pertimbangan terlebih dahulu, maupun dorongan dari luar.[3]

Ada beberapa akhlak yang perlu ditanamkan pada anak tingkat SD/MI, di antaranya sebagai berikut:

  • Taat dan patuh terhadap Allah SWT

Allah SWT merupakan Tuhan yang harus disembah bagi setiap makhluk yang berada di dunia ini. Kemudian, semesta jagat raya ini diciptakan Allah SWT untuk memenuhi setiap kebutuhan manusia. Tumbuhan dengan warna yang berbeda, segala jenis buah, seluruh hewan, dan lingkungan ini tidak lain hanya untuk manusia.

Bagaimana cara menaati Allah SWT? Di bawah ini ada beberapa hal perilaku dan sikap yang bisa kita laksanakan untuk mengungkapkan ketaatan kita terhadap Allah SWT dan ungkapan rasa syukur atas anugerah makanan yang tak ada habisnya:

  1. Melaksanakan salat tepat waktu dan lebih baik jika dilakukan secara bersama dan berjamaah.
  2. Melakukan puasa, baik puasa di bulan Ramadhan, maupun puasa-puasa sunah.
  3. Memberikan infak, bersedekah, dan mengeluarkan zakat
  4. Selalu ingat terhadap Allah SWT dengan berdoa setiap saat, tidak hanya setelah selesai berdoa
  5. Mengonsumsi makanan yang diterima pada jalan yang baik yang diridai Allah swt.
  6. Bertingkah laku yang baik dan islami dengan sesuai petunjuk Allah SWT dan Rasul-Nya.
  • Taat dan patuh terhadap Rasul

Taat terhadap rasul artinya mengikuti segala ajaran yang diberikannya. Dalam hal ini, itulah risalah Islam. Semua rasul diutus oleh Allah SWT membawa risalah agama Islam. Setelah percaya pada ajaran-Nya, kita harus  dan wajib mengikuti dan menerapkannya dalam praktik. Tidak ada gunanya jika kita hanya meyakininya saja tanpa mau mengamalkannya. Misalnya tidak shalat, enggan mengeluarkan zakat, dan tidak mau bershodaqoh.

Adapun cara kita untuk menaati Rasul, antara lain:

  1. Mengetahui tentang riwayat kehidupan Rasul, terutama terhadap Rasulullah saw.
  2. Membenarkan terhadap berita yang dibawa dan disampaikan oleh Rasul.
  3. Mempraktekkan berita dan kabar yang disampaikan oleh Rasul.
  4. Membela dan mencintai Rasul, terutama terhadap Rasulullah saw.
  5. Meneladani sifat-sifat Rasul.
  6. Menghidup-hidupkan Sunnah Rasul saw.

Selain itu, ada yang dikhususkan sebagai bentuk perintah kepada kita supaya untuk selalu memperbanyak selawat terhadap Nabi Muhammad SAW, yang bertujuan agar kelak nanti di akhirat mendapatkan syafaatnya.

  • Taat dan patuh terhadap Orang Tua

Orang tua memberikan kontribusi yang sangat besar terhadap kehidupan anaknya. Apabila harta yang dimiliki anak dipakai untuk memberikan balasan rasa syukur orang tuanya, belum tentu sebanding dengan pahala dan pengorbanan orang tua. Orang tua ialah manusia yang berjasa bagi kita, mereka rela melakukan suatu apa pun demi bahagianya sang anak.

Ada beberapa tindakan untuk menaati terhadap orang tua, antara lain:

  1. Selalu menuruti perintahnya, selama itu tidak bertentangan oleh agama.
  2. Sopan santun kepada beliau berdua.
  3. Berbicara dengan sopan dan tidak memakai nada yang tinggi.
  4. Selalu memberikan dan menampakkan wajah yang bahagia dan ceria kepada beliau.
  5. Tidak melaksanakan perbuatan yang dilarang oleh kedua orang tuanya.
  6. Merawat kedua orang tuanya ketika sedang sakit.
  • Taat dan patuh terhadap Guru

Selain orang tua, guru merupakan manusia yang sangat berjasa juga. Sampai-sampai ada sebuah kata bahwa guru itu adalah orang tua kedua setelah orang tua yang di rumah. Guru memberikan ilmunya kepada muridnya, memberikan pengetahuannya terhadap anak didiknya. Guru juga rela berkorban apa pun demi anak didiknya. Maka dari itu, tidak pantas bagi kita menyakiti hati guru, lebih-lebih sampai memukulnya.

Berikut ada beberapa cara untuk taat dan hormat serta patuh kepada guru, antara lain:

  1. Memperhatikan ketika guru memberikan arahan.
  2. Mengerjakan seluruh tugas yang diberikan guru.
  3. Melaksanakan semua nasehat guru.
  4. Sapalah guru ketika kamu melihatnya.
  5. Mencium tangan guru sambil berjabat tangan.
  6. Berterima kasih kepada gurumu.
  7. Berdiri untuk menyambut guru.
  8. Bertanya dengan sopan tentang hal-hal yang tidak kamu mengerti.
  9. Jangan mendahului atau menyela pembicaraan.[4]

Akidah dan akhlak selalu dihubungkan satu sama lain sebagai satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Sesungguhnya sebelum melakukan suatu kebajikan, terlebih dahulu harus ada dalam jiwa dan hati. Semakin baik akidah keimanan seseorang maka semakin baik akhlak yang diterapkannya dalam kehidupan sehari-harinya. Sebaliknya, semakin kurang percaya diri seseorang terhadap akidahnya, maka akhlaknya akan semakin menyerupai akidah akhlak dalam kehidupan sehari-harinya.[5]

Kesimpulan

Pendidikan agama sangat penting, pembentukan akhlak yang sangat baik pada tingkat dasar erat kaitannya dengan pendidikan agama. Melalui pembelajaran agama, siswa dikenalkan dengan nilai-nilai agama, prinsip-prinsip moral, dan nilai-nilai yang mendasari perilaku yang baik. Pelatihan moral dasar tingkat SD/MI merupakan langkah awal pelatihan moral dasar bagi siswa. Memasukkan nilai-nilai agama pada tingkat ini membantu siswa memahami konsep-konsep dasar seperti kejujuran, kebaikan, kepedulian, dan tanggung jawab.

Upaya bersama, integrasi nilai-nilai agama di tingkat SD/MI merupakan upaya bersama antara sekolah, guru, orang tua dan masyarakat. Semua pihak harus berperan aktif untuk memastikan  siswa mendapatkan pendidikan agama yang berkualitas dan menerapkan nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari. Memasukkan nilai-nilai agama ke dalam pembinaan akhlak di tingkat SD/MI merupakan langkah penting dalam membangun generasi  berakhlak mulia, berlandaskan ajaran agama, dan mau berkontribusi positif bagi masyarakat.

Nilai-nilai akidah tersebut akan dapat membantu pembentukan akhlak yang baik pada diri anak, sehingga menjadi pribadi yang bertanggung jawab, jujur, peduli terhadap sesama, dan memiliki rasa ketaqwaan kepada Allah SWT. Pengajaran nilai-nilai tersebut harus dilakukan dengan pendekatan sesuai usia supaya mereka dapat memahami dan menginternalisasikan nilai-nilai tersebut secara utuh.

Daftar Pustaka

Dedi Wahyudi, M. (2017). Pengantar Akidah Akhlak dan Pembelajarannya. Yogyakarta: Lintang Rasi Aksara Books.

Dr. H. Muhammad Hasbi, M. A. (2020). AKHLAK TASAWUF (Solusi Mencari Kebahagiaan dalam Kehidupan Esoteris dan Eksoteris). Yogyakarta: TrustMedia Publishing.

Fauzi, A. (2020). AKIDAH AKHLAK MTs KELAS VII. Jakarta: Direktorat KSKK Madrasah, Direktorat Jenderal Pendidikan Islam, Kementerian Agama RI.

Ginanjar, M. H. (2017). PEMBELAJARAN AKIDAH AKHLAK DAN KORELASINYA DENGAN PENINGKATAN AKHLAK AL-KARIMAH PESERTA DIDIK. jurnal Edukasi Islami Jurnal Pendidikan Islam, 101-124.

Mujahiddin, K. (2020). AKIDAH AKHLAK MI KELAS III. Jakarta: Direktorat KSKK Madrasah, Direktorat Jenderal Pendidikan Islam, Kementerian Agama RI.

[1] Dedi Wahyudi, M. (2017). Pengantar Akidah Akhlak dan Pembelajarannya. Yogyakarta: Lintang Rasi Aksara Books. Hal 2.

[2] Fauzi, A. (2020). AKIDAH AKHLAK MTs KELAS VII. Jakarta: Direktorat KSKK Madrasah, Direktorat Jenderal Pendidikan Islam, Kementerian Agama RI. Hal 8.

[3] Dr. H. Muhammad Hasbi, M. A. (2020). AKHLAK TASAWUF (Solusi Mencari Kebahagiaan dalam Kehidupan Esoteris dan Eksoteris). Yogyakarta: TrustMedia Publishing. Hal 4.

[4] Mujahiddin, K. (2020). AKIDAH AKHLAK MI KELAS III. Jakarta: Direktorat KSKK Madrasah, Direktorat Jenderal Pendidikan Islam, Kementerian Agama RI. Hal 34-39.

[5] Ginanjar, M. H. (2017). PEMBELAJARAN AKIDAH AKHLAK DAN KORELASINYA DENGAN PENINGKATAN AKHLAK AL-KARIMAH PESERTA DIDIK. Jurnal Edukasi Islami Jurnal Pendidikan Islam, 109


0 Comments

Leave a Reply